Penjualan EV BYD Melaju Kencang, Tapi Produksi Baterai Jadi Penghambat Utama

BYD sedang menikmati lonjakan permintaan kendaraan listrik di pasar global, tetapi laju penjualannya kini ikut dibatasi oleh kemampuan produksi baterai. Di tengah minat yang tinggi terhadap teknologi baterai Blade generasi kedua, perusahaan belum mampu memasok kapasitas yang dibutuhkan pasar dengan cepat.

Presiden BYD Wang Chuanfu menegaskan bahwa pertumbuhan penjualan tahun ini sangat bergantung pada kemampuan produksi Blade Battery 2.0. Kondisi ini membuat ekspansi BYD tidak hanya ditentukan oleh permintaan, tetapi juga oleh kesiapan lini manufaktur baterai di dalam perusahaan.

Kapasitas produksi masih jadi hambatan utama

China EV Home melaporkan bahwa kapasitas baterai saat ini masih menjadi faktor pembatas untuk memenuhi permintaan mobil listrik di China maupun pasar global. Wang juga menyebut perhatian pasar terhadap Blade generasi kedua dan teknologi pengisian daya Megawatt Flash Charging sedang tinggi, tetapi kapasitas produksinya belum mencukupi.

BYD memang mempercepat ekspansi fasilitas produksi baterai dengan penambahan kapasitas. Jumlahnya diklaim setara untuk mendukung produksi 20 ribu hingga 30 ribu kendaraan setiap bulan.

Namun, peningkatan itu tidak bisa dilakukan secara instan. Proses manufaktur baterai Blade generasi kedua membutuhkan penyesuaian besar karena memakai material baru dan teknologi yang lebih kompleks.

Teknologi baru menuntut proses produksi berbeda

Wang menjelaskan bahwa Blade Battery generasi kedua menggunakan katoda komposit lithium manganese iron phosphate atau LMFP, serta anoda silikon-karbon. Kombinasi ini membuat proses pembuatannya lebih rumit dibandingkan baterai konvensional.

Akibatnya, sejumlah lini produksi eksisting BYD harus menjalani peningkatan besar-besaran sebelum bisa beroperasi optimal. Situasi ini menjelaskan mengapa kenaikan kapasitas tidak langsung mengikuti tingginya minat pasar terhadap produk EV BYD.

Meski begitu, BYD tetap mencatat pertumbuhan penjualan di tengah keterbatasan pasokan baterai. Kinerja itu menunjukkan permintaan terhadap kendaraan penumpang dan pikap BYD masih kuat, terutama di luar China.

Penjualan global terus melonjak

Pada Mei 2026, BYD secara akumulatif membukukan penjualan 376.990 unit kendaraan penumpang. Angka itu naik 19,4 persen dibanding April dan meningkat 8,2 persen secara tahunan.

Pertumbuhan paling agresif datang dari pasar global. Penjualan kendaraan penumpang dan pikap BYD di luar China mencapai 160.177 unit pada Mei 2026, atau melonjak 80,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Lonjakan ekspor ini ikut mendorong kebutuhan BYD untuk memperluas infrastruktur pengisian daya di luar China. Perusahaan mulai mengakselerasi pembangunan jaringan charging sebagai bagian dari ekspansi pasar internasionalnya.

Ekspansi charging dan strategi lokalisasi

Pada Mei tahun ini, stasiun pengisian cepat pertama BYD untuk pasar Eropa mulai beroperasi di Jerman. BYD menargetkan pembangunan sekitar 3.000 infrastruktur charging cepat di seluruh Eropa hingga akhir 2026.

Stasiun charging tersebut berada di 300 jaringan dealer BYD di Jerman. Langkah ini memperlihatkan bahwa perusahaan tidak hanya mengejar penjualan unit, tetapi juga membangun ekosistem pendukung untuk memperkuat kehadiran merek di pasar luar negeri.

Dalam ekspansi globalnya, BYD menargetkan ekspor 1,6 juta kendaraan pada 2026. Wang juga menyampaikan optimisme bahwa angka itu bisa dilampaui seiring dorongan permintaan dan perluasan pasar.

Untuk menghadapi hambatan perdagangan global, BYD akan memperkuat strategi lokalisasi produksi di Brasil, Eropa, Thailand, dan India. Strategi ini menjadi bagian penting dari upaya perusahaan menjaga pertumbuhan di tengah tekanan rantai pasok dan kebutuhan produksi yang semakin besar.

Wang menilai lima tahun ke depan akan menjadi periode pertumbuhan besar bagi BYD. Di saat yang sama, perusahaan juga masih membawa ambisi jangka panjang untuk menjadi produsen otomotif dengan skala terbesar di dunia pada 2030.

Exit mobile version