Truk Cuma 4 Persen di Jalan, Tapi Bisa Hemat Biaya Negara Rp5 Ribu Triliun

Elektrifikasi truk mulai dilihat sebagai langkah yang memberi dampak besar, bukan sekadar pelengkap transisi kendaraan listrik. Institute for Essential Services Reform atau IESR menilai segmen ini menyimpan potensi besar untuk menekan emisi, mengurangi polusi udara, dan memangkas beban biaya energi nasional.

Alasannya sederhana tetapi kuat. Truk hanya sekitar 4 persen dari total kendaraan yang beroperasi di jalan, namun kontribusinya terhadap emisi sektor transportasi mencapai hampir 30 persen.

Kepala Kebijakan Transisi dan Dekarbonisasi IESR, Ilham Rizqian, menilai ketimpangan itu menunjukkan bahwa angkutan barang harus menjadi fokus utama dekarbonisasi transportasi nasional. Ia menyebut elektrifikasi truk sebagai strategi yang memberi dampak jauh lebih besar dibandingkan proporsi jumlah kendaraannya.

Emisi kecil dalam jumlah, besar dalam dampak

IESR juga mencatat bahwa armada truk yang mayoritas masih memakai diesel menjadi sumber polusi udara yang signifikan. Polutan seperti particulate matter atau PM, nitrogen oxide atau NOx, dan sulfur oxide atau SOx menyumbang sekitar 11 persen polusi udara secara nasional.

Karena itu, penggantian truk diesel dengan truk listrik dinilai dapat menghasilkan efek lingkungan yang lebih besar daripada elektrifikasi kendaraan lain. Ilham menyebut langkah itu sebagai strategi “big impact” karena jumlahnya memang kecil, tetapi kontribusi emisinya sangat besar.

IESR melihat sumber utama emisi transportasi barang berasal dari truk ringan berkapasitas di bawah 3,5 ton, truk sedang 3,5 hingga 12 ton, dan truk berat di atas 12 ton. Meski demikian, fokus transisi energi dinilai lebih tepat diarahkan ke segmen truk sedang dan truk berat karena kontribusi emisinya lebih dominan.

Permintaan logistik terus naik

Tekanan emisi dari sektor ini juga meningkat seiring pertumbuhan ekonomi dan distribusi barang. Ekspansi industri manufaktur, pertambangan, serta lonjakan aktivitas perdagangan elektronik membuat kebutuhan armada logistik terus bertambah.

IESR mencatat emisi dari sektor angkutan barang tumbuh hampir 12 persen per tahun sepanjang periode 2020 hingga 2024. Ilham menjelaskan bahwa setiap pertumbuhan sektor produksi hampir selalu diikuti peningkatan kebutuhan armada untuk mengangkut bahan baku maupun produk jadi.

Struktur armada truk nasional juga menjadi tantangan tersendiri. IESR memperkirakan sekitar sepertiga populasi truk di Indonesia telah beroperasi lebih dari 20 tahun.

Usia kendaraan yang panjang membuat konsumsi bahan bakar menjadi kurang efisien dan emisinya lebih tinggi. Kondisi ini dinilai dapat menghambat percepatan peralihan menuju transportasi rendah karbon, terutama karena masih banyak kendaraan yang dipakai melebihi usia operasional idealnya.

Beban biaya energi ikut mengintai

Selain isu lingkungan, IESR menyoroti ketergantungan sektor logistik terhadap bahan bakar minyak yang sangat rentan terhadap gejolak geopolitik global. Fluktuasi harga minyak dunia kerap terjadi saat muncul konflik atau ketegangan internasional, dan situasi itu dapat meningkatkan biaya logistik sekaligus memperbesar beban subsidi energi pemerintah.

Ilham mencontohkan ketegangan geopolitik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang sempat mendorong harga minyak dunia menembus 114 dolar AS per barel. Menurut dia, sektor logistik Indonesia perlu mulai mengurangi ketergantungan terhadap komoditas yang rentan terhadap gangguan global seperti itu.

IESR memperkirakan setiap unit truk saat ini membutuhkan subsidi dan kompensasi energi sekitar Rp21 juta per tahun akibat konsumsi bahan bakar fosil. Jika dihitung berdasarkan populasi truk nasional, total beban subsidi dan kompensasi dapat mencapai sekitar Rp313 triliun dalam kondisi harga minyak normal.

Saat harga minyak berada di level tinggi seperti 114 dolar AS per barel, angka itu diperkirakan melonjak menjadi sekitar Rp500 triliun. Dalam jangka panjang, IESR memproyeksikan beban subsidi per truk dapat mencapai Rp50 juta per tahun pada 2060 jika tren biaya energi terus meningkat.

Potensi penghematan jangka panjang

Di tengah proyeksi biaya yang terus naik, elektrifikasi truk dinilai menawarkan ruang penghematan besar. Berdasarkan simulasi IESR, adopsi masif truk listrik hingga sekitar 7,6 juta unit pada 2060 berpotensi menghasilkan penghematan kumulatif hingga Rp5.000 triliun.

Angka itu hampir dua kali lipat dari pendapatan negara dalam APBN 2025 yang berada di kisaran Rp2.750 triliun. Bagi IESR, perhitungan tersebut memperlihatkan bahwa transisi truk listrik bukan hanya soal pengurangan emisi, tetapi juga soal efisiensi fiskal dan ketahanan energi dalam jangka panjang.

Terkait