Mulai Hari Ini Pertamax Rp16.250 per Liter, Pengendara Harian Hadapi Beban Baru

Mulai hari ini, harga Pertamax melonjak tajam menjadi Rp16.250 per liter. Kenaikan ini langsung menjadi perhatian karena selisihnya jauh dari harga sebelumnya yang berada di Rp12.300 per liter.

Dampaknya terasa cepat bagi pengendara yang mengandalkan BBM nonsubsidi untuk mobilitas harian. Biaya perjalanan berpotensi naik, baik untuk aktivitas rutin di dalam kota maupun perjalanan jarak jauh.

Kenaikan juga terjadi pada Pertamax Green 95. Produk beroktan tinggi yang diklaim lebih ramah lingkungan itu kini dijual Rp17.000 per liter, naik dari sebelumnya Rp12.900 per liter.

Di tengah lonjakan dua jenis bensin nonsubsidi tersebut, Pertamax Turbo tidak berubah. Harganya tetap bertahan di level Rp20.750 per liter.

Harga BBM Berlaku Mulai Hari Ini

Penyesuaian ini berlaku mulai Rabu, 10 Juni 2026. Perubahan harga terutama menyasar produk bensin nonsubsidi, sementara sejumlah jenis BBM lain masih bertahan.

Untuk BBM subsidi, belum ada perubahan harga. Pertalite tetap dijual Rp10.000 per liter dan Biosolar masih di angka Rp6.800 per liter.

Stabilnya harga BBM subsidi menjadi bagian yang ikut diperhatikan masyarakat. Kondisi ini diharapkan dapat membantu menjaga daya beli di tengah dinamika ekonomi yang masih berlangsung.

Sementara itu, pada kelompok solar nonsubsidi, harga juga tidak bergerak. Dexlite tetap berada di Rp23.000 per liter dan Pertamina Dex bertahan di Rp24.800 per liter.

Berikut daftar harga BBM Pertamina yang berlaku mulai 10 Juni 2026:

Jenis BBMHarga per liter
PertaliteRp10.000
BiosolarRp6.800
PertamaxRp16.250
Pertamax Green 95Rp17.000
Pertamax TurboRp20.750
DexliteRp23.000
Pertamina DexRp24.800

Beban Pengeluaran Diperkirakan Bertambah

Kenaikan paling mencolok memang terjadi pada Pertamax dan Pertamax Green 95. Karena dua produk ini banyak dipakai pengguna kendaraan pribadi, beban pengeluaran rumah tangga berpotensi ikut bertambah.

Bagi pengendara yang rutin mengisi BBM nonsubsidi, perubahan harga ini bisa langsung terasa pada anggaran harian. Pengeluaran untuk perjalanan pergi-pulang kerja, aktivitas usaha, hingga perjalanan antarkota diperkirakan meningkat.

Efeknya tidak berhenti pada konsumen pengguna kendaraan pribadi. Perubahan harga energi juga dinilai berpotensi mendorong kenaikan ongkos distribusi barang dan jasa.

Jika biaya distribusi meningkat, dampaknya bisa menjalar ke berbagai sektor perekonomian. Karena itu, penyesuaian harga BBM nonsubsidi kerap menjadi isu yang cepat menarik perhatian publik.

Alasan Penyesuaian Harga

Pertamina menyebut perubahan harga dilakukan dengan mempertimbangkan sejumlah faktor. Di antaranya adalah perkembangan harga minyak mentah dunia dan pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.

Evaluasi tersebut dilakukan secara berkala sesuai mekanisme yang berlaku untuk BBM nonsubsidi. Artinya, produk nonsubsidi memang lebih terbuka terhadap penyesuaian mengikuti perubahan variabel pasar.

Fakta bahwa harga subsidi tetap bertahan, sementara sebagian besar penyesuaian kali ini menyasar bensin nonsubsidi, menjadi pembeda utama dalam perubahan terbaru ini. Fokus kenaikan berada pada segmen bahan bakar dengan konsumsi yang umumnya dipilih pengguna kendaraan tertentu untuk kebutuhan performa atau preferensi kualitas bahan bakar.

Meski demikian, lonjakan Pertamax tetap berpotensi memicu pembahasan luas di masyarakat. Sebab, produk ini selama ini menjadi salah satu pilihan utama bagi banyak pemilik kendaraan yang tidak menggunakan BBM subsidi.

Dengan harga baru yang berlaku mulai hari ini, pengendara perlu menghitung ulang kebutuhan pengisian bahan bakar mereka. Perhatian publik juga diperkirakan akan tetap tertuju pada pergerakan harga BBM nonsubsidi dalam beberapa waktu ke depan.

Terkait