Semakin banyak konsumen Amerika Serikat yang mengenal kendaraan otonom, tetapi tingkat kepercayaan mereka tidak ikut naik. Studi JD Power 2026 U.S. Mobility Confidence Index menunjukkan pemahaman konsumen soal teknologi dan kemampuan AV meningkat menjadi 58% dari 43% pada 2024, namun rasa aman untuk menumpangi kendaraan itu tetap rendah.
Dari 2.898 responden berusia 18 tahun ke atas yang mengisi survei daring pada April, kurang dari seperempat mengatakan mereka akan merasa “nyaman” naik kendaraan yang sepenuhnya self-driving. Skor kenyamanan konsumen pada indeks 100 poin itu juga nyaris tidak bergerak dalam tiga tahun terakhir, yaitu 37 pada 2023, lalu 39 pada 2024 dan 2026.
Rasa aman masih jadi hambatan utama
Keraguan itu tidak muncul tanpa alasan. Dalam studi tersebut, 60% konsumen menyoroti keselamatan pribadi sebagai masalah utama, 58% khawatir soal penanganan keadaan darurat, dan 51% menilai performa kendaraan dalam kondisi sulit seperti cuaca buruk dan lalu lintas padat masih jadi persoalan.
Lisa Boor, direktur auto benchmarking and mobility development di JD Power, mengatakan kunci untuk meningkatkan kepercayaan ada pada keselamatan yang terbukti, performa di dunia nyata, dan manfaat yang jelas bagi konsumen. Ia menambahkan bahwa konsumen perlu melihat sistem ini mampu merespons situasi tak terduga, bekerja andal dalam kondisi nyata, dan menjelaskan dengan jelas apa yang sedang dilakukan.
Kepercayaan naik saat risikonya turun
Hasil survei juga menunjukkan bahwa sikap konsumen berubah tergantung skenarionya. Lebih dari separuh responden, atau 54%, mengatakan mereka akan lebih percaya pada situasi berisiko lebih rendah dan mudah diprediksi seperti pengambilan makanan, dibanding hanya 31% untuk mengangkut anak-anak.
Pola itu menegaskan bahwa semakin tinggi persepsi risikonya, semakin rendah pula rasa percaya terhadap kendaraan otonom. Dengan kata lain, konsumen tidak menolak semua penggunaan AV secara merata, tetapi mereka jauh lebih hati-hati saat tugasnya menyangkut keselamatan manusia secara langsung.
Nilai guna belum dianggap meyakinkan
Masalah lain muncul dari persepsi nilai. Menurut studi itu, hanya kurang dari sepertiga responden, atau 30%, yang mengatakan kendaraan otomatis tidak akan berguna pada titik mana pun dalam hidup mereka.
Di sisi lain, di antara mereka yang melihat setidaknya ada nilai dari kendaraan self-driving, 24% hingga 28% di berbagai kelompok demografis menilai teknologi ini mungkin berguna ketika mereka memasuki usia pensiun. Sebanyak seperempat responden juga menganggap AV bisa membantu dalam situasi tertentu, seperti transportasi ke dan dari janji medis atau ketika mereka memiliki keterbatasan mobilitas.
Truk otonom juga belum mendapat restu penuh
Sikap campuran terlihat jelas pada kendaraan komersial tanpa pengemudi. Kenyamanan terhadap barang yang diangkut oleh truk self-driving meraih 46 poin pada indeks, yang disebut organisasi itu sebagai atribut dengan skor tertinggi dalam studi.
Namun, mayoritas responden masih meragukan keamanannya. Hanya 16% yang mengatakan mereka nyaman berbagi jalan dengan semi-truk self-driving yang sepenuhnya otomatis, sementara 43% menilai truk itu lebih tidak aman dibanding semi-truk yang dikemudikan manusia.
Butuh bukti, bukan sekadar edukasi
Bryan Reimer, peneliti di AgeLab MIT Center for Transportation and Logistics, mengatakan kendaraan otomatis membutuhkan lebih dari kemajuan teknik, pilot yang lebih besar, atau edukasi publik. Menurut dia, yang dibutuhkan adalah ekosistem tepercaya yang dibangun di atas data performa yang transparan, batas tata kelola yang jelas, dan akuntabilitas yang tegas.
Reimer juga menilai bahwa saat kota dan negara bagian mempertimbangkan penerapan teknologi ini, langkah yang paling masuk akal adalah bergerak hati-hati, menetapkan syarat yang jelas, dan memperluas penggunaan hanya di area yang memang didukung bukti. Pendekatan itu dinilai lebih mungkin membangun penerimaan publik yang bertahan lama, dukungan politik, dan pertumbuhan yang bertanggung jawab.
