Teknologi swakemudi kembali jadi arena penting dalam persaingan mobil modern, dan Xpeng tengah mendorong pendekatan yang terasa makin matang. Dalam uji langsung di jalanan sekitar Bandara Internasional Beijing, sistem VLA 2.0 pada Xpeng The Next P7 menunjukkan cara kerja yang lebih natural, lembut, dan tertata saat berhadapan dengan lalu lintas yang ramai.
Yang menarik, sistem ini tidak hanya mengandalkan peta HD seperti pendekatan lama. Xpeng menggabungkan persepsi, pemikiran, dan tindakan melalui sistem berbasis kamera untuk membaca kondisi jalan secara lebih nyata dan alami.
Mengandalkan tiga chip AI buatan Xpeng
Untuk menopang kemampuan itu, The Next P7 dibekali tiga chip AI Turing yang dikembangkan Xpeng sendiri. Setiap chip punya daya proses hingga 2.250 TOPS, yang menjadi fondasi utama bagi kinerja sistem pengemudi cerdas ini.
Xpeng menargetkan pengembangan Voice, Language, Action atau VLA 2.0 ini akan diterapkan secara global pada 2027. Menurut Senior Manager of Intelligent Cockpit Product Operations Xpeng, Yin Ruizhe, sistem ini dapat memprediksi kondisi jalan di depan seperti pengemudi yang sangat berpengalaman.
Diuji langsung di jalan ramai Beijing
Saat dicoba, unit The Next P7 awalnya berjalan dalam mode manual tanpa fitur mengemudi pintar. Begitu memasuki ruas yang lebih ramai, sistem VLA 2.0 diaktifkan agar respons mobil bisa dirasakan langsung di kondisi nyata.
Mobil sedan empat pintu itu kemudian melaju dengan stabil di jalan yang rata-rata memiliki batas kecepatan 70 km/jam. Saat berhadapan dengan lampu merah di persimpangan, mobil berhenti dengan halus dan kembali bergerak tanpa sentakan.
Di persimpangan berikutnya, sistem juga menyalakan lampu sein kiri sendiri sesuai rute yang sudah ditentukan. Saat lampu hijau menyala, mobil mengurangi kecepatan, berbelok ke kiri, dan sempat memberi ruang kepada kendaraan lain sebelum memastikan manuver aman dilakukan.
Membaca kondisi jalan secara natural
Pengujian berlanjut ke ruas jalan yang permukaannya tidak rata karena deretan lubang pengecekan gorong-gorong atau manhole. Pada bagian ini, sistem tampak melambatkan laju mobil sehingga ketidaknyamanan saat melewati permukaan jalan yang buruk bisa ditekan.
Karakter yang paling terasa dari VLA 2.0 adalah cara mobil bergerak yang lembut dan terprediksi. Akselerasi, pengereman, dan gerak kemudi berlangsung halus, sehingga mobil terasa seperti dikemudikan oleh pengemudi berpengalaman.
Masih memerlukan pantauan pengemudi
Meski menunjukkan performa impresif, sistem ini belum bekerja sebagai pengemudi otonom penuh. Layar infotainment dan HUD beberapa kali menampilkan tanda kuning berkedip, sementara instruktur meminta pengemudi menyentuh lingkar kemudi sebagai penanda bahwa sistem tetap berada dalam pengawasan manusia.
Artinya, VLA 2.0 masih masuk kategori supervised. Xpeng menyebut tahap kemudi otonom penuh tetap bergantung pada persetujuan regulasi global, meski mereka memperkirakan kemampuan itu bisa menjadi kenyataan dalam 1 hingga 3 tahun ke depan.
Bagi Xpeng, pengembangan ini menjadi bagian dari dorongan besar mereka dalam teknologi swakemudi. Pada akhirnya, VLA 2.0 diposisikan bukan sekadar sebagai fitur bantuan mengemudi, tetapi sebagai langkah menuju sistem yang mampu membaca jalan, merespons situasi, dan bergerak dengan rasa yang lebih manusiawi.
Source: otodriver.com