Mobil yang jarang dipakai justru lebih rentan bikin aki cepat lemah. Anggapan bahwa mobil yang lebih sering diam di garasi akan membuat aki lebih awet disebut tidak tepat, karena penurunan performa aki banyak dipicu pola penggunaan dan perawatan yang kurang benar.
Masalah ini penting karena aki menjadi sumber utama tenaga listrik untuk menyalakan mesin dan menjaga fitur elektronik tetap bekerja normal. Saat aki bermasalah, gangguan tidak hanya terasa saat starter, tetapi juga bisa memengaruhi seluruh sistem kelistrikan kendaraan.
Mohan Kurniawan, Kepala Bengkel Astra Peugeot Surabaya, menjelaskan aki merupakan komponen vital yang menyuplai tenaga listrik untuk sistem starter, pengapian, hingga berbagai fitur elektronik modern. Karena itu, perawatan aki tidak bisa dianggap sekadar rutinitas tambahan.
Secara umum, usia pakai aki mobil berkisar 2 hingga 3 tahun. Namun umur tersebut tidak berdiri sendiri, karena sangat dipengaruhi pola penggunaan kendaraan, kondisi mobil, dan cara perawatan yang dilakukan pemilik.
Aki tipe basah umumnya memiliki usia pakai yang cenderung lebih pendek dibanding aki Maintenance Free atau MF. Penyebabnya, aki basah membutuhkan perhatian lebih, termasuk pengecekan cairan elektrolit secara berkala.
Mobil Jarang Dipakai Perlu Tetap Dipanaskan
Mobil yang terlalu lama tidak digunakan bisa mengalami penurunan performa aki lebih cepat dibanding mobil yang dipakai rutin. Dalam kondisi seperti ini, pemilik kendaraan disarankan tetap menyalakan mesin setidaknya dua hingga tiga kali dalam seminggu.
Langkah itu diperlukan untuk membantu menjaga kestabilan daya aki. Selain dinyalakan secara berkala, kendaraan juga disarankan digunakan minimal 20 hingga 30 menit dalam satu perjalanan agar proses pengisian daya oleh alternator berjalan optimal.
Kebiasaan hanya mendiamkan mobil dalam waktu lama dapat membuat suplai daya tidak terjaga dengan baik. Padahal aki bekerja dengan menyimpan energi listrik melalui reaksi kimia, lalu akan kembali diisi oleh alternator saat mesin hidup.
Jika mesin jarang dinyalakan atau mobil terlalu lama menganggur, proses pengisian daya tentu tidak terjadi secara cukup. Akibatnya, kemampuan aki menyimpan listrik bisa terus menurun dan berujung soak.
Tegangan Aki Bisa Jadi Tanda Awal
Pemeriksaan paling dasar yang dapat dilakukan pemilik mobil adalah melihat tegangan aki dengan voltmeter atau battery tester. Cara ini bisa memberi gambaran awal apakah kondisi aki masih sehat atau mulai melemah.
Dalam kondisi mesin mati, aki yang sehat umumnya memiliki tegangan sekitar 12,6 Volt hingga 12,8 Volt. Jika tegangannya berada di kisaran 12,4 Volt, kondisi itu menandakan daya aki mulai menurun.
Bila tegangan berada di bawah 12 Volt, aki perlu segera diperiksa lebih lanjut. Kondisi tersebut menunjukkan risiko aki soak atau tidak lagi mampu menyimpan daya secara optimal.
Pengecekan juga perlu dilakukan saat mesin hidup untuk memastikan sistem pengisian bekerja normal. Dalam kondisi ini, tegangan pengisian dari alternator idealnya berada di kisaran 13,7 Volt hingga 14,7 Volt.
Jika tegangan pengisian berada di bawah angka tersebut, sistem charging diduga tidak bekerja optimal. Mohan menyebut tegangan rendah secara teknis menandakan kemampuan penyimpanan daya pada aki mulai menurun.
Menurut dia, kondisi itu bisa dipengaruhi beberapa faktor. Di antaranya usia pakai, sulfasi pada pelat aki, atau sistem pengisian yang kurang optimal.
Bukan Cuma Soal Usia Aki
Banyak kasus aki soak ternyata bukan semata karena usia komponen. Pola penggunaan yang tidak tepat dan perawatan yang diabaikan justru sering menjadi penyebab utama.
Karena itu, mobil yang jarang dipakai tetap membutuhkan perhatian rutin. Menunggu sampai starter terasa berat atau mobil sulit hidup justru membuat risiko kerusakan lebih besar.
Gejala lain yang patut diwaspadai adalah lampu indikator aki menyala di dashboard. Selain itu, aki baru yang cepat kehilangan daya juga bisa menjadi sinyal adanya masalah pada sistem pengisian.
Perawatan Sederhana yang Sering Terlupakan
Selain menyalakan mesin secara berkala, kebersihan terminal aki juga perlu dijaga. Terminal yang kotor atau berkarat dapat menghambat aliran listrik dan membuat sistem starter terasa berat.
Dampaknya tidak berhenti di starter saja. Performa kelistrikan mobil juga bisa menurun drastis bila aliran listrik terganggu oleh kerak atau korosi di terminal aki.
Posisi aki dan pengikatnya juga wajib diperhatikan, baik pada aki basah maupun aki MF. Guncangan berlebih saat mobil melaju dapat memengaruhi kondisi sel di dalam aki dan mempercepat kerusakan.
Karena itu, pengikat aki harus selalu dalam kondisi baik agar posisi aki tetap stabil selama kendaraan digunakan. Detail kecil seperti ini kerap luput, padahal berpengaruh pada usia pakai aki.
Pemilik kendaraan juga perlu memastikan alternator bekerja normal. Jika komponen ini bermasalah, aki akan terus kekurangan suplai daya meski mobil sesekali dinyalakan.
Dengan kata lain, memanaskan mobil yang jarang dipakai bukan sekadar formalitas. Kebiasaan menyalakan mesin dua hingga tiga kali seminggu dan membiarkan mobil berjalan 20 hingga 30 menit dapat membantu menjaga daya aki tetap stabil serta mengurangi risiko soak lebih cepat.
Source: oto.detik.com