Denza B8 Tantang Takhta Land Cruiser 300, Lebih Murah Rp 1 Miliar Tenaganya Malah Dobel

Denza B8 muncul sebagai penantang serius di kelas SUV premium off-road, bukan karena nama besarnya, melainkan karena angka spesifikasinya. SUV PHEV buatan BYD itu diperkirakan masuk Indonesia dengan banderol Rp 1,1 hingga 1,5 miliar, sementara Toyota Land Cruiser 300 saat ini dijual mulai Rp 2 miliar sampai Rp 2,5 miliar.

Selisih harganya bisa mendekati Rp 1 miliar, tetapi tenaga yang ditawarkan justru bergerak ke arah sebaliknya. Denza B8 membawa output gabungan 578 PS dan 760 Nm, hampir dua kali lipat dibanding Land Cruiser 300 diesel yang berada di angka 309 PS dan 700 Nm.

Perbandingan ini menarik karena keduanya bermain di wilayah yang sama, yakni SUV besar dengan kemampuan melibas berbagai kondisi jalan. Bedanya, Land Cruiser 300 datang dengan reputasi puluhan tahun, sedangkan Denza B8 mengandalkan pendekatan elektrifikasi, performa tinggi, dan teknologi yang lebih baru.

Di atas kertas, Denza B8 juga lebih besar secara fisik. Panjangnya mencapai 5.195 mm, lebih panjang 210 mm dari Land Cruiser 300 yang memiliki panjang 4.985 mm.

Lebarnya pun sedikit unggul, yakni 1.990 mm berbanding 1.980 mm. Wheelbase Denza B8 mencapai 2.920 mm, sementara Land Cruiser 300 berada di 2.850 mm.

Bobot Denza B8 tercatat sekitar 3.000 kg, lebih berat dari Land Cruiser 300 yang berada di kisaran 2.500 kg. Meski lebih berat, B8 justru mencatat akselerasi 0-100 km/jam dalam 4,8 detik, sedangkan Land Cruiser 300 diesel berada di kisaran 8-9 detik.

Harga dan tenaga jadi sorotan utama

Untuk pasar Indonesia, Denza B8 belum memiliki harga resmi. Namun dengan acuan harga resmi di Australia mulai AU$91.000 dan proyeksi pajak impor CBU, estimasi harganya berada di rentang Rp 1,1 hingga 1,5 miliar.

Di sisi lain, Land Cruiser 300 sudah mapan di pasar dengan harga Rp 2 miliar hingga Rp 2,5 miliar, tergantung varian dan kondisi pasar. Bahkan, unitnya masih identik dengan masa tunggu yang panjang.

Perbedaan harga itu membuat duel keduanya tidak lagi sekadar soal merek. B8 mencoba menawarkan paket yang lebih agresif dari sisi performa, ukuran, dan fitur, sementara Land Cruiser 300 mengandalkan kepercayaan pasar dan ketahanan yang sudah teruji.

Efisiensi dan jarak tempuh

Keunggulan lain Denza B8 hadir lewat sistem plug-in hybrid. SUV ini memiliki mode listrik murni hingga 100 km berdasarkan WLTP, serta total jarak tempuh 905 km.

Land Cruiser 300 tidak memiliki mode listrik murni. Dalam kondisi tangki penuh, jarak tempuhnya diperkirakan berada di kisaran 600-700 km.

Konsumsi bahan bakar Denza B8 di mode hybrid disebut sekitar 10-12 liter per 100 km. Land Cruiser 300 berada di kisaran 12-15 liter per 100 km.

Bagi pengguna harian di perkotaan yang menempuh jarak di bawah 100 km, Denza B8 secara teori bisa lebih sering berjalan tanpa mengonsumsi bensin jika diisi daya setiap malam. Land Cruiser 300 tidak menawarkan skenario operasional seperti itu karena tetap mengandalkan sistem konvensional 4WD.

Hitungan biaya operasional

Dengan asumsi harga BBM Pertamax Rp 12.300 per liter, tarif listrik rumah tangga Rp 1.500 per kWh, jarak harian 80 km, dan hari kerja 250 hari per tahun, selisih biaya operasional keduanya cukup besar. Untuk Land Cruiser 300 diesel dengan konsumsi 12 liter per 100 km, biaya BBM diperkirakan mencapai Rp 35.424.000 per tahun atau Rp 177.120.000 dalam lima tahun.

Pada Denza B8, skenario penggunaan 80 km per hari dalam mode listrik dan perjalanan akhir pekan dalam mode hybrid menghasilkan biaya tahunan sekitar Rp 8.880.000. Dalam lima tahun, totalnya diperkirakan sekitar Rp 44.400.000.

Artinya, penghematan BBM saja bisa mencapai sekitar Rp 132.720.000 dalam lima tahun. Belum termasuk potensi penghematan pajak tahunan, karena sebagai PHEV, Denza B8 diperkirakan mendapat keringanan PKB yang signifikan dibanding Land Cruiser 300 yang bisa mencapai Rp 20-35 juta per tahun tergantung varian dan wilayah.

Dengan asumsi selisih pajak konservatif Rp 15 juta per tahun, penghematan tambahan dalam lima tahun bisa menyentuh Rp 75 juta. Ini membuat selisih biaya kepemilikan jangka menengah ikut melebar.

Off-road: angka versus rekam jejak

Denza B8 tidak datang tanpa bekal untuk medan berat. SUV ini memakai platform DMO atau Dual Motor Off-road, tiga differential lock otomatis, suspensi hidrolik DiSus-P, ground clearance variabel hingga 310 mm, serta kemampuan water wading 890 mm.

Land Cruiser 300 mengandalkan KDSS, Multi-terrain Select dengan lima mode, ground clearance 230 mm, dan water wading 700 mm. Pada data mentah, B8 unggul dalam ground clearance dan kemampuan melintasi genangan.

Namun, Land Cruiser 300 punya modal yang tidak muncul di lembar spesifikasi. Model ini memiliki rekam jejak panjang di berbagai medan ekstrem dunia nyata, sesuatu yang masih belum dimiliki Denza B8 di pasar Indonesia.

Fitur kabin dan teknologi

Di dalam kabin, Denza B8 menawarkan layar utama 17,3 inci, cluster digital 12,3 inci, HUD, pembaruan OTA, V2L 6,6 kW, kamera 360 derajat, ADAS Level 2, serta pilihan konfigurasi 6-seater dan 7-seater. Land Cruiser 300 juga punya cluster digital 12,3 inci, HUD, kamera 360 derajat, dan ADAS, tetapi layar utamanya 9 inci dan belum mendukung OTA maupun V2L.

V2L menjadi salah satu fitur yang paling praktis. Sistem ini memungkinkan Denza B8 memasok daya listrik hingga 6,6 kW untuk kebutuhan eksternal, fungsi yang tidak tersedia di Land Cruiser 300.

Meski begitu, Denza B8 masih menghadapi tantangan nonteknis. Merek ini masih baru, jaringan dealer dan bengkel belum seluas Toyota, status CBU berpotensi memengaruhi harga saat resmi masuk, dan nilai purna jualnya masih belum teruji di Indonesia.

Sebaliknya, Land Cruiser 300 tetap kuat berkat reputasi, persepsi keandalan, jaringan purna jual nasional, dan nilai jual kembali yang sangat kuat. Itulah sebabnya duel ini tidak hanya soal siapa yang lebih kuat di atas kertas, tetapi juga soal apa yang paling penting bagi calon pembeli di dunia nyata.

Terkait