Ford Gandeng CATL Bangun Pabrik Baterai Di Michigan, AS Terpaksa Bergantung Pada China

Ford semakin dekat menuntaskan proyek baterai kendaraan listrik paling penting dalam sejarah domestiknya dalam lima dekade terakhir. Di Marshall, Michigan, perusahaan itu membangun BlueOval Battery Park Michigan senilai US$3 miliar bersama Contemporary Amperex Technology Co Ltd atau CATL asal China.

Pabrik tersebut dijadwalkan mulai memproduksi baterai kendaraan listrik dalam beberapa bulan mendatang. Kehadiran proyek ini langsung menjadi sorotan karena terjadi di tengah ketegangan politik dan keamanan antara Amerika Serikat dan China, dua negara yang juga saling berebut pengaruh di industri kendaraan listrik.

Skema lisensi, bukan kepemilikan teknologi penuh

Kerja sama Ford dan CATL memakai skema lisensi yang membuat Ford tetap memegang kendali atas lahan, bangunan, dan peralatan. Di sisi lain, CATL menyuplai teknologi baterai lithium besi fosfat yang akan dipakai di fasilitas tersebut.

Model ini dianggap penting karena Ford tidak perlu memulai semuanya dari nol. Lisa Drake, eksekutif Ford, menyebut pengembangan internal tanpa bantuan teknologi luar akan memakan waktu jauh lebih lama, bahkan bisa mencapai satu dekade untuk mengejar ketertinggalan.

Tekanan kompetisi dari China

Jim Farley menegaskan bahwa Ford tidak ingin memberi ruang terlalu besar bagi pesaing China di pasar domestik Amerika Serikat. Namun, di saat yang sama, Ford tetap membuka kemungkinan memperluas kemitraan teknologi dengan mitra China untuk mempercepat langkah perusahaan.

CATL juga berupaya meredam kekhawatiran publik di AS. Manajemen perusahaan menegaskan bahwa struktur bisnis mereka independen dari pengaruh politik pemerintah Tiongkok dan menyatakan perjanjian lisensi dengan Ford telah sesuai dengan hukum serta peraturan Amerika Serikat.

Keamanan nasional ikut disorot

Masuknya teknologi China ke sektor strategis ini memicu perhatian Gedung Putih. Juru bicara Gedung Putih, Kush Desai, menegaskan bahwa upaya menarik investasi asing tidak berarti Amerika Serikat akan mengorbankan keamanan nasional.

Robin Zeng, CEO CATL, ikut menanggapi kekhawatiran soal penyalahgunaan teknologi baterai. Ia menyindir bahwa sel baterai yang diproduksi CATL tidak punya kemampuan untuk dipakai dalam kegiatan mata-mata.

China tetap sulit dihindari dalam baterai EV

Bill Russo, analis otomotif, menilai rantai pasok China terlalu dominan untuk diabaikan dalam masa depan kendaraan listrik. Ia mengatakan tidak ada jalan menuju mobilitas listrik tanpa melibatkan rantai pasok China, terutama karena negeri itu menguasai sekitar 80 persen kapasitas baterai global.

Pandangan itu memperlihatkan dilema yang dihadapi produsen mobil Amerika. Di satu sisi, ada kebutuhan untuk mengejar ketertinggalan teknologi; di sisi lain, ada kekhawatiran besar soal ketergantungan pada pemasok dari China.

Dampak ekonomi untuk Marshall

Bagi Marshall, proyek ini membawa harapan baru setelah kota tersebut mengalami penyusutan pendapatan akibat hilangnya ribuan lapangan kerja. James Durian, CEO Marshall Area Economic Development Alliance, mengatakan pertumbuhan penduduk yang stagnan membuat pendapatan menyusut dan layanan publik ikut tertekan.

Durian bahkan menyebut Marshall sempat berada di ambang kehancuran ekonomi sebelum proyek besar ini datang. Derek Perry, manajer kota Marshall, melihat pabrik baterai tersebut sebagai warisan jangka panjang yang dapat membuka peluang bagi generasi berikutnya.

Ia juga berharap kehadiran fasilitas itu bisa menahan arus migrasi usia produktif dari kota tersebut. Saat ini, para insinyur dari China sudah berada di lokasi untuk memberikan pelatihan teknis kepada karyawan Ford sebelum operasional penuh dimulai.

Penolakan warga dan kekhawatiran lingkungan

Di balik manfaat ekonomi, proyek ini juga memunculkan protes dari sebagian warga. Barry Wayne Adams, seorang demonstran lokal, menolak proyek itu karena alasan lingkungan dan hilangnya sekitar 3.000 hektare lahan pertanian produktif di wilayah tersebut.

Ia juga menyoroti kaitan CATL dengan entitas politik di China sebagai alasan penolakannya. Perdebatan itu menunjukkan bahwa proyek besar ini bukan hanya soal industri baterai, tetapi juga menyentuh isu lahan, lingkungan, dan sensitivitas geopolitik yang masih kuat di Amerika Serikat.

Terkait