Pabrik Sunderland Dipakai Chery, Langkah Ini Ternyata Bisa Ringankan Beban Nissan

Nissan membuka pintu pabrik Sunderland untuk Chery, dan langkah ini bisa menjadi penopang penting di tengah tekanan berat yang masih membayangi produsen Jepang tersebut. Bagi Nissan, kerja sama ini bukan sekadar soal berbagi fasilitas, tetapi juga upaya menjaga aset produksi tetap aktif saat perusahaan sedang menata ulang operasinya.

MoU antara Nissan Motor Co dan Chery memberi sinyal bahwa pabrik Sunderland di Inggris akan dipakai Chery mulai tahun fiskal 2027. Kesepakatan itu hadir setelah Nissan memutuskan mengonsolidasikan produksi Leaf, Qashqai, dan Juke ke Line 2 sebagai bagian dari program efisiensi biaya global.

Apa untungnya buat Nissan?

Manfaat paling langsung adalah pabrik tidak dibiarkan menganggur. CEO Nissan Ivan Espinosa sebelumnya menegaskan bahwa mencari mitra untuk mengisi pabrik merupakan bagian dari reformasi struktural yang sedang dijalankan perusahaan.

Di tengah penurunan kinerja, tambahan aktivitas produksi dari mitra bisa membantu Nissan memaksimalkan fasilitas yang sudah ada. Langkah ini juga memberi ruang bagi perusahaan untuk fokus pada penataan ulang produksi internal tanpa harus menanggung beban fasilitas yang tidak terpakai.

Nissan memang masih berada dalam posisi yang sulit. Pada 13 Mei 2026, perusahaan melaporkan rugi bersih 533,1 miliar yen atau sekitar US$3,53 miliar sepanjang tahun fiskal 2025.

Kerugian itu menjadi yang kedua secara beruntun bagi Nissan. Perusahaan menyebut stagnasi penjualan global, tekanan inflasi, dan kebijakan tarif impor Amerika Serikat sebagai penyebab utama yang menekan kinerja.

Dampak tarif AS juga tidak kecil. Kebijakan itu memangkas laba operasional Nissan sekitar 286 miliar yen atau setara US$1,9 miliar.

Espinosa bahkan memperkirakan kondisi operasional akan tetap berat sepanjang tahun fiskal 2026. Ia menyebut kenaikan biaya energi akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah sebagai salah satu faktor yang menambah tekanan.

Mengapa Chery tertarik ke Sunderland?

Bagi Chery, Sunderland memberi akses ke fasilitas produksi di Inggris pada saat merek-mereknya sedang menanjak di pasar tersebut. Hingga kini, Chery belum mengungkap model apa yang akan diproduksi di sana, tetapi perusahaan itu sudah lebih dulu membawa merek Jaecoo, Omoda, Lepas, dan lini SUV bermerek Chery ke Inggris.

Kehadiran merek-merek itu bukan tanpa hasil. Secara gabungan, merek Chery berhasil menguasai hampir 7 persen pasar otomotif Inggris dalam dua tahun terakhir.

Penguatan posisi di Inggris sejalan dengan tren bisnis Chery yang sedang tumbuh. Pada Mei 2026, Grup Chery mencatat penjualan 247.823 unit, naik 20,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Dari total itu, 100.304 unit merupakan kendaraan energi baru atau NEV. Jumlah tersebut melonjak 58,8 persen secara tahunan dan menunjukkan pergeseran permintaan yang semakin kuat ke arah kendaraan listrik dan elektrifikasi.

Chery juga mengekspor 181.871 kendaraan selama Mei. Secara kumulatif sepanjang Januari-Mei 2026, penjualan global Chery mencapai 1.100.921 unit, naik 7,2 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Ekspor perusahaan pada periode yang sama juga besar, mencapai 752.755 unit. Basis konsumen global Chery kini telah melampaui 19,62 juta orang, dengan lebih dari 6,59 juta pengguna berada di luar China.

Bagi Nissan, kombinasi antara efisiensi internal dan masuknya Chery ke Sunderland memberi napas tambahan di tengah tekanan bisnis yang belum mereda. Kerja sama ini membuat pabrik tetap punya peran di saat Nissan masih berjuang memperbaiki kinerja keuangan dan menjaga daya saing globalnya.

Source: www.cnnindonesia.com
Exit mobile version