Tekanan terhadap CEO Honda Motor Company, Toshihiro Mibe, disebut sudah sampai ke level yang tidak biasa. Menurut Autodrive, mantan petinggi senior Honda bahkan pernah meminta Mibe untuk mundur dari jabatannya.
Nama yang disebut adalah Nobuhiko Kawamoto, mantan orang nomor satu di Honda. Dorongan itu muncul di tengah kekhawatiran bahwa Honda belum cukup tanggap membaca kebutuhan konsumen, terutama di pasar Tiongkok yang bergerak sangat dinamis.
Sorotan terhadap Mibe tidak lepas dari situasi besar yang sedang dihadapi Honda. Pabrikan Jepang itu dinilai masih berada di persimpangan jalan saat menentukan produk yang paling sesuai dengan arah kebutuhan pasar otomotif saat ini.
Kegamangan itu terlihat dari perubahan arah dalam strategi elektrifikasi. Honda disebut membatalkan rencana untuk sepenuhnya menghasilkan kendaraan listrik pada 2040, termasuk menghentikan tiga program EV yang sebelumnya sedang berjalan.
Langkah tersebut memunculkan pertanyaan baru tentang konsistensi strategi produk Honda. Di saat banyak pabrikan berlomba memperkuat lini elektrifikasi, portofolio Honda untuk masuk ke segmen NEV dinilai masih minim untuk ukuran produsen sebesar Honda.
Tekanan makin besar karena persoalannya bukan hanya soal arah teknologi. Sejumlah komentar resmi Mibe saat menanggapi tantangan yang dihadapi Honda juga disebut dianggap kontra produktif.
Dari sisi bisnis, situasinya juga disebut mengkhawatirkan. Selama tujuh dekade perjalanan perusahaan yang dirintis Soichiro Honda, pengumuman soal kerugian bisnis disebut baru muncul di bawah kepemimpinan Mibe.
Kondisi itu memberi dampak langsung pada kepastian produk yang beredar di pasar. Sejumlah model yang masih dipasarkan maupun direncanakan hadir disebut belum memiliki kejelasan soal facelift hingga model change.
Dampak ke lini model
Salah satu contoh yang mencuat adalah Honda Odyssey. Model generasi saat ini disebut masih akan diproduksi hingga Maret 2030.
Perpanjangan usia produk itu memperlihatkan bahwa Honda sedang berhitung ulang dalam pembaruan model. HR-V juga diperkirakan akan bertahan lebih lama dari rencana masa edar yang sebelumnya diharapkan.
Bagi pasar, ketidakjelasan ritme pembaruan ini bisa menjadi sinyal penting. Konsumen biasanya menunggu kepastian soal penyegaran atau pergantian model, terutama di segmen yang persaingannya bergerak cepat.
Di sisi lain, Honda tetap memiliki beberapa tumpuan untuk memperbaiki situasi. Harapan itu salah satunya diarahkan ke Accord terbaru yang disebut didengungkan akan hadir dengan tampilan dan performa terbaik dibanding sebelumnya.
Model itu juga diproyeksikan menjadi bagian dari arah baru Honda di segmen sedan. Setelah itu, Accord disebut akan berkembang menjadi sedan hibrida penuh pada 2030.
Taruhan pemulihan reputasi
Selain Accord, Honda juga masih menyiapkan pengembangan teknologi mesin baru. Rencana pengembangan mesin V6 hibrida terbaru disebut tengah dilakukan secara intensif.
Program ini dinilai bisa menjadi salah satu jalan untuk memulihkan reputasi Honda. Di tengah kritik terhadap arah perusahaan, keberhasilan menghadirkan produk yang kuat dan relevan bisa menjadi pembuktian penting.
Prelude juga disebut sebagai salah satu pertaruhan Honda untuk tetap eksis. Kehadiran model seperti ini memperlihatkan bahwa Honda masih mencoba menjaga daya tarik merek sambil mencari format produk yang paling sesuai dengan perubahan pasar.
Namun tantangan utamanya tetap berada pada konsistensi. Honda dinilai perlu kembali menciptakan kesinambungan dalam menyiapkan produk baru yang aktual dan sesuai dengan kebutuhan konsumen.
Fokus itu menjadi makin penting karena tekanan terhadap pimpinan perusahaan kini sudah terbuka ke ruang publik. Saat mantan petinggi sampai meminta CEO mundur, sorotannya bukan lagi sekadar evaluasi internal, melainkan juga penilaian atas kemampuan Honda membaca perubahan industri.
Pasar Tiongkok menjadi salah satu titik paling sensitif dalam persoalan ini. Wilayah itu dikenal sangat dinamis, sehingga keterlambatan merespons kebutuhan konsumen dapat langsung memengaruhi posisi merek di tengah kompetisi yang sangat agresif.
Karena itu, masa depan Honda kini banyak ditentukan oleh dua hal yang berjalan bersamaan. Pertama, seberapa cepat perusahaan menata ulang strategi elektrifikasi dan produk, dan kedua, apakah model-model yang sedang disiapkan benar-benar mampu menjawab keraguan yang kini mengelilingi kepemimpinan Toshihiro Mibe.
