Biaya operasional menjadi salah satu sorotan utama dari Jaecoo J7 SHS-P. SUV plug-in hybrid ini diklaim hanya membutuhkan sekitar Rp 324 per kilometer, angka yang jauh di bawah SUV bermesin bensin 1.5L turbo konvensional.
Klaim itu disampaikan Jaecoo Indonesia sebagai nilai jual penting bagi konsumen yang ingin menekan pengeluaran harian. Dalam simulasi penggunaan 50 kilometer per hari, biaya operasional J7 SHS-P disebut hanya sekitar Rp 16.200 per hari.
Sebagai pembanding, SUV bermesin 1.5L turbo konvensional disebut membutuhkan sekitar Rp 61.500 per hari. Jika dihitung per kilometer, biayanya mencapai sekitar Rp 1.230 dengan rata-rata konsumsi bahan bakar 12 kilometer per liter.
Selisih biaya itu membuat penghematan bulanan menjadi cukup besar. Head of Product Jaecoo Indonesia Ryan Ferdiean Tirto mengatakan, dengan kondisi penggunaan yang sama, konsumen bisa menghemat sekitar Rp 1,3 juta per bulan.
Dalam hitungan satu tahun, penghematan biaya operasionalnya hampir mencapai Rp 15 juta. Angka ini menjadi penting, terutama bagi pengguna dengan mobilitas tinggi yang memakai kendaraan setiap hari.
Efisiensi Jadi Daya Tarik Utama
Jaecoo menempatkan efisiensi sebagai salah satu alasan kuat memilih J7 SHS-P. Model ini diarahkan untuk konsumen yang sering bepergian, termasuk ke luar kota, tetapi tetap ingin kendaraan yang hemat untuk digunakan rutin.
Menurut Ryan, karakter tersebut membuat J7 SHS-P relevan bagi pengguna yang membutuhkan jarak tempuh jauh namun biaya operasional tetap terjangkau. Pendekatan ini juga memperlihatkan bagaimana teknologi plug-in hybrid diposisikan sebagai solusi antara performa, efisiensi, dan fleksibilitas penggunaan.
Teknologi yang dipakai pada mobil ini adalah plug-in hybrid electric vehicle atau PHEV. Sistem tersebut menggabungkan mesin bensin dan motor listrik, sehingga kendaraan bisa berjalan dengan lebih efisien dalam berbagai kondisi perjalanan.
Bagi pengguna, keunggulan PHEV tidak hanya ada pada konsumsi energi yang lebih rendah. Sistem ini juga memberi opsi berkendara dalam mode listrik murni untuk kebutuhan harian, sambil tetap mempertahankan mesin bensin untuk perjalanan lebih jauh.
Spesifikasi Penggerak Jaecoo J7 SHS-P
Di sektor dapur pacu, Jaecoo J7 SHS-P mengandalkan mesin 1.5L turbo. Mesin itu dipadukan dengan Dedicated Hybrid Transmission atau DHT untuk mendukung kerja sistem hybrid.
Mesin bensinnya menghasilkan tenaga 140 tk. Sementara itu, motor listriknya menyumbang tenaga 201 tk, yang menunjukkan bahwa porsi elektrifikasi pada mobil ini cukup besar.
Untuk torsi, mesin bensin menghasilkan 215 Nm. Motor listriknya memiliki torsi 310 Nm, sehingga dorongan tenaga instan dari sisi elektrifikasi menjadi salah satu karakter penting mobil ini.
Kombinasi tersebut tidak hanya ditujukan untuk efisiensi, tetapi juga untuk menjaga performa saat mobil digunakan dalam lalu lintas perkotaan maupun perjalanan jarak jauh. Dengan begitu, biaya operasional rendah tidak datang dengan mengorbankan dukungan tenaga.
Bisa Melaju Lebih dari 100 Km dalam Mode EV
Salah satu faktor yang mendukung rendahnya biaya operasional adalah baterai berkapasitas 18,3 kWh. Jaecoo menyebut baterai ini memungkinkan kendaraan melaju lebih dari 100 kilometer dalam mode EV murni.
Secara resmi, jarak tempuh listrik murninya disebut 100 kilometer. Namun, Ryan mengatakan dalam penggunaan aktual saat pengetesan rute Jakarta-Bali, hasil yang didapat bisa mencapai hingga 130 kilometer.
Kemampuan melaju dalam mode listrik murni sejauh itu memberi dampak langsung pada biaya harian pengguna. Untuk perjalanan rutin yang tidak terlalu jauh, pemakaian mesin bensin bisa ditekan sehingga pengeluaran operasional ikut turun.
Hal ini menjelaskan mengapa angka Rp 324 per kilometer menjadi sorotan. Saat porsi penggunaan mode listrik lebih besar, struktur biaya kendaraan berbeda cukup signifikan dibanding SUV bensin konvensional yang sepenuhnya bergantung pada bahan bakar.
Bagi pasar SUV, pendekatan seperti ini menunjukkan pergeseran fokus dari sekadar tenaga dan fitur menuju efisiensi penggunaan jangka panjang. Konsumen tidak hanya mempertimbangkan harga beli, tetapi juga biaya yang harus dikeluarkan setiap hari.
Dengan klaim biaya operasional sekitar Rp 16.200 untuk pemakaian 50 kilometer per hari, Jaecoo J7 SHS-P mencoba menarik perhatian konsumen yang aktif berkendara namun ingin pengeluaran lebih terkendali. Dukungan sistem PHEV, baterai 18,3 kWh, serta mode EV murni lebih dari 100 kilometer menjadi fondasi utama di balik klaim efisiensi tersebut.
Source: otomotif.kompas.com