Pasar SUV listrik di Indonesia kini makin padat, dan persaingan di kelas harga Rp 400 jutaan menjadi salah satu yang paling menarik untuk dipantau. Di segmen ini, BYD Atto 3 tidak berjalan sendiri karena harus berhadapan dengan Chery E5, MG4 EV, dan Aion Y Plus yang sama-sama datang dari merek senegaranya.
Menariknya, keempat model itu sama-sama menyasar konsumen yang mencari SUV listrik 5-seater, tetapi karakter masing-masing cukup berbeda. Ada yang menonjol lewat kabin lebih lega, ada yang tampil sporty, dan ada juga yang mengandalkan teknologi serta jarak tempuh lebih panjang.
Empat model, empat karakter
Chery E5 punya bodi yang lebih bongsor dibanding tiga rival lainnya, sehingga kabinnya terasa lebih lapang. MG4 EV justru terlihat lebih dekat ke hatchback, walau desain sporty membuatnya tetap relevan di kelas ini, sedangkan Aion Y Plus punya siluet yang sekilas mirip MPV.
BYD Atto 3 tampil dengan pendekatan yang lebih seimbang. Kabinnya membawa nuansa sporty, sementara Chery E5 dan MG4 EV bergerak ke arah yang berbeda dalam soal desain interior dan proporsi bodi.
Di dalam kabin, Atto 3 memakai headunit 15,6 inci yang bisa diputar, audio 8 speaker, dan panoramic sunroof. Chery E5 membalas dengan headunit 24,6 inci dan ambient light, tetapi tidak membawa panoramic sunroof seperti rivalnya.
MG4 EV hadir dengan headunit, panel digital, dan desain dasbor serba modern. Aion Y Plus tampil lebih sederhana karena hanya dibekali headunit dan panel digital, meski ruang kabinnya tetap disebut nyaman dan lega.
Fitur bantuan berkendara jadi pembeda
Di sisi keselamatan dan bantuan pengemudi, BYD Atto 3 dibekali adaptive cruise control, lane keeping assist, auto emergency braking, dan door open warning. Paket ini membuat Atto 3 tetap kompetitif di tengah persaingan yang makin padat.
Chery E5 justru tampil lebih agresif lewat ADAS dengan lebih banyak fitur, termasuk kamera panoramic 540 derajat dan emergency lane keeping. MG4 EV dan Aion Y Plus juga sudah punya ADAS, tetapi Y Plus hanya mengandalkan kamera 360 derajat.
Perbedaan itu membuat E5 terlihat paling lengkap untuk urusan bantuan berkendara. Namun, Atto 3 tetap punya paket fitur yang kuat untuk konsumen yang mencari keseimbangan antara kenyamanan dan keamanan.
Tenaga dan jarak tempuh tidak jauh, tapi ada pemenang di beberapa sektor
Soal performa, Atto 3 menghasilkan tenaga 150 kW dan torsi 310 Nm, dengan kecepatan maksimal 160 km/jam serta akselerasi 0-100 km/jam dalam 7,9 detik. Chery E5 sedikit unggul di tenaga dengan 155 kW, tetapi torsinya 288 Nm.
MG4 EV mencatat 150 kW dan 250 Nm, sedangkan Aion Y Plus menghasilkan 150 kW dan 225 Nm. Dari angka ini, E5 unggul tipis di daya, sementara Atto 3 lebih menonjol pada torsi yang tembus lebih dari 300 Nm.
Untuk jarak tempuh, MG4 EV menjadi yang paling jauh dengan 540 km berkat baterai 64 kWh. Chery E5 menyusul dengan baterai 61 kWh dan jarak tempuh 505 km, sementara Atto 3 memakai baterai 49,92 kWh dengan jarak tempuh 410 km.
Aion Y Plus juga mencatat jarak tempuh 410 km dari baterai 50,66 kWh. Dengan angka itu, MG4 EV terlihat paling kuat di sisi efisiensi jarak, sedangkan Atto 3 dan Y Plus berada di level yang sama.
Harga yang sama, pilihan jadi makin sulit
Soal banderol, Atto 3 dipasarkan paling mahal di Rp 419 juta. Menariknya, angka yang sama juga dipakai untuk varian tertinggi Chery E5, MG4 EV, dan Aion Y Plus.
Kondisi ini membuat persaingan di kelas SUV listrik Rp 400 jutaan terasa sangat rapat. Konsumen kini tidak hanya menilai merek, tetapi juga desain kabin, fitur ADAS, performa, dan jarak tempuh sebelum menentukan pilihan.
Di tengah pasar yang terus ramai dengan model elektrifikasi baru, keempat SUV listrik ini menunjukkan bahwa selera konsumen Indonesia mulai punya banyak opsi. Pilihannya kini bergantung pada mana yang lebih penting, apakah kabin lega, fitur paling lengkap, jarak tempuh terjauh, atau paket yang paling seimbang.
Source: ridertua.com






