BBM Eceran di Botol Bening Bisa Turunkan Kualitas, Ahli Ingatkan Risiko Kerak di Mesin

Menyimpan BBM eceran di botol bening bukan sekadar soal tampilan yang praktis. Menurut ahli bahan bakar dan pembakaran dari Institut Teknologi Bandung, cara penyimpanan seperti ini bisa menurunkan kualitas bensin, terutama saat wadah diletakkan di luar dan terkena sinar matahari langsung.

Risikonya tidak berhenti pada perubahan warna atau tampilan bahan bakar. Perubahan komposisi kimia pada bensin dapat memicu terbentuknya deposit atau kerak lebih banyak di sistem suplai bahan bakar dan mesin, yang pada akhirnya memengaruhi kinerja motor.

Fenomena penjualan BBM eceran dalam botol bening masih mudah dijumpai. Bensin yang dijual dengan cara ini juga kerap disimpan di area terbuka, sehingga terus terpapar panas matahari dan udara.

Tri Yuswidjajanto Zaenuri, ahli Bahan Bakar dan Pembakaran ITB, menjelaskan bahwa sinar matahari, panas, dan udara atau oksigen dapat mengubah komposisi kimia bahan bakar. Perubahan itu membuat spesifikasi fisika dan kimia bahan bakar ikut berubah.

Paparan panas dan oksigen jadi masalah utama

Menurut Tri Yuswidjajanto, salah satu contohnya terjadi pada senyawa olefin. Senyawa ini dapat saling bereaksi menjadi gum akibat pengaruh oksigen dan panas.

Perubahan tersebut membuat kandungan gum atau unwashed gum ikut berubah. Kondisi ini berpotensi menimbulkan deposit atau kerak yang lebih banyak di dalam sistem suplai bahan bakar dan mesin.

Artinya, persoalannya bukan semata pada wadah kaca atau botol bening itu sendiri. Masalah utama muncul ketika bensin disimpan dengan cara yang membuatnya mudah terpapar cahaya, panas, dan udara dalam waktu tertentu.

Dalam praktik penjualan eceran, botol bening sering diletakkan di tempat terbuka agar mudah terlihat pembeli. Namun, kondisi itu justru membuat bahan bakar lebih rentan mengalami perubahan karakter fisika dan kimia.

Dampaknya bisa terasa pada mesin

Deposit atau kerak yang terbentuk lebih banyak dapat mengganggu kerja sistem bahan bakar. Jika endapan terus menumpuk, aliran dan proses pembakaran bisa tidak berlangsung seoptimal saat bahan bakar masih dalam kondisi baik.

Tri Yuswidjajanto menegaskan bahwa perubahan kandungan gum berpotensi memperbanyak kerak di dalam mesin. Karena itu, motor yang lebih sering menggunakan bensin eceran dengan penyimpanan yang salah bisa menghadapi risiko penumpukan deposit lebih besar.

Penumpukan kerak di ruang bakar tentu bukan kondisi yang diinginkan. Saat kerak semakin banyak, kinerja motor bisa menurun dan tidak lagi maksimal.

Efek ini penting dipahami karena banyak pengguna kendaraan kerap melihat BBM eceran hanya dari sisi kemudahan akses. Padahal, cara penyimpanan bahan bakar juga ikut menentukan mutu bensin sebelum masuk ke tangki kendaraan.

Mengapa botol bening sering disorot

Botol bening membuat isi di dalamnya terlihat jelas. Dalam penjualan eceran, model penyimpanan ini memang lazim dipakai karena memudahkan penjual menunjukkan volume dan jenis BBM yang dijual.

Namun, wadah transparan yang ditempatkan di luar memperbesar paparan langsung terhadap sinar matahari. Saat dipadukan dengan panas lingkungan dan kontak dengan oksigen, kondisi ini dinilai bisa mempercepat perubahan pada bahan bakar.

Karena itu, perhatian tidak hanya tertuju pada jenis wadah, tetapi juga pada cara dan lokasi penyimpanannya. Bensin yang disimpan sembarangan di ruang terbuka memiliki risiko mutu turun dibanding bahan bakar yang tersimpan lebih terlindung.

Peringatan ini juga memberi gambaran bahwa mutu BBM tidak selalu tetap sama setelah keluar dari distribusi resmi. Setelah berada di tangan penjual eceran, kualitasnya sangat dipengaruhi oleh bagaimana bahan bakar tersebut disimpan.

Bagi pemilik motor, informasi ini relevan karena efeknya bisa muncul secara bertahap. Endapan atau deposit yang terbentuk lebih banyak di sistem suplai bahan bakar dan mesin dapat membuat performa kendaraan tidak sebaik semestinya.

Pada akhirnya, masalah utama dari penyimpanan BBM eceran di botol bening terletak pada penurunan kualitas akibat paparan sinar matahari, panas, dan oksigen. Saat spesifikasi fisika dan kimia bahan bakar berubah, risiko terbentuknya gum, deposit, dan kerak di mesin pun ikut meningkat.

Exit mobile version