Insiden kebakaran sempat terjadi di fasilitas perakitan BYD di Subang, Jawa Barat, dan memunculkan kepulan asap tebal dari area proyek. BYD Motor Indonesia menyebut pemicunya adalah keteledoran atau kelalaian dari pihak kontraktor, bukan gangguan besar yang menghentikan aktivitas pabrik.
Perusahaan menegaskan peristiwa itu hanya menyasar bagian kecil di area atap dan berhasil ditangani cepat. Menurut BYD, asap tampak pekat karena material yang terbakar mengandung plastik dan karet, sementara api sudah padam dalam sekitar 10 menit.
Head of PR & Government Relations PT BYD Motor Indonesia, Luther Panjaitan, mengatakan insiden tersebut merupakan kejadian kecil. Ia menyebut ada oknum dari pihak kontraktor yang melakukan keteledoran sehingga memicu kebakaran pada sebagian kecil posisi atap.
BYD menyatakan pemadaman dilakukan secara mandiri dengan dukungan fasilitas pemadaman yang tersedia di lokasi. Karena itu, dampak kebakaran disebut terbatas dan tidak sampai mengganggu jalannya tahapan persiapan pabrik.
Operasional disebut tetap berjalan
Di tengah perhatian publik terhadap insiden itu, BYD memastikan operasional fasilitas di Subang tetap berlangsung. Persiapan finalisasi dan proses commissioning disebut terus berjalan tanpa penundaan.
Penegasan itu penting karena pabrik Subang merupakan fasilitas strategis bagi ekspansi BYD di Indonesia. Lokasi ini diproyeksikan menjadi basis penting untuk produksi lokal mobil listrik yang dipasarkan ke konsumen dalam negeri.
Luther mengatakan tidak ada kendala pada persiapan produksi massal akibat insiden di area atap tersebut. Menurut dia, kondisi pabrik tetap mendukung agenda yang sudah disusun perusahaan.
BYD juga mengungkap bahwa sejumlah kendaraan dari fasilitas itu sudah mulai dipakai untuk kegiatan test drive. Hal itu dijadikan penanda bahwa aktivitas perakitan dan persiapan operasional di dalam pabrik masih berlangsung.
Asap tebal, dampak terbatas
Kepulan asap yang terlihat besar sempat menarik perhatian karena muncul dari area pabrik yang sedang disiapkan. Namun, BYD menjelaskan visual asap yang mencolok tidak mencerminkan skala kerusakan yang besar.
Perusahaan menyebut asap pekat muncul karena material yang terbakar berbahan plastik dan karet. Dengan kata lain, sumber asap berasal dari jenis material tertentu yang memang bisa menghasilkan kepulan tebal saat terbakar.
Penjelasan itu disampaikan untuk menegaskan bahwa kebakaran tidak meluas ke fasilitas utama. BYD menekankan bahwa yang terbakar hanya bagian kecil pada posisi atap di area proyek.
Meski demikian, penyebutan adanya kelalaian kontraktor menunjukkan perusahaan melihat faktor manusia sebagai penyebab utama. BYD juga secara khusus menyebut keteledoran itu dilakukan oleh oknum, bukan menggambarkan seluruh pihak kontraktor.
Pabrik Subang jadi kunci produksi lokal
Fasilitas BYD di Subang diproyeksikan memiliki kapasitas produksi hingga 150 ribu unit per tahun. Angka itu menempatkan pabrik ini sebagai elemen penting dalam rencana produksi lokal BYD di Indonesia.
Keberadaan pabrik tersebut juga menjadi bagian dari komitmen perusahaan untuk membangun mobil listrik secara lokal. Karena itu, setiap perkembangan di fasilitas ini mendapat perhatian besar dari pasar dan calon konsumen.
Dalam kesempatan yang sama, Luther juga memberi sinyal terkait status BYD M6 DM atau Dual Mode. Ia belum menyampaikan keterangan resmi secara gamblang, tetapi mengindikasikan model itu semestinya sudah diproduksi secara lokal.
Menurut dia, M6 DM dipersiapkan secara khusus untuk Indonesia. Kendaraan itu disebut disiapkan dan dilengkapi dengan komponen-komponen yang diproduksi di Indonesia.
Luther belum menguraikan detail teknis mengenai proses produksi model tersebut. Namun ia menegaskan bahwa BYD M6 DM memang disiapkan untuk konsumen Indonesia.
Pernyataan itu menambah konteks bahwa fasilitas Subang bukan sekadar proyek pembangunan pabrik biasa. Pabrik ini juga terkait langsung dengan agenda lokalisasi produk dan kesiapan BYD memperluas jejak manufakturnya di pasar nasional.
Insiden kebakaran yang sempat memunculkan asap tebal itu pun, menurut BYD, tidak mengubah arah rencana tersebut. Perusahaan tetap melanjutkan finalisasi fasilitas, proses commissioning, dan penggunaan kendaraan hasil produksi pabrik untuk kebutuhan test drive.
Source: oto.detik.com






