Rifat Sungkar Bongkar Teknik Mengemudi Halus, Rahasia BBM Lebih Irit Ada Di RPM Rendah

Teknik mengemudi yang halus kembali menjadi sorotan karena dinilai mampu memangkas konsumsi bahan bakar tanpa perlu ubahan besar pada kendaraan. Praktisi dan edukator otomotif Rifat Sungkar menegaskan bahwa efisiensi BBM sangat dipengaruhi oleh cara pengemudi mengelola tenaga mesin di jalan.

Ia menyampaikan penjelasan itu dalam acara PertaminaTalk di Menara Bank Mega pada Kamis (7/5/2026), seperti dilansir Detik Finance. Menurut Rifat, kebiasaan berkendara yang stabil dan tidak agresif bisa membantu mesin bekerja lebih ringan dan lebih efisien.

Efisiensi dimulai dari cara pengemudi memakai tenaga

Rifat menekankan bahwa penggunaan energi pada kendaraan berjalan seiring dengan besarnya tenaga yang diminta dari mesin. Semakin besar tenaga yang dikeluarkan, semakin besar pula energi yang terpakai.

Karena itu, ia menilai teknik menyetir kembali kepada penggunanya. Pengemudi yang sering melakukan akselerasi mendadak atau berkendara tidak stabil cenderung membuat konsumsi bahan bakar lebih boros.

RPM rendah, kecepatan tetap optimal

Salah satu langkah dasar untuk menghemat BBM adalah menjaga putaran mesin atau RPM tetap rendah, tetapi tetap pada kecepatan yang sesuai. Pada mobil manual, pemilihan gigi yang tepat menjadi kunci agar beban kerja mesin tidak berlebihan saat kendaraan melaju.

Rifat memberi contoh saat mobil berjalan 40 km/jam. Pada gigi 1, mobil memang masih bisa mencapai kecepatan itu, tetapi RPM dapat naik hingga 7.000.

Dengan gigi 2, RPM bisa turun ke sekitar 3.000. Bahkan dengan gigi 3, putaran mesin dapat berada di kisaran 2.000 RPM, sehingga pergerakan menjadi lebih efisien.

Stabilitas laju ikut menentukan boros atau hemat

Selain soal pengaturan gigi, stabilitas kecepatan juga berperan besar dalam efisiensi energi. Pengendara disarankan menyesuaikan laju kendaraan dengan kondisi jalan dan menghindari perubahan akselerasi yang terlalu mendadak.

Menurut Rifat, pola berkendara yang mengalir membuat mesin bekerja lebih ringan. Sebaliknya, gaya agresif dengan hentakan gas berulang justru memicu pemborosan.

Ia menyoroti kebiasaan pada motor matik yang sering boros saat gas diputar mendadak, misalnya ketika pengendara terburu-buru mengejar lampu merah. Pola seperti itu membuat konsumsi energi meningkat tanpa memberi manfaat efisiensi.

Stop-and-go jadi titik paling boros

Kondisi berhenti-jalan atau stop-and-go juga disebut sebagai momen paling berat bagi mesin. Saat kendaraan diam lalu mulai bergerak lagi, tenaga yang dibutuhkan jauh lebih besar dibanding saat kendaraan sudah melaju stabil.

Rifat menjelaskan bahwa beban awal itulah yang membuat energi besar terpakai. Setelah kendaraan bergerak, beban terasa lebih ringan dan kebutuhan tenaga berkurang.

Karena itu, menjaga jarak aman antar kendaraan menjadi penting dalam lalu lintas padat. Ruang yang cukup memungkinkan pengemudi tetap menjaga momentum dan tidak perlu berhenti total saat arus bergerak tersendat.

Ia menilai kebiasaan menghindari dead stop bisa membantu menekan pemborosan BBM. Dengan begitu, pengemudi masih bisa berakselerasi kembali tanpa harus memulai dari kondisi diam, yang biasanya paling menguras energi.

Terkait