Malaysia dan Vietnam makin jauh melaju dalam industri mobil nasional listrik, sementara Indonesia masih tertinggal di tahap rencana. Kontras ini terlihat dari langkah agresif Proton di Malaysia dan skala produksi VinFast di Vietnam, saat Indonesia belum punya merek mobnas yang dipasarkan massal.
Proton baru saja mempercepat ekspansi pabrik kendaraan listriknya di Tanjung Malim, Malaysia. Pabrikan itu mengalokasikan investasi RM37 juta atau sekitar Rp 166 miliaran untuk memperluas fasilitas yang baru beroperasi sembilan bulan.
Kapasitas pabrik tersebut saat ini 20 ribu unit per tahun. Setelah ekspansi selesai, kapasitasnya akan naik lebih dari dua kali lipat menjadi 42 ribu unit per tahun.
Keputusan itu dipicu penjualan Proton eMas 5 yang sangat kuat. Pada Januari-April 2026, model tersebut mencatat pengiriman 8.472 unit dan menjadi mobil listrik terlaris di Malaysia.
Wakil CEO Proton, Datuk Abdul Rashid Musa, mengatakan permintaan pelanggan sudah melampaui proyeksi awal perusahaan. Ia menilai kondisi itu mempercepat rencana untuk melokalisasi kapasitas produksi.
Abdul Rashid juga menegaskan bahwa investasi tersebut bukan hanya soal volume produksi. Menurut dia, langkah itu juga menunjukkan komitmen Proton untuk membantu membangun ekosistem EV Malaysia.
Vietnam juga bergerak cepat
Di saat Malaysia memperbesar kapasitas, Vietnam juga menunjukkan ambisi yang serupa lewat VinFast. Merek dalam negeri itu sudah memperluas jejak manufaktur ke berbagai negara di Asia dan Amerika.
VinFast Auto menyebut pabriknya di Hai Phong, Vietnam, memproduksi 200 ribu unit mobil listrik selama tahun lalu. Kendaraan dari fasilitas itu tidak hanya dipasarkan di dalam negeri, tetapi juga dikirim ke berbagai negara peminat.
Sekarang VinFast tidak hanya bertumpu pada Hai Phong. Perusahaan itu juga mulai mengoperasikan tiga pabrik lain di Ha Tinh, Tamil Nadu di India, dan Jawa Barat di Indonesia.
Skala itu membuat kapasitas produksi VinFast berpotensi naik tajam tahun ini. Dengan jaringan pabrik yang makin luas, Vietnam berada di jalur berbeda dari Indonesia dalam pengembangan mobnas listrik.
Indonesia masih di tahap wacana
Di tengah ekspansi Malaysia dan Vietnam, Indonesia belum punya mobil nasional yang benar-benar masuk pasar massal. Seluruhnya masih berada pada tahap rencana dan janji politik, bukan produksi besar-besaran.
Presiden Prabowo Subianto terbaru mengungkap rencana Indonesia memiliki mobnas mulai 2028. Namun kendaraan yang dimaksud tidak secara spesifik disebut sebagai mobil listrik.
Pada kesempatan berbeda, Prabowo juga menyebut Indonesia akan memproduksi sedan listrik besar-besaran di tahun yang sama. Pernyataan itu menandakan keinginan untuk segera menasionalisasi kendaraan nonemisi.
Perbedaan arah ini terasa makin jelas jika melihat skala di negara tetangga. Malaysia sudah memperluas pabrik EV, sementara Vietnam telah memproduksi ratusan ribu unit dan mengekspornya ke banyak negara.
Indonesia justru masih berbicara soal target dua tahun mendatang. Di saat pasar kawasan bergerak cepat, pertanyaan besarnya kini bukan lagi soal mimpi, melainkan kapan industri mobnas listrik tanah air benar-benar mulai berjalan.
