BYD membuat langkah yang belum pernah diumumkan produsen mobil lain dengan menjamin ganti rugi penuh jika mobil mereka mengalami kecelakaan saat fitur mengemudi otomatis perkotaan sedang aktif. Kebijakan ini langsung menempatkan risiko finansial yang selama ini lebih sering ditanggung pengemudi atau asuransi ke pundak pabrikan.
Jaminan itu berlaku untuk fitur Urban Navigate on Autopilot atau Urban NOA, yakni kemampuan mobil menyetir sendiri di jalan kota, termasuk belok, pindah lajur, dan berhenti di lampu merah dengan minim campur tangan pengemudi. Urban NOA merupakan bagian dari God’s Eye, sistem bantuan mengemudi canggih atau ADAS buatan BYD.
Pengumuman tersebut disampaikan dalam Intelligence Strategy Launch Event di China, pekan lalu. BYD menyebut kebijakan itu sebagai Full Damage Coverage, dan menyatakan akan menanggung seluruh kerugian ekonomi bila kecelakaan secara hukum menjadi tanggung jawab pengguna saat memakai Urban NOA sesuai aturan.
Langkah ini cukup agresif karena menyangkut fitur yang paling sensitif dalam teknologi mobil modern. Saat sistem bantuan mengemudi aktif, beban kerugian biasanya jatuh ke pemilik kendaraan atau polis asuransinya jika terjadi tabrakan.
Namun, jaminan dari BYD tidak berlaku tanpa batas. Program Full Damage Coverage hanya berlangsung satu tahun, ditujukan untuk pembeli baru atau pemilik lama yang meng-upgrade God’s Eye di mobil mereka ke versi 5.0.
Cakupannya juga masih sangat terbatas. Saat ini, jaminan itu hanya berlaku di China dan belum ada penjelasan kapan kebijakan tersebut akan dibawa ke negara lain.
BYD bukan sekali ini memberi perlindungan atas fitur bantuan mengemudi. Sebelumnya, perusahaan sudah menawarkan jaminan serupa untuk Intelligent Parking atau parkir otomatis, sehingga kini BYD memiliki dua lapis perlindungan utama untuk parkir sendiri dan nyetir sendiri di kota.
Keberanian BYD disebut bertumpu pada skala armada yang besar. Perusahaan mengklaim lebih dari 3,15 juta kendaraannya yang sudah memakai ADAS telah mengaspal, dan angka itu disebut paling banyak di antara produsen China.
Selain itu, BYD mengatakan God’s Eye menerima lebih dari 200 juta kilometer rekaman perjalanan setiap hari. Data itu dipakai untuk mengasah algoritma agar sistem bisa membaca situasi jalan dengan lebih baik.
Dukungan lain datang dari tim riset yang besar. BYD menyebut memiliki 5.000 insinyur dalam pengembangan mengemudi otonom, yang diklaim sebagai tim terbesar di industri otomotif China.
Di ajang yang sama, BYD juga memperkenalkan XUANJI A3, cip pengendali mengemudi atau Driving SoC yang diklaim sebagai cip mobil 4nm pertama buatan China. Cip ini disebut sudah masuk produksi massal dan mendukung kemampuan mengemudi otonom level L3 hingga L4.
Semakin tinggi level otonom, semakin kecil peran manusia di balik kemudi. Dalam konfigurasi tiga cip, XUANJI A3 diklaim mampu memproses lebih dari 2.100 TOPS, sekaligus disebut 20 persen lebih hemat daya dibanding produk sejenis.
Rangkaian pengumuman itu menunjukkan strategi BYD untuk menggabungkan teknologi, skala data, dan tanggung jawab finansial dalam satu paket. Di tengah persaingan ADAS yang makin ketat, jaminan ganti rugi penuh untuk Urban NOA menjadi sinyal bahwa BYD ingin mendorong kepercayaan pengguna pada sistem mengemudi otomatisnya.
Source: www.cnnindonesia.com