Etanol pada BBM Tak Sesederhana Terlihat, Aman untuk Mesin Modern Tapi Berisiko pada Kendaraan Tua

Campuran etanol pada bensin makin sering dibahas karena menjanjikan dua hal sekaligus, yakni mengurangi ketergantungan pada energi fosil dan menekan emisi gas buang. Namun di balik manfaat itu, etanol punya sifat kimia yang berbeda dari bensin murni sehingga pengaruhnya ke mesin perlu dipahami sejak awal.

Bagi pemilik mobil dan motor, isu utamanya bukan sekadar apakah etanol aman dipakai, tetapi bagaimana campuran ini bekerja di dalam sistem bahan bakar. Jawabannya bergantung pada kadar campuran, karakter kimia etanol, dan usia serta teknologi kendaraan yang digunakan.

Etanol untuk otomotif memiliki rumus kimia C2H5OH dan diproduksi dari fermentasi komoditas pertanian kaya karbohidrat serta gula. Bahan bakunya dapat berasal dari tebu, singkong, jagung, dan sorgum.

Karena berasal dari tanaman yang dapat diperbarui, etanol dikategorikan sebagai energi yang lebih ramah lingkungan. Di pasar ritel, bioetanol fuel grade dicampur ke bensin fosil dalam persentase tertentu yang ditandai dengan kode huruf E.

E5 berarti campuran 5 persen bioetanol dan 95 persen bensin. E10 berarti campuran 10 persen bioetanol dan 90 persen bensin, yang disebut telah menjadi standar global di banyak negara maju.

Salah satu dampak paling penting dari pencampuran etanol adalah kenaikan angka oktan bahan bakar. Etanol murni memiliki angka oktan sangat tinggi, sekitar RON 108 hingga RON 113, sehingga saat dicampurkan ke bensin, kualitas pembakaran bisa meningkat.

Angka oktan yang lebih tinggi membuat pembakaran lebih stabil di dalam mesin. Risiko knocking atau gejala mesin menggelitik pun dapat ditekan, terutama jika etanol dicampur dengan bensin beroktan lebih rendah.

Etanol juga membawa kandungan oksigen internal sekitar 35 persen. Tambahan oksigen ini membantu proses oksidasi bahan bakar di ruang bakar sehingga pembakaran menjadi lebih optimal.

Efek lanjutannya terlihat pada emisi gas buang. Karbon monoksida atau CO dan hidrokarbon atau HC dapat turun secara signifikan karena proses pembakaran berlangsung lebih bersih.

Karakter lain yang kerap dianggap menguntungkan adalah daya larut etanol terhadap residu organik. Sifat dasar alkohol membuat campuran BBM beretanol dapat membantu menjaga ujung injektor, payung katup, dan kubah ruang bakar tetap lebih bersih dari kerak sisa pembakaran.

Manfaat ini penting bagi mesin yang dipakai harian. Endapan karbon yang lebih terkendali dapat membantu menjaga kualitas semprotan bahan bakar dan kebersihan area pembakaran.

Meski begitu, etanol bukan tanpa catatan. Salah satu sifat yang perlu diwaspadai adalah higroskopis, yakni mudah menyerap air dari kelembapan udara.

Risiko ini muncul ketika kendaraan terlalu lama didiamkan, terutama jika kondisi tangki sering kosong. Uap air bisa terikat oleh etanol lalu mengendap di bagian dasar tangki dan berpotensi memicu korosi pada tangki berbahan pelat besi.

Sifat etanol sebagai pelarut kuat juga punya sisi lain. Pada kadar tinggi, zat ini dapat mempercepat penuaan komponen berbahan karet seperti seal dan slang bensin, serta memengaruhi beberapa material plastik.

Selain itu, etanol dapat memicu oksidasi pada logam ringan seperti aluminium tanpa pelapis. Kondisi ini lebih relevan pada kendaraan lama, terutama motor atau mobil tua yang masih memakai sistem karburator.

Dari sisi energi, etanol juga berbeda dari bensin. Nilai kalor etanol murni sekitar 30 persen lebih rendah dibanding bensin murni, sehingga secara teori membutuhkan volume bahan bakar lebih banyak untuk menghasilkan daya yang setara.

Namun dampak itu tidak selalu terasa pada pemakaian sehari-hari. Pada campuran rendah seperti E5 atau E10, perbedaan konsumsi bahan bakar disebut hampir tidak terasa, sementara efeknya baru lebih jelas pada campuran dengan kadar etanol lebih tinggi.

Pengaruh pada kendaraan modern

Untuk kendaraan yang lebih baru, kekhawatiran terhadap campuran rendah etanol cenderung lebih kecil. Kendaraan produksi sekitar 2010 ke atas disebut umumnya sudah dirancang dengan sistem bahan bakar yang tahan terhadap korosi alkohol hingga kadar E10.

Artinya, komponen seperti pompa bahan bakar, injektor, dan saluran bensin pada mobil serta motor modern pada umumnya kompatibel. Pengguna juga tidak memerlukan modifikasi mesin untuk memakai campuran sampai level tersebut.

Situasinya berbeda pada kendaraan lama yang material sistem bahan bakarnya belum dirancang untuk paparan alkohol. Pada kelompok ini, perhatian terhadap kondisi karet, logam ringan, dan potensi korosi tangki menjadi lebih penting.

Karena itu, memahami karakteristik etanol tidak cukup hanya dari sisi emisi yang lebih bersih. Pemilik kendaraan juga perlu melihat jenis campuran yang dipakai, material komponen mesin, serta kebiasaan penggunaan kendaraan, termasuk menghindari tangki terlalu lama dalam kondisi kosong saat kendaraan jarang dipakai.

Source: kabaroto.com
Exit mobile version