Honda Tertekan Di Indonesia, Penjualan Turun 37 Persen Dan Dealer Mulai Bergeser

Penurunan penjualan Honda di Indonesia mulai jadi sorotan karena angkanya tidak lagi sekadar melemah, tetapi sudah masuk ke fase yang lebih dalam. Hingga Januari sampai April 2026, penjualan merek ini tercatat turun 37,3 persen, padahal pasar mobil nasional sendiri masih bergerak relatif tenang tanpa penurunan yang ekstrem.

Kondisi itu menarik perhatian karena Honda selama ini dikenal punya lini produk yang lengkap. Mereka menjual SUV, MPV, sedan, hingga hatchback, tetapi ragam model itu belum cukup menahan pelemahan penjualan yang terjadi dalam setahun terakhir.

Tren Turun Sudah Terlihat Sejak Tahun Lalu

Gejala penurunan sebenarnya tidak muncul tiba-tiba. Pada tahun lalu, penjualan wholesales Honda hanya mencapai 56,5 ribu unit, turun 40,4 persen dibanding 2024 yang tembus 94 ribu unit.

Di jalur retail, Honda juga belum bisa bangkit. Penjualannya turun 30,9 persen dari 103.023 unit menjadi 71.233 unit, sehingga pelemahan terlihat di dua sisi sekaligus.

Dealer Berkurang, Tekanan Pasar Makin Terasa

Selain angka penjualan, jaringan dealer Honda juga ikut menyusut belakangan ini. Tidak sedikit dealer yang kemudian berubah menjadi dealer mobil China, dan perubahan ini memperkuat tekanan terhadap posisi Honda di pasar.

Kondisi tersebut membuat pertanyaan soal penyebab penurunan semakin mengemuka. Salah satu dugaan kuat mengarah pada ekspansi merek mobil asal China yang terus memperbesar penjualan di Indonesia dan mendorong merek lain tertinggal lebih jauh.

Harga Masih Jadi Titik Lemah

Di tengah tekanan itu, Honda disebut masih membawa stigma harga mobil yang mahal. Stigma ini dinilai ikut mempengaruhi daya tarik produk mereka, terutama ketika pasar makin sensitif terhadap harga.

Brio masih menjadi mobil murah yang dijual Honda, khususnya melalui model LCGC Satya yang selama ini diunggulkan. Namun di luar itu, sebagian besar model Honda sudah berada di level harga di atas Rp 500 jutaan.

Daftar model dengan banderol tinggi itu mencakup HR-V, Step WGN, hingga Prelude yang baru dirilis. Dengan komposisi seperti ini, Honda tampak belum punya cukup banyak opsi murah untuk memperluas jangkauan ke konsumen yang lebih luas.

Persaingan Semakin Berat di Segmen Roda Empat

Situasi Honda memperlihatkan bagaimana persaingan pasar mobil di Indonesia berubah cepat. Merek yang dulu kuat di berbagai segmen kini harus berhadapan dengan kompetitor baru yang agresif, terutama dari China.

Di sisi lain, Honda tetap bertahan di Indonesia meski menghadapi penutupan dealer dan penurunan penjualan. Tantangan mereka kini bukan hanya soal mempertahankan citra, tetapi juga soal membangun kembali daya saing harga di tengah pasar yang makin kompetitif.

Jika ingin memperbaiki performa, Honda perlu mencari ruang yang lebih besar di segmen mobil terjangkau. Tanpa itu, penurunan yang sudah terlihat sejak tahun lalu berisiko terus berlanjut dan membuat tekanan terhadap merek ini semakin berat.

Source: ridertua.com

Berita Terkait

Back to top button