Dinas Perhubungan DKI Jakarta mengimbau seluruh penyelenggara acara berskala besar untuk berkoordinasi sejak tahap perencanaan. Imbauan ini ditegaskan setelah kemacetan padat terjadi di Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, saat sebuah pertunjukan musik yang diperkirakan dihadiri sekitar 10.000 orang berlangsung pada Minggu malam.
Menurut Dishub, koordinasi awal sangat menentukan kesiapan pengaturan lalu lintas dan parkir di sekitar lokasi acara. Tanpa perencanaan bersama, lonjakan kendaraan dan penumpukan pengunjung berisiko langsung mengganggu mobilitas masyarakat di ruas jalan utama.
Kepala Dishub DKI Jakarta Budi Awaludin menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat yang terdampak kemacetan di kawasan tersebut. Ia menegaskan pemerintah provinsi pada dasarnya mendukung kegiatan masyarakat dan aktivitas ekonomi yang berlangsung di Jakarta.
Namun, dukungan terhadap kegiatan besar tetap perlu diiringi langkah antisipasi yang matang. Acara yang berpotensi menarik massa dalam jumlah besar dinilai harus dipersiapkan bersama agar dampaknya terhadap lalu lintas bisa ditekan.
Budi menjelaskan, kegiatan itu sebenarnya telah mengantongi izin keramaian dari pihak kepolisian. Meski begitu, Dishub DKI Jakarta tidak menerima koordinasi dari penyelenggara terkait kebutuhan pengaturan lalu lintas maupun parkir untuk mengantisipasi lonjakan pengunjung.
Kondisi itu membuat langkah mitigasi tidak bisa disiapkan secara optimal sejak awal. Padahal, kesiapan petugas, rekayasa arus kendaraan, dan penataan parkir menjadi faktor penting dalam menjaga kelancaran pergerakan di sekitar lokasi acara.
Setelah menerima laporan masyarakat, petugas Dishub bersama Satpol PP langsung turun ke lokasi. Mereka melakukan pengaturan lalu lintas dan penertiban kendaraan untuk mengurangi kepadatan yang terjadi di kawasan HR Rasuna Said.
Langkah cepat di lapangan itu dilakukan setelah kemacetan terlanjur terjadi. Situasi ini sekaligus menjadi pengingat bahwa penanganan saat acara berlangsung tidak selalu cukup jika koordinasi antarlembaga dan penyelenggara tidak dibangun sejak awal.
Koordinasi Sejak Perencanaan
Dishub menilai koordinasi sebelum acara digelar bukan sekadar formalitas. Dengan komunikasi yang dilakukan lebih dini, kebutuhan teknis di lapangan bisa dihitung dan disiapkan sesuai skala kegiatan.
Budi menyebut koordinasi memungkinkan Dishub menyiapkan kantong-kantong parkir, menempatkan petugas, serta melakukan pengaturan maupun rekayasa lalu lintas. Langkah itu juga penting untuk mengantisipasi potensi kepadatan kendaraan di sekitar lokasi kegiatan.
Selain itu, Dishub dapat lebih awal memetakan titik rawan penumpukan kendaraan. Skema keluar-masuk pengunjung, akses kendaraan pribadi, hingga kebutuhan pengamanan parkir bisa ditata sebelum arus kendaraan memuncak.
Bagi kota seperti Jakarta, aspek ini menjadi krusial karena banyak ruas jalan utama juga berfungsi sebagai jalur mobilitas harian warga. Ketika satu titik mengalami gangguan besar, dampaknya bisa menjalar ke kawasan lain dalam waktu singkat.
Transportasi Umum Jadi Solusi
Dishub juga menyarankan penggunaan transportasi umum menuju lokasi acara. Menurut Budi, pilihan ini menjadi salah satu cara untuk menekan jumlah kendaraan pribadi yang datang bersamaan ke titik kegiatan.
Jika lebih banyak pengunjung menggunakan angkutan umum, beban lalu lintas di ruas jalan sekitar dapat diminimalkan. Hal itu dinilai penting terutama pada acara hiburan atau kegiatan massal yang menghadirkan ribuan orang dalam waktu hampir bersamaan.
Dorongan untuk beralih ke transportasi umum juga berkaitan dengan keterbatasan ruang parkir di banyak lokasi kegiatan di Jakarta. Tanpa pengelolaan yang memadai, kendaraan pengunjung bisa meluber ke badan jalan dan memperparah kemacetan.
Karena itu, Dishub memandang pengaturan parkir harus menjadi bagian dari perencanaan inti acara. Penyelenggara tidak cukup hanya mengandalkan izin keramaian, tetapi juga perlu memastikan dukungan teknis mobilitas di sekitar venue berjalan baik.
Jakarta dan Tantangan Event Skala Besar
Sebagai pusat kegiatan bisnis, hiburan, serta berbagai agenda nasional dan internasional, Jakarta kerap menjadi lokasi acara dengan jumlah pengunjung sangat besar. Dalam kondisi seperti itu, perencanaan lalu lintas dan parkir tidak bisa diposisikan sebagai urusan tambahan.
Dishub menilai koordinasi yang baik antara penyelenggara, pemerintah daerah, dan aparat terkait dapat membantu menyiapkan kantong parkir tambahan, pengaturan arus kendaraan, hingga skema rekayasa lalu lintas bila diperlukan. Semakin besar skala acara, semakin besar pula kebutuhan antisipasinya.
Ke depan, Dishub DKI Jakarta menyatakan akan terus meningkatkan respons terhadap laporan masyarakat. Instansi itu juga menegaskan komitmennya memastikan petugas hadir dalam setiap persoalan yang terjadi di jalan raya.
Pada saat yang sama, Dishub kembali mengimbau seluruh penyelenggara kegiatan agar berkoordinasi sejak awal. Tujuannya agar langkah antisipasi bisa disiapkan secara optimal dan mobilitas masyarakat di sekitar lokasi acara tetap terjaga.
Source: otomotif.kompas.com