
Kenaikan harga Pertamax yang diumumkan Pertamina Patra Niaga mulai memunculkan kekhawatiran di pasar otomotif nasional. Dampaknya tidak berhenti pada biaya isi tangki yang lebih mahal, tetapi juga bisa merembet ke penjualan mobil menengah yang selama ini bergantung pada konsumen pengguna BBM beroktan tinggi.
Mulai Rabu, 10 Juni 2026, harga Pertamax naik dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter. Pertamax Green juga melonjak dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter, sementara Pertalite dan Biosolar tidak berubah harga.
Pengamat otomotif Yannes Martinus Pasaribu menilai tekanan paling besar akan terasa pada biaya kepemilikan kendaraan atau total cost ownership. Ia menyebut kenaikan harga Pertamax dan Pertamax Green sekitar 32 persen memberi beban langsung pada kendaraan bermesin bensin.
Simulasi sederhana menunjukkan dampaknya cukup besar pada pengeluaran harian pengguna mobil. Toyota Kijang Innova Zenix dengan tangki 52 liter sebelumnya butuh Rp639.600 untuk isi penuh Pertamax, tetapi kini biaya itu naik menjadi Rp845.000.
Selisihnya mencapai Rp205.400 untuk sekali pengisian penuh. Bagi banyak pemilik mobil menengah, angka ini dapat mengubah pertimbangan saat memakai kendaraan setiap hari.
Tekanan ke mobil bensin menengah
Yannes menilai biaya operasional yang naik signifikan akan menekan segmen ICE, terutama kelas premium dan menengah. Menurut dia, kondisi ini berpotensi mengubah perilaku konsumen yang selama ini nyaman memakai Pertamax.
Sebagian mobil modern dengan rasio kompresi 10:1 hingga 11:1 memang direkomendasikan menggunakan BBM beroktan tinggi seperti Pertamax. Ketika harga bahan bakar naik tajam, konsumen bisa mulai menghitung ulang total biaya yang harus dibayar untuk mempertahankan mobil bensin.
Yannes menyebut kenaikan ini berpotensi menekan permintaan kendaraan bermesin bensin, khususnya roda empat segmen middle hingga upper class. Ia melihat sebagian pembeli bisa menunda transaksi, memilih model yang lebih hemat BBM, atau beralih ke kendaraan hybrid.
Peluang untuk mobil hemat energi
Di sisi lain, lonjakan harga Pertamax juga membuka ruang bagi produsen untuk mempercepat transisi produk. Yannes menilai pabrikan dapat mendorong pengembangan LCGC hybrid dan BEV, sekaligus menyesuaikan lini kendaraan dengan program efisiensi BBM.
Perubahan arah itu dinilai sejalan dengan perilaku konsumen yang makin sensitif terhadap biaya operasional. Saat ongkos harian penggunaan mobil meningkat, pilihan kendaraan yang lebih irit berpotensi terlihat lebih rasional dalam jangka panjang.
Dampaknya tidak hanya berhenti di ruang pamer. Dealer, produsen mobil, dan industri pendukung otomotif juga berpotensi terkena imbas jika penjualan mobil bensin melambat dalam jangka pendek.
Motor lebih tahan, tapi tidak semua
Efek kenaikan harga BBM nonsubsidi ini dinilai tidak merata di semua segmen kendaraan. Menurut Yannes, motor relatif lebih ringan terdampak karena mayoritas penggunanya masih memakai Pertalite yang harganya tetap.
Hanya motor besar atau premium yang diperkirakan ikut merasakan tekanan biaya. Karena itu, perubahan perilaku paling besar justru diperkirakan muncul di kelompok pemilik mobil menengah yang selama ini mengandalkan Pertamax.
Kombinasi antara harga BBM yang lebih mahal dan biaya operasional yang naik dapat membuat sebagian konsumen menahan keputusan membeli mobil baru. Di tengah kondisi itu, pasar otomotif nasional menghadapi tantangan baru yang datang bukan dari showroom, melainkan dari pompa bensin.









