Di Indonesia, mobil dengan setir kanan terasa begitu normal sampai kemunculan mobil setir kiri sering dianggap janggal. Kebiasaan itu bukan sekadar soal desain kendaraan, melainkan hasil dari sejarah panjang yang dipengaruhi kekuatan asing.
Indonesia menganut sistem berkendara di lajur kiri atau left-driving, sehingga posisi kemudi ditempatkan di sebelah kanan. Pola ini bertahan sejak masa penjajahan dan terus menjadi standar lalu lintas hingga sekarang.
Secara umum, ada dua sistem utama yang dikenal di dunia dalam penempatan lajur dan posisi kemudi. Pertama adalah left-driving, yaitu kendaraan berjalan di lajur kiri dan setir berada di kanan.
Sistem kedua adalah right-driving, yaitu kendaraan berjalan di lajur kanan dan setir berada di kiri. Perbedaan ini membentuk dua “aliran” besar dalam tata lalu lintas global.
Dalam kasus Indonesia, akar sistem setir kanan berkaitan erat dengan masa kolonial. Saat masih menjajah Indonesia, Belanda termasuk negara yang menggunakan posisi setir di kanan.
Pengaruh itu kemudian diterapkan di wilayah jajahannya, termasuk Indonesia. Dari sinilah kebiasaan berkendara di kiri dengan setir kanan mulai mengakar.
Yang menarik, arah perkembangan di Belanda sendiri kemudian berubah. Belanda pada akhirnya menganut setir kiri setelah dikalahkan Perancis dalam Perang Dunia ke-II.
Perubahan di negara asal penjajah itu ternyata tidak otomatis diikuti Indonesia. Saat Belanda hengkang, situasi di Indonesia justru memasuki babak kolonial berikutnya dengan datangnya Jepang.
Pengaruh Jepang dalam Mempertahankan Setir Kanan
Masuknya Jepang menjadi faktor penting yang membuat sistem setir kanan tetap bertahan di Indonesia. Jepang juga merupakan negara yang menganut setir kanan.
Karena itu, tidak terjadi perubahan arah sistem lalu lintas seperti yang dialami Belanda. Sebaliknya, pola yang sudah terbentuk sebelumnya justru terus berlanjut.
Pengaruh Jepang tidak hanya hadir lewat kekuasaan politik pada masa itu. Mobil-mobil dari negara tersebut juga banyak berseliweran di Indonesia, sehingga konfigurasi setir kanan makin terasa lazim.
Kondisi itu membantu memperkuat kebiasaan masyarakat terhadap kendaraan dengan kemudi di sebelah kanan. Dalam praktik sehari-hari, sistem ini kemudian menjadi bagian yang sangat melekat dalam pengalaman berkendara di Indonesia.
Mengapa Setir Kanan Terasa Sangat “Indonesia”
Bagi banyak orang, melihat mobil setir kiri memunculkan rasa heran karena tidak sesuai dengan kebiasaan jalan raya di Indonesia. Itu terjadi karena masyarakat sudah sangat lama akrab dengan kendaraan yang dirancang untuk lajur kiri.
Posisi setir kanan pada kendaraan Indonesia bukan pilihan yang berdiri sendiri. Ia mengikuti aturan dasar lalu lintas yang menempatkan kendaraan di sisi kiri jalan.
Dalam sistem seperti ini, letak pengemudi di sisi kanan membantu orientasi kendaraan terhadap lajur yang digunakan. Karena itu, setir kanan dan kebiasaan berkendara di kiri merupakan satu paket yang tidak bisa dipisahkan.
Warisan sejarah juga membuat perubahan besar pada sistem seperti ini bukan hal sederhana. Setelah terbentuk sejak masa kolonial Belanda dan tetap dipertahankan pada masa Jepang, pola tersebut terus hidup dalam sistem transportasi nasional.
Belanda sendiri berubah, tetapi Indonesia tidak ikut bergeser ke setir kiri. Pergantian pengaruh dari Belanda ke Jepang menjadi alasan penting mengapa transisi itu tidak pernah terjadi.
Fakta ini menunjukkan bahwa aturan lalu lintas sebuah negara tidak selalu terbentuk murni dari pertimbangan teknis masa kini. Dalam banyak kasus, sejarah penjajahan dan pengaruh negara lain justru meninggalkan jejak yang sangat kuat.
Di Indonesia, jejak itu masih terlihat jelas setiap hari di jalan raya. Selama kendaraan berjalan di lajur kiri, setir kanan tetap menjadi wajah utama lalu lintas nasional.
