Australia sedang mempertimbangkan angka yang bisa mengubah cara polisi menilai pengemudi pengguna ganja medis. Di negara bagian New South Wales, proposal baru berpotensi memberi ruang bagi sebagian pemegang resep untuk tetap legal mengemudi meski THC masih terdeteksi di tubuh mereka.
Selama ini, pengguna cannabis medis yang sah masih bisa diperlakukan sama seperti pengguna rekreasional saat terkena kasus drug driving. Proposal tersebut ingin menetapkan batas di sisi jalan sebesar 50 nanogram per mililiter THC dalam air liur, sehingga pengemudi dengan resep tidak otomatis kehilangan hak mengemudi hanya karena hasil tes menunjukkan jejak zat itu.
Cannabis medis sendiri sudah legal di Australia selama satu dekade. Namun, aturan yang berlaku sejauh ini membuat status legal untuk penggunaan medis tidak selalu melindungi pengemudi dari sanksi lalu lintas jika mereka terdeteksi positif dalam tes narkoba di jalan.
Skema baru itu tidak membebaskan pengemudi dari pemeriksaan awal. Jika seorang motoris dinyatakan positif cannabis dalam tes pinggir jalan, ia akan langsung dikenai larangan mengemudi selama 24 jam dan wajib menyerahkan sampel tambahan untuk tes laboratorium yang lebih rinci.
Hasil laboratorium itu akan menjadi penentu berikutnya. Jika kadarnya berada di bawah batas legal, pengemudi diperbolehkan kembali ke jalan.
Bagi mereka yang melampaui ambang 50 ng/mL, hukuman tidak langsung dijatuhkan. Pengemudi dapat menerima dua peringatan terlebih dahulu, dan tuntutan baru muncul setelah pelanggaran ketiga.
Pada tahap itu, sanksinya menjadi lebih berat. Denda yang tercantum mencapai AU$704 atau sekitar $502, disertai penangguhan SIM minimal tiga bulan.
Seorang associate professor dari Monash University’s Accident Research Center menyebut reformasi ini sebagai langkah penting untuk menyeimbangkan keselamatan jalan dengan kebutuhan pengguna cannabis medis. Ia juga menilai adanya perlindungan di dalam sistem baru untuk menjaga integritas penegakan drug driving.
Profesor itu menggambarkan kebijakan ini sebagai terobosan dunia pertama dalam penetapan batas THC di sisi jalan. Ia menyamakan dampaknya dengan pengenalan batas kadar alkohol dalam darah, seraya menyebut perubahan itu akan membantu polisi menjaga keselamatan publik.
Meski begitu, rencana ini tidak mendapat dukungan penuh dari semua pihak. Kellie Sloane, pemimpin oposisi, menyatakan tidak akan mendukung langkah tersebut, menurut ABC News.
Sloane berpendapat bahwa pemerintah memang bisa menetapkan angka ambang untuk kandungan obat dalam tubuh, tetapi dampak setiap orang berbeda. Ia menambahkan bahwa selama sains soal tingkat gangguan belum jelas, aturan seperti itu sebaiknya belum dijalankan.
Perdebatan ini menunjukkan tantangan besar dalam membangun aturan yang adil untuk pengemudi pengguna cannabis medis. Di satu sisi, pemerintah ingin mengakui penggunaan yang sah dan menghindari sanksi otomatis, tetapi di sisi lain, penegak hukum tetap membutuhkan batas yang jelas untuk menilai risiko di jalan.
Source: www.carscoops.com