Harga BBM Naik, Mobil Listrik China Makin Menarik Di Tengah Krisis Energi Global

Kenaikan harga BBM dan gejolak di Timur Tengah sedang mengubah arah percakapan di pameran otomotif terbesar dunia. Di Beijing International Automotive Exhibition, isu penghematan biaya kini ikut menyaingi sorotan atas desain, performa mesin, dan fitur pintar, terutama untuk mobil listrik China.

Perubahan ini terasa di tengah pameran yang membentang di area 380.000 meter persegi dan menampilkan 1.451 kendaraan. Kendaraan energi baru atau NEV buatan China menjadi pusat perhatian, termasuk Formula S dari BYD, L9 Livis dari Li Auto, dan ES9 dari NIO.

Biaya jadi pertimbangan utama

Konsumen dan diler kini tidak hanya membicarakan tenaga mesin. Mereka juga menghitung konsumsi BBM, biaya listrik, dan kecepatan pengisian daya sebelum mengambil keputusan.

Jaroslaw Kochanowski, Direktur Pelaksana diler otomotif Polandia NeoDrive, mengatakan situasi politik saat ini membuat harga minyak dan gas naik tajam. Ia menilai kondisi itu belum menunjukkan tanda-tanda akan cepat mereda.

Menurut Badan Energi Internasional atau IEA, perang di Timur Tengah memicu krisis energi besar. Gangguan pasokannya disebut sebagai yang terbesar dalam sejarah pasar minyak global.

Kochanowski menilai banyak orang kini mencari cara menghemat uang. Dalam pandangannya, kendaraan listrik menjadi langkah logis berikutnya karena menawarkan biaya operasional yang lebih terjangkau.

Ia juga menyoroti rasa “kemandirian energi” yang ditawarkan kendaraan listrik. Pemilik rumah, kata dia, bisa memakai panel surya atap untuk mengisi daya kendaraan, meski biaya pemasangan perangkat surya masih mahal.

Daya tarik mobil listrik China menguat

Di China, harga bensin naik 3,8 persen secara tahunan pada Maret. Di saat yang sama, kendaraan listrik tetap menarik karena harga listrik masih rendah.

Seorang warga Beijing bermarga Wang, yang memiliki NIO, mengatakan biaya perjalanannya turun tajam setelah beralih dari mobil bensin. Mobil listriknya memakai 17 kWh per 100 kilometer dengan biaya sekitar 7 yuan atau sekitar 1 dolar AS, sedangkan mobil lamanya menghabiskan 9,2 liter bensin untuk jarak yang sama dengan nilai sekitar 78 yuan.

Data industri juga menunjukkan momentum yang kuat. Pada Maret, pengiriman NEV China mencapai 371.000 unit, lebih dari dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya.

Cui Dongshu, Sekretaris Jenderal China Passenger Car Association, mengatakan harga minyak yang tinggi memperbesar keunggulan biaya NEV secara signifikan. Ia menyebut kondisi itu memberi dorongan kuat bagi adopsi kendaraan listrik.

Ekspor ikut terdorong

Dorongan yang sama juga terlihat di pasar luar negeri. Zeekr mencatat rekor ekspor pada kuartal pertama 2026, sementara model Zeekr 7X mendapat minat kuat di Australia di tengah pasokan BBM yang ketat dan harga bensin tinggi.

Pabrikan global pun ikut mempercepat elektrifikasi. Volvo membawa EX90, Volkswagen memamerkan ID.ERA 9X, dan Nissan menampilkan NX8 di ajang yang sama.

Namun, harga murah bukan satu-satunya alasan konsumen melirik mobil listrik China. Seorang pengunjung muda dari Hungaria bernama George mengatakan kenaikan harga BBM bukan alasan utamanya tertarik pada kendaraan listrik, karena ia lebih memperhatikan performa berkendara dan teknologi yang ditawarkan.

Tantangan tetap besar

Di balik momentum itu, hambatan masih ada. Di banyak negara, jaringan pengisian daya masih terbatas, standar belum seragam, dan kekhawatiran soal jarak tempuh belum hilang.

Biaya pengisian publik di Polandia juga masih relatif tinggi. Kondisi itu membuat penghematan dibanding mobil bensin belum terlalu besar bagi sebagian pengguna.

Industri NEV China sendiri kini ditopang rantai pasok terintegrasi, biaya kompetitif, dan inovasi cepat. Pada 2025, produksi dan penjualan NEV di China sama-sama melampaui 16 juta unit, sementara NEV menyumbang lebih dari 50 persen penjualan mobil baru di pasar domestik.

Lang Xuehong dari China Automobile Dealers Association menilai permintaan global terhadap NEV China tidak cukup hanya ditopang harga minyak yang tinggi. Ia menekankan perlunya membawa ekosistem industri ke luar negeri, mulai dari pemasok baterai, komponen, rantai pasok lokal, hingga produksi setempat.

Source: voi.id
Exit mobile version