Masyarakat yang memakai QR Code untuk membeli BBM subsidi Pertalite dan Biosolar diminta tidak membiarkan kode digital itu dipakai terus-menerus tanpa pengecekan. Pertamina Patra Niaga menilai reset berkala perlu dilakukan agar data lebih aman dan kuota BBM tidak disalahgunakan pihak lain.
Imbauan ini muncul di tengah keluhan warga di Kupang yang kesulitan mengisi BBM subsidi di sejumlah SPBU. Kondisi itu dipicu kuota yang sudah melewati batas, padahal pemilik QR Code belum melakukan pembelian.
Area Manager Comm Rel & CSR Pertamina Patra Niaga Wilayah Jatimbalinus, Ahad Rahedi, mengatakan reset QR Code subsidi tepat secara berkala disarankan untuk mencegah penyalahgunaan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Ia juga menyebut ada kemungkinan QR Code dipakai orang lain, termasuk saat kendaraan sudah dijual.
Cara reset QR Code
Reset QR Code bisa dilakukan melalui situs MyPertamina atau dengan meminta bantuan petugas di SPBU. Pertamina menetapkan batas reset hanya satu kali dalam satu hari, sehingga pengguna perlu menyesuaikan jika ingin melakukan pembaruan kode.
Jika mengalami kendala, masyarakat bisa menyampaikan masalah tersebut ke petugas terkait atau ke Pertamina contact center di 135. Setelah memperoleh QR Code yang baru, warga juga diminta tidak sembarangan memberikan barcode kepada orang lain.
Peringatan itu menjadi penting karena penyalahgunaan BBM subsidi masih ditemukan di lapangan. Polda NTT sebelumnya membongkar kasus penyalahgunaan BBM subsidi, dan salah satu modusnya adalah memakai QR Code milik orang lain.
Dalam kasus tersebut, 40 orang berpotensi menjadi tersangka. Temuan itu memperkuat alasan mengapa reset berkala dan pengendalian akses QR Code dianggap perlu untuk menjaga agar kuota subsidi tetap digunakan oleh pihak yang berhak.
Penggunaan QR Code memang dirancang untuk membantu penyaluran BBM subsidi lebih tertib. Namun tanpa pengawasan dari pemiliknya, kode digital ini bisa menjadi celah untuk penyalahgunaan di SPBU.
