
Solid state battery makin sering disebut sebagai teknologi yang bisa mengubah peta mobil listrik. Alasannya sederhana, baterai ini menawarkan kombinasi yang selama ini paling dicari pengguna EV: lebih aman, lebih padat energi, dan lebih cepat diisi ulang.
Perhatian industri pun terus menguat karena solid state battery dinilai dapat menutup sejumlah kelemahan baterai yang saat ini banyak dipakai, termasuk lithium ferro phosphate atau LFP. Pabrikan otomotif dan perusahaan baterai kini berlomba mengembangkannya sebagai calon “nyawa baru” bagi kendaraan listrik generasi berikutnya.
Mengapa teknologi ini menarik
Daya tarik utama solid state battery terletak pada material elektrolitnya. Pada baterai ini, elektrolit cair digantikan material padat yang dinilai lebih stabil dan tidak mudah terbakar.
Perubahan ini penting karena isu keselamatan menjadi salah satu perhatian besar dalam pengembangan baterai EV. Dengan hilangnya cairan, risiko kebocoran, pelepasan gas, hingga kebakaran dapat berkurang drastis, termasuk risiko thermal runaway.
Selain faktor aman, solid state battery juga menjanjikan efisiensi yang lebih baik. Ecoflow menyebut teknologi ini memiliki performa yang lebih unggul dan diklaim lebih aman dibanding pendekatan baterai yang umum digunakan saat ini.
Keunggulan lain ada pada kepadatan energi. Solid state battery disebut memiliki kepadatan energi 2 sampai 3 kali lebih baik berdasarkan berat dan volume, sehingga mobil listrik berpotensi menempuh jarak lebih jauh tanpa harus membesarkan ukuran baterai.
Bagi produsen mobil, hal ini membuka beberapa kemungkinan sekaligus. Jangkauan bisa ditambah tanpa membuat baterai makin besar, atau ukuran baterai dipertahankan untuk menjaga bobot kendaraan tetap efisien.
Pengisian daya yang jauh lebih cepat
Kecepatan isi ulang menjadi nilai jual berikutnya. Elektrolit padat memungkinkan transfer ion yang lebih efisien dan cepat, sehingga waktu pengisian dapat dipangkas secara signifikan.
Sebagai gambaran, pengisian dari 10 persen ke 80 persen disebut bisa diselesaikan dalam 10 hingga 15 menit. Jika kemampuan ini benar-benar tercapai dalam aplikasi massal, pengalaman memakai mobil listrik akan terasa lebih praktis untuk perjalanan harian maupun jarak jauh.
Solid state battery juga disebut memiliki usia pakai yang lebih panjang. Degradasinya diklaim jauh lebih lambat dibanding sel lithium-ion, dengan potensi bertahan sekitar 5.000 hingga 10.000 siklus pengisian daya.
Umur pakai yang lebih lama dapat menjadi faktor penting dalam biaya kepemilikan kendaraan listrik. Baterai yang lebih awet berarti tekanan pergantian komponen utama dapat ditekan dalam jangka penggunaan yang panjang.
Belum bebas dari hambatan
Meski prospeknya besar, solid state battery belum menjadi solusi instan yang siap menggantikan semua baterai saat ini. Tantangan utamanya masih berada pada biaya produksi yang tinggi.
Karena teknologinya relatif baru, proses manufakturnya masih mahal dan kompleks. Produksi juga bergantung pada material tertentu yang tergolong langka, sehingga skala ekonominya belum sematang baterai konvensional.
Masalah berikutnya adalah produksi massal. Membuat solid state battery dalam skala global masih menghadapi tantangan logistik yang besar, dan ini menjadi salah satu alasan mengapa adopsinya belum meluas.
Dari sisi teknis, material elektrolit padat juga menyimpan persoalan tersendiri. Bahan yang umum dipakai, seperti keramik atau kaca, cenderung rigid sehingga berpotensi lebih rentan terhadap benturan.
Kerentanan itu membuat pengembangan solid state battery bukan sekadar soal mengejar kapasitas tinggi. Produsen juga harus memastikan material padat tersebut cukup tangguh untuk dipakai di kendaraan yang menghadapi getaran, tekanan, dan kondisi jalan yang beragam.
Bukan ide baru, tetapi kini lebih relevan
Meski sedang ramai dibicarakan, solid state battery bukan konsep yang benar-benar baru. Carbuzz mencatat Michael Faraday sudah menemukan elektrolit pada 1830-an, tetapi temuannya saat itu belum dikembangkan lebih jauh.
Langkah lanjutan muncul pada 1986 ketika Keiichi Kanehori membuat baterai solid state tipis. Namun teknologi itu belum mampu memberi daya untuk perangkat yang lebih besar dari jam tangan, sehingga pengembangannya tidak berlanjut luas.
Nama penting lain dalam sejarah teknologi ini adalah John Goodenough. Ia dikenal sebagai sosok yang memperkenalkan konsep solid state battery pada 2017, sekaligus tokoh besar di balik perkembangan baterai lithium-ion.
Perannya membuat Goodenough kerap disebut sebagai bapak solid state battery sekaligus bapak lithium-ion. Ia meninggal dunia pada 2023, tetapi gagasan yang ia dorong kini justru menjadi salah satu pusat perhatian industri otomotif global.
Itu sebabnya solid state battery kini dipandang bukan sekadar eksperimen laboratorium. Saat pabrikan otomotif dan perusahaan baterai sama-sama bergerak mengejarnya, teknologi ini mulai dilihat sebagai kandidat kuat yang dapat membawa mobil listrik ke fase berikutnya dengan standar keselamatan, jarak tempuh, dan kecepatan pengisian yang lebih tinggi.
Source: otodriver.com








