Bebas Pajak Mobil Listrik Belum Mengangkat Komponen Lokal, Pasar Justru Didominasi Impor

Insentif pajak untuk mobil listrik memang berhasil mendorong adopsi kendaraan ramah lingkungan di pasar domestik. Namun, di balik kenaikan penjualan itu, industri komponen lokal belum ikut terdongkrak secara berarti.

Masalah utamanya bukan lagi soal jumlah mobil listrik yang beredar, melainkan siapa yang benar-benar menikmati nilai tambah dari pertumbuhan itu. Sejauh ini, manfaat ekonomi dinilai masih lebih banyak mengalir ke kendaraan impor atau model dengan kandungan lokal yang rendah.

Pemerintah pusat bahkan masih meminta pemerintah daerah memberi keringanan pajak bagi kendaraan listrik, terutama lewat pembebasan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor dan Pajak Kendaraan Bermotor. Imbauan itu muncul setelah penerapan aturan dalam Permendagri Nomor 11 Tahun 2026 dinilai belum memberi kepastian soal status bebas pajak daerah untuk kendaraan listrik.

Di lapangan, perubahan aturan yang berulang membuat arah kebijakan kendaraan listrik terlihat belum sepenuhnya stabil. Sejak Peraturan Presiden Nomor 55 Tahun 2019 tentang percepatan kendaraan bermotor listrik berbasis baterai diterbitkan, sejumlah kebijakan turunan terus mengalami penyesuaian, mulai dari skema pajak berbasis emisi rendah, aturan perakitan lokal, hingga pembebasan impor kendaraan listrik utuh atau completely built up.

Perubahan juga terjadi pada ketentuan Tingkat Komponen Dalam Negeri dan insentif fiskal seperti Pajak Pertambahan Nilai serta Pajak Penjualan atas Barang Mewah. Target dan peta jalan kendaraan listrik nasional pun ikut direvisi berkali-kali, meski populasi kendaraan listrik di pasar domestik tetap tumbuh.

Bagi ekonom, ukuran keberhasilan kebijakan tidak cukup berhenti pada banyaknya mobil listrik di jalan. Tolok ukurnya harus melihat seberapa besar nilai tambah yang masuk ke industri dalam negeri, termasuk manufaktur, riset, dan pengembangan teknologi.

Insentif fiskal yang ditanggung pemerintah, seperti yang diatur dalam PMK Nomor 12 Tahun 2025, memang ditujukan untuk sektor dengan efek pengganda tinggi. Tetapi dalam praktiknya, efek itu belum terasa kuat pada industri komponen lokal.

Yang lebih terlihat justru dorongan terhadap penjualan kendaraan listrik impor atau kendaraan dengan kandungan lokal minim. Rantai manfaat ekonominya pun cenderung berhenti di distribusi, pembiayaan, dan layanan purna jual, sementara sektor produksi komponen belum memperoleh dampak yang signifikan.

Padahal, Indonesia memiliki basis industri otomotif yang cukup besar. Data Kementerian Perindustrian mencatat ada lebih dari 30 pabrikan kendaraan roda empat dengan kapasitas produksi mencapai jutaan unit per tahun, didukung investasi ratusan triliun rupiah dan puluhan ribu tenaga kerja langsung.

Namun, pasar otomotif domestik belum kembali ke kapasitas optimal dalam beberapa tahun terakhir. Dalam kondisi pasar yang stagnan, insentif mobil listrik berisiko hanya mempercepat adopsi teknologi tanpa memperkuat struktur industri nasional.

Tekanan itu juga dirasakan pelaku industri komponen. Mereka menyebut belum mendapat manfaat langsung dari tumbuhnya pasar kendaraan listrik, karena peluang masuk ke rantai pasok masih sangat terbatas.

Sebagian besar produsen komponen lokal juga belum memperoleh kontrak dalam proyek kendaraan listrik. Situasi ini membuat euforia pertumbuhan mobil listrik belum dibarengi strategi industrialisasi yang benar-benar matang.

Fokus kebijakan yang terlalu berat pada penjualan dinilai mengabaikan pembangunan ekosistem industri secara menyeluruh. Padahal, industri komponen lokal selama ini menjadi tulang punggung sektor otomotif nasional, baik dari sisi penyerapan tenaga kerja maupun kontribusi ekonomi.

Jika kondisi ini berlanjut, Indonesia berisiko hanya menjadi pasar bagi produk kendaraan listrik global. Ketergantungan impor akan makin besar dan dapat memberi tekanan pada neraca perdagangan.

Karena itu, kebijakan yang lebih konsisten dinilai diperlukan agar pertumbuhan kendaraan listrik juga mendorong penguatan industri dalam negeri. Insentif pun perlu dikaitkan lebih erat dengan penggunaan komponen lokal agar manfaat ekonominya tidak berhenti di permukaan.

Terkait