Serbuan Truk Impor China Gerus Karoseri Lokal, Pesanan Bak Anjlok hingga Tinggal 1-2 Unit

Serbuan truk impor asal China mulai memukul industri karoseri dan kendaraan niaga lokal. Asosiasi Karoseri Indonesia menilai kendaraan berat itu masuk dengan spesifikasi yang tidak sejalan dengan aturan TKDN, standar emisi, dan ketentuan operasional di Indonesia.

Dampaknya paling terasa di sektor pertambangan, yang selama ini menjadi salah satu pasar penting bagi truk niaga. Berdasarkan laporan sejumlah diler, pangsa pasar di sektor ini turun sekitar 10 hingga 30 persen dibandingkan pencapaian tahun sebelumnya.

Pasar lokal kehilangan ruang kerja

Direktur PT Metalindo Teknik Utama, Syarifuddin Tangka, mengatakan tekanan dari truk asal China sudah menggerus pasar domestik dalam dua sampai tiga tahun terakhir. Ia menyebut dampaknya paling jelas terlihat pada area pertambangan.

Menurut Syarifuddin, unit impor itu datang dalam bentuk kendaraan utuh yang sudah dilengkapi dump atau bak dari pabrik asal. Kondisi tersebut membuat peran industri karoseri lokal berkurang karena proses perakitan akhir tidak lagi melibatkan produsen dalam negeri.

“Kalau ini sudah dari dua, tiga tahun terakhir dampaknya. Kenapa? Karena mereka datang itu sudah lengkap dengan dump-nya,” ujar Syarifuddin di Karawang, Kamis (4/6/2026).

Pesanan bak truk ikut merosot

Bagi pelaku karoseri, serbuan truk complete vehicle berarti hilangnya pesanan dari agen pemegang merek. Syarifuddin menyebut, perusahaan yang dulu biasa menerima order 30 sampai 50 unit per bulan kini hanya mendapat satu atau dua pesanan.

Penurunan itu bukan hanya mengurangi volume produksi. Kondisi tersebut juga menekan rantai usaha pendukung yang selama ini hidup dari aktivitas karoseri dan perakitan kendaraan niaga di dalam negeri.

Keluhan sudah disampaikan ke pemerintah

PT Metalindo Teknik Utama bersama Askarindo mengaku sudah berulang kali menyampaikan keluhan ke kementerian terkait. Aspirasi itu disebut terus dibawa dalam berbagai pertemuan, tetapi belum diikuti solusi konkret yang dirasakan pelaku industri.

Syarifuddin mengatakan pihaknya sudah vokal menyuarakan persoalan ini di forum-forum resmi. Namun, respons yang muncul sejauh ini dinilai belum cukup menjawab tekanan yang dialami industri lokal.

Aturan dinilai tidak seimbang

Asosiasi menilai ada ketimpangan perlakuan antara industri lokal dan kendaraan impor. Produsen dalam negeri wajib mengikuti standar emisi Euro4 dan pembatasan Over Dimension Over Loading atau ODOL, sementara truk impor disebut masih ada yang menggunakan mesin Euro2 dan Euro3.

Syarifuddin juga menyoroti dimensi kendaraan impor yang menurutnya tidak mengikuti aturan yang berlaku. Ia menilai pelaku lokal dipaksa patuh pada regulasi, sedangkan kendaraan impor masuk dengan kelonggaran yang membuat persaingan menjadi tidak adil.

“Kita dibatasi dengan aturan, ada aturan ODOL yang harus kita patuhi. Sementara mobil-mobil impor ini ada yang masih Euro2, Euro3,” kata Syarifuddin.

Bagi industri karoseri, isu ini bukan sekadar soal penjualan yang turun. Jika tren impor complete vehicle terus berlanjut, ruang kerja manufaktur lokal di segmen kendaraan niaga berisiko semakin menyempit, terutama di pasar tambang yang selama ini menjadi andalan.

Exit mobile version