Bukan 2009 Atau 2020, Tahun Terburuk Penjualan Mobil Ternyata Jauh Lebih Lama Terjadi

Banyak orang mungkin langsung mengira 2009 atau 2020 sebagai tahun terburuk untuk penjualan mobil di Amerika Serikat. Namun, penurunan terdalam sejak 1960-an ternyata terjadi pada 1982, ketika total penjualan mobil hanya mencapai 7.978.487 unit.

Angka itu muncul di tengah resesi yang menekan daya beli banyak keluarga. Kenaikan harga mobil, suku bunga tinggi, dan pengangguran membuat banyak pembeli menjauh dari showroom, sementara kelompok berpenghasilan tinggi tetap bisa belanja.

Pasar mobil jatuh, tetapi tidak semua segmen terpukul sama

Empat pemain besar domestik sama-sama merasakan tekanan besar pada 1982. General Motors turun 7,4 persen dari 1981, Ford turun 2,5 persen, Chrysler turun 5,2 persen, dan Volkswagen of America merosot 43,7 persen.

Kondisi ekonomi saat itu membuat mobil baru sulit dijangkau oleh banyak pembeli biasa. Harga mobil naik 33 persen sejak 1979, dan GM bahkan melaporkan kenaikan rata-rata 500 dolar pada model-modelnya menjelang 1982.

Dampaknya terasa paling berat di kalangan pekerja kelas menengah dan buruh. Banyak dari mereka kehilangan pekerjaan atau tidak lagi punya penghasilan cukup untuk mengejar harga kendaraan yang terus naik.

Mobil kecil pun ikut terseret, sementara merek mewah bertahan

Menariknya, penurunan tidak menimpa semua jenis kendaraan secara merata. Pembeli dengan daya beli rendah bahkan kesulitan membeli mobil ekonomi yang lebih kecil, sehingga penjualannya ikut turun.

Di sisi lain, merek premium justru mencatat pertumbuhan pada tahun yang sama. Mercedes-Benz, BMW, Volvo, Jaguar, dan merek mewah lain melihat penjualan naik di tengah resesi.

Harvey Heinbach dari Merrill Lynch mengatakan kepada New York Times pada 1983 bahwa orang kaya tidak terlalu terpukul. Ia menjelaskan bahwa mereka yang tidak khawatir kehilangan pekerjaan tetap berbelanja, sementara pengangguran membuat banyak orang lain ketakutan.

Pelajaran lama yang terasa relevan sekarang

Kondisi itu disebut mirip dengan situasi pasar otomotif beberapa tahun terakhir. Harga kendaraan naik karena tarif dan inflasi, dan diperkirakan keluarga kini membutuhkan pendapatan 100.000 dolar untuk bisa membeli mobil baru.

Harga mobil bekas juga terus naik, sehingga pilihan yang tampak lebih murah tidak selalu benar-benar terjangkau. BMW mencatat kenaikan penjualan pada 2025, sementara merek seperti Mazda mengalami penurunan ketika mobil komuter mereka makin sulit dijangkau banyak konsumen.

Beban kepemilikan juga makin berat karena suku bunga dan premi asuransi ikut naik. Dalam situasi seperti ini, membeli mobil baru bukan lagi soal memilih model, tetapi soal apakah anggaran rumah tangga masih mampu menanggung biayanya.

Meski begitu, sebagian pakar menilai 2026 tetap bisa menjadi waktu yang baik untuk membeli mobil baru jika pembeli cermat. Soalnya, sejarah menunjukkan pasar mobil bisa anjlok bukan karena satu faktor saja, melainkan karena kombinasi harga, kredit, dan kondisi kerja yang menekan konsumen dari berbagai arah.

Terkait