Motor Listrik Melejit Saat Pasar Masih Mini, Celah Besarnya Justru Bikin Tergoda

Penjualan motor listrik di Indonesia sedang melonjak tajam, meski porsinya di pasar nasional masih sangat kecil. Dalam tiga bulan terakhir, pelaku industri mencatat volume penjualan harian naik tiga sampai empat kali lipat.

Lonjakan itu memberi sinyal penting bahwa pasar mulai bergerak lebih cepat dari sebelumnya. Di tengah dominasi motor konvensional, motor listrik mulai mendapat tempat karena biaya operasional yang jauh lebih rendah dan meningkatnya perhatian pada kendaraan rendah emisi.

CEO PT Indomobil Emotor Internasional Pius Wirawan menyebut penjualan motor listrik perusahaannya pada awal tahun masih berada di kisaran 500 hingga 600 unit per bulan. Kini, angka tersebut sudah mendekati 1.600 unit per bulan secara nasional.

Menurut Pius, kenaikan ini tidak hanya terjadi di Jakarta. Di beberapa kota di Jawa Tengah, peningkatannya bahkan mencapai delapan sampai sepuluh kali lipat.

Pasar Masih Sangat Terbuka

Besarnya peluang terlihat dari ukuran pasar sepeda motor Indonesia yang mencapai 6,5 juta unit per tahun. Sementara itu, penjualan motor listrik gabungan seluruh merek pada tahun lalu baru sekitar 50.000 unit.

Angka tersebut menunjukkan pangsa pasar motor listrik masih belum menembus satu persen. Bagi pelaku industri, kondisi ini justru menandakan ruang pertumbuhan yang masih sangat lebar.

Pius menilai potensi yang belum tergarap masih lebih dari 90 persen. Ia melihat masyarakat kini semakin memahami motor listrik, tetapi banyak yang masih berada dalam fase menunggu dan mengamati perkembangan pasar.

Kondisi ini juga terlihat di daerah. Di Sumatera Barat, khususnya Kota Padang, penjualan motor konvensional masih mencapai 9.000 sampai 10.000 unit per bulan, jauh di atas penjualan motor listrik.

Melalui diler di Jalan Khatib Sulaiman dan Kota Payakumbuh, penjualan motor listrik perusahaan itu baru berada di kisaran 30 sampai 40 unit per bulan. Untuk setahun ke depan, target penjualan di Padang dipatok 100 unit per bulan atau sekitar 1.000 hingga 1.200 unit.

Biaya Pakai Jadi Daya Tarik Utama

Salah satu pendorong utama lonjakan minat datang dari sisi penghematan biaya penggunaan. Dengan daya pengisian baterai hanya 350 Watt, motor listrik dapat diisi di rumah tanpa kebutuhan daya besar.

Biaya untuk menempuh jarak 100 kilometer disebut hanya sekitar Rp3.000. Nilai itu sekitar sepersepuluh dari biaya bensin untuk jarak yang sama.

Gambaran penghematan bulanan juga cukup mencolok. Jika motor bensin bisa menghabiskan sekitar Rp500.000 per bulan, motor listrik disebut hanya memerlukan sekitar Rp50.000.

Selain lebih hemat untuk energi, biaya perawatan motor listrik juga dinilai lebih rendah. Kombinasi dua faktor ini membuat konsumen mulai melihat motor listrik sebagai pilihan rasional, bukan sekadar alternatif baru.

Kenaikan harga minyak dunia juga disebut ikut memengaruhi perubahan perilaku konsumen. Sejumlah masyarakat mulai mengantisipasi potensi naiknya ongkos transportasi dengan beralih ke kendaraan listrik.

Penerimaan Pasar Mulai Meluas

Perubahan menarik lain terlihat dari mulai diterimanya motor listrik bekas oleh konsumen. Menurut Pius, hal ini menjadi indikator positif bahwa kepercayaan pasar terhadap teknologi tersebut mulai tumbuh.

Penerimaan terhadap unit bekas menandakan konsumen tidak lagi hanya melihat motor listrik sebagai produk baru yang belum teruji. Pasar juga mulai mempertimbangkan nilai ekonominya dalam jangka menengah.

Di sisi lain, sebagian masyarakat disebut mulai memikirkan risiko nilai jual motor bensin ke depan. Kekhawatiran akan penurunan harga jual kendaraan konvensional saat peralihan ke motor listrik semakin meluas ikut menjadi pertimbangan baru.

Tantangan Ekosistem Masih Ada

Meski minat meningkat, tantangan utama belum sepenuhnya hilang. Infrastruktur pengisian daya masih kerap dipersepsikan sebagai syarat penting sebelum masyarakat benar-benar beralih secara luas.

Namun, untuk motor listrik, Pius menegaskan pengisian di rumah dengan daya rendah pada dasarnya sudah memadai. Dukungan jaringan PLN yang stabil di kota-kota besar dan menengah juga dinilai membantu meredakan kekhawatiran soal pasokan listrik.

Pelaku industri meyakini pertumbuhan pasar akan semakin cepat jika pemahaman publik terus membaik dan ekosistem kendaraan listrik terus berkembang. Dengan penetrasi yang masih sangat kecil, setiap kenaikan adopsi berpotensi langsung mengubah peta pasar secara signifikan.

Di titik ini, lonjakan penjualan bukan sekadar angka bulanan yang membaik. Kenaikan tersebut menjadi penanda bahwa motor listrik mulai bergerak dari pasar ceruk menuju pasar yang lebih luas, dengan Indonesia masih menyimpan ruang pertumbuhan yang sangat besar.

Source: otomotif.kompas.com
Exit mobile version