BMKG resmi mengakhiri peringatan dini tsunami setelah gempa bumi bermagnitudo 7,7 mengguncang Laut Sulawesi atau pantai selatan Mindanao, Filipina. Keputusan ini diambil setelah pemantauan menunjukkan tidak ada lagi kenaikan muka air laut yang signifikan dan berpotensi membahayakan.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menyampaikan status itu dicabut secara resmi pada pukul 10.15 WIB. Ia menegaskan bahwa hasil observasi di sejumlah wilayah terdampak tidak lagi memperlihatkan kenaikan air laut yang mengkhawatirkan.
Pengakhiran peringatan dini dinilai penting agar tim penanggulangan bencana gabungan bisa bergerak lebih cepat dalam tahap berikutnya. Basarnas, BPBD, BNPB, TNI, dan Polri disebut perlu segera melakukan konsolidasi serta langkah penyelamatan yang dibutuhkan di lokasi terdampak.
Sebelum status itu diakhiri, stasiun pemantau gelombang pantai atau tide gauge BMKG sempat merekam kedatangan gelombang tsunami di beberapa titik. Gelombang tertinggi tercatat di Palengen, Sangihe, Sulawesi Utara, dengan ketinggian 75 sentimeter pada pukul 08.20 WIB.
Selain di Palengen, anomali gelombang juga terdeteksi di sejumlah wilayah lain. Paleleh, Sulawesi Tengah, tercatat setinggi 45 cm, Melonguane 32 cm, Tahuna 30 cm, Bitung 29 cm, serta Loloda dan Ternate di Maluku Utara masing-masing 9 cm dan 14 cm.
BMKG juga memaparkan dampak guncangan gempa di daratan dan pulau-pulau sekitar sumber gempa. Getaran paling kuat dirasakan di Miangas dan Melonguane dengan intensitas 6 MMI, yang berarti getaran dirasakan semua penduduk dan dapat menimbulkan plester dinding jatuh serta kerusakan cerobong asap pabrik.
Guncangan dengan skala 5 MMI turut dirasakan di Siau dan Tagulandang. Sementara itu, Morotai, Halmahera Utara, dan Kota Manado merasakan getaran 4 MMI yang membuat sebagian besar warga terbangun dari tidur.
Hingga pukul 10.00 WIB, BMKG mencatat 20 gempa bumi susulan dengan magnitudo antara 3,9 hingga 6,7. Dari jumlah itu, dua gempa susulan dilaporkan dirasakan oleh masyarakat.
Meski ancaman tsunami dinyatakan berakhir, BMKG tetap meminta warga tidak lengah terhadap dampak lanjutan gempa. Masyarakat diimbau mewaspadai potensi runtuhan bangunan akibat gempa susulan dan memeriksa kelayakan struktur hunian sebelum kembali masuk ke rumah.







