BYD Bantah Flash Charging 9 Menit Merusak Baterai, Uji 1.000 Kali Jadi Jawaban

BYD menegaskan bahwa pengisian cepat 9 menit tidak harus berujung pada kerusakan baterai. Pernyataan itu datang di tengah meningkatnya sorotan terhadap daya tahan baterai saat teknologi pengisian ultra-cepat makin agresif masuk ke kendaraan listrik.

Sun Huajun, chief technology officer grup bisnis baterai BYD, mengatakan kekhawatiran soal flash charging sudah dibantah oleh pengujian teknis yang panjang. Ia menyebut kemajuan material, pendinginan, dan sistem elektrokimia telah mengubah batas lama yang dulu dianggap tak bisa ditembus.

Uji ketahanan jadi kunci

Sun menjelaskan bahwa BYD melakukan validasi berkelanjutan dalam jangka panjang sebelum teknologi itu dipasang secara massal pada kendaraan. Salah satu pengujiannya mencakup 1.000 siklus penuh flash charging untuk memastikan reliabilitas sistem.

Ia juga mengatakan BYD menjalankan pengujian siklus dan keandalan dalam jumlah besar untuk melihat bagaimana baterai bertahan dalam penggunaan nyata. Selain itu, perusahaan mensimulasikan degradasi jangka panjang dalam kondisi operasi ekstrem.

Pernyataan itu menjadi penting karena kekhawatiran terhadap pengisian berarus tinggi biasanya berpusat pada panas. Sun mengakui suhu memang naik saat pengisian cepat berlangsung, tetapi menurutnya itu tidak otomatis berarti baterai lithium iron phosphate atau LFP akan mengalami kerusakan struktural maupun risiko keselamatan.

Batas suhu lama dianggap sudah berubah

Sun menilai angka 70 derajat Celsius yang pernah dianggap berbahaya kini tidak bisa lagi dipakai sebagai patokan tunggal. Ia membandingkannya dengan pandangan lama industri yang dulu mengira batas atas suhu untuk baterai LFP hanya 60 derajat Celsius.

Menurutnya, kemajuan riset dan pengembangan telah mendorong batas teknis baru. Karena itu, ia mengatakan industri tidak bisa terus menilai teknologi baru dengan kebiasaan dan pengalaman lama.

Sorotan terhadap suhu baterai memang muncul setelah seorang blogger menguji flash charging BYD dan melaporkan suhu sel baterai naik hingga 70 derajat Celsius. Temuan itu memicu kembali pertanyaan tentang apakah pengisian super cepat bisa memperpendek usia baterai.

Teknologi baru, klaim performa baru

BYD memperkenalkan generasi kedua Blade Battery dan teknologi flash charging pada 5 Maret. Sistem ini mendukung daya sangat tinggi hingga 1.500 kilowatt dan diklaim mampu mengisi baterai kendaraan dari 10% ke 97% dalam 9 menit.

Performa di suhu dingin juga menjadi bagian penting dari pembaruan tersebut. Pada minus 30 derajat Celsius, efisiensi pengisian disebut hanya sekitar tiga menit lebih lambat dibandingkan suhu ruang.

Di Beijing Auto Show 2026 yang berakhir awal bulan ini, BYD juga menyiapkan area pameran besar khusus untuk teknologi tersebut. Di sana, sebuah Denza Z9GT bahkan ditampilkan sedang menjalani flash charging pada suhu minus 33 derajat Celsius.

Ambisi infrastruktur ikut naik

Di balik klaim teknologinya, BYD juga menyiapkan jaringan pendukung besar. Perusahaan menargetkan pembangunan 20.000 stasiun flash charging di China pada akhir 2026, dengan sasaran jangkauan 5 kilometer untuk 90% wilayah perkotaan.

Sun mengatakan flash charging telah menaikkan hambatan masuk di industri karena tidak semua perusahaan memiliki dasar riset elektrokimia dan rekayasa sistem yang memadai. Menurutnya, hanya perusahaan dengan akumulasi teknologi yang dalam yang mampu mengisi penuh baterai dalam waktu di bawah 10 menit.

Sejak awal Maret, BYD juga telah memperbarui banyak model ke platform flash-charging terbaru, termasuk Denza N9 versi flash charging yang diluncurkan kemarin. Namun transisi itu ikut menekan volume pengiriman dalam jangka pendek karena keterbatasan pasokan baterai, meski Ketua dan Presiden BYD Wang Chuanfu mengatakan pengiriman keseluruhan diperkirakan naik ketika pasokan baterai membaik.

Source: cnevpost.com
Exit mobile version