Transmisi mobil matic jenis CVT yang mulai terasa ada jeda saat akselerasi dan disertai hentakan tidak selalu langsung menandakan kerusakan besar. Salah satu komponen yang perlu segera diperiksa justru bagian yang kerap luput dari perhatian, yakni filter CVT.
Banyak pemilik mobil matic fokus pada penggantian oli transmisi secara rutin, padahal perawatan CVT tidak berhenti di sana. Filter CVT juga memiliki peran penting karena bertugas menyaring kotoran pada oli transmisi yang sudah jenuh.
Pada sistem CVT, kebersihan sirkulasi oli menjadi faktor penting dalam menjaga kinerja transmisi tetap halus dan responsif. Saat filter tidak lagi bekerja optimal, aliran oli dapat terganggu dan memengaruhi respons transmisi ketika mobil digunakan.
Menurut Sugito, Owner bengkel spesialis Honda Camp di Pramuka, Jakarta Pusat, filter CVT yang berada di dalam transmisi tergolong vital. Komponen ini menjaga kebersihan sirkulasi kerja oli transmisi agar sistem tetap bekerja dengan baik.
Karena fungsinya itu, filter CVT tidak boleh diabaikan hanya karena masa pakainya relatif panjang. Sugito menyarankan penggantian filter CVT dilakukan pada kisaran 100.000 hingga 120.000 kilometer.
Ia menjelaskan bahwa komponen ini memang dipakai untuk jangka panjang, tetapi tetap penting untuk diganti ketika sudah waktunya. Penggantian berkala diperlukan agar kualitas sirkulasi oli di dalam transmisi tetap terjaga.
Gejala yang Mulai Terasa Saat Filter CVT Bermasalah
Dampak dari filter CVT yang tidak diganti tidak selalu muncul sekaligus. Namun gejala awalnya bisa terasa dari perubahan karakter berkendara yang sebelumnya halus menjadi kurang nyaman.
Salah satu tanda yang disebutkan adalah kerja transmisi CVT menjadi kurang responsif saat mobil dikendarai. Kondisi ini bisa terasa ketika pedal gas diinjak, tetapi respons laju kendaraan tidak secepat biasanya.
Gejala lain yang patut diwaspadai adalah akselerasi mesin terasa tidak enak. Pada kondisi tertentu, jeda saat akselerasi bisa muncul dan disertai hentakan yang mengganggu kenyamanan berkendara.
Keluhan seperti ini sering dianggap wajar karena usia pakai kendaraan atau karakter CVT. Padahal, filter yang sudah waktunya diganti dapat menjadi salah satu penyebab yang perlu diperiksa lebih dulu.
Mengapa Filter CVT Penting?
Filter CVT bekerja sebagai penyaring kotoran yang ada pada oli transmisi. Ketika oli sudah jenuh, partikel kotoran yang ikut bersirkulasi perlu disaring agar tidak mengganggu kerja sistem transmisi.
Jika komponen ini diabaikan terlalu lama, kebersihan oli yang bersirkulasi di dalam transmisi tidak lagi terjaga dengan baik. Dalam jangka pemakaian, kondisi tersebut dapat memengaruhi performa kerja CVT saat mobil digunakan harian.
Karena letaknya berada di dalam transmisi, filter CVT memang tidak selalu menjadi perhatian utama pemilik kendaraan. Fokus perawatan lebih sering hanya tertuju pada oli transmisi, padahal keduanya saling terkait dalam menjaga kinerja sistem.
Itu sebabnya, pemeriksaan transmisi matic CVT sebaiknya tidak hanya berhenti pada jadwal ganti oli. Saat jarak tempuh sudah mendekati interval penggantian filter, komponen ini juga perlu masuk daftar pengecekan.
Jangan Tunggu Gejala Makin Parah
Begitu mulai muncul jeda akselerasi, hentakan, atau respons transmisi terasa melambat, pemeriksaan filter CVT menjadi langkah yang relevan. Tindakan ini penting terutama pada kendaraan yang sudah menempuh jarak tinggi dan belum pernah mengganti filter transmisi.
Perawatan CVT yang menyeluruh pada dasarnya bertujuan menjaga kenyamanan dan respons kendaraan tetap konsisten. Dengan memperhatikan filter CVT sesuai interval 100.000 hingga 120.000 kilometer, risiko gangguan performa transmisi akibat sirkulasi oli yang tidak bersih dapat ditekan.
Bagi pemilik mobil matic CVT, tanda-tanda seperti transmisi kurang responsif, akselerasi terasa tidak enak, hingga muncul hentakan saat jeda akselerasi sebaiknya tidak diabaikan. Gejala tersebut bisa menjadi sinyal bahwa filter CVT sudah waktunya diperiksa atau diganti.







