Nissan mulai memangkas drastis waktu pengembangan mobil baru, dari sekitar 55 bulan menjadi 26 bulan. Perubahan ini menandai pergeseran besar di tengah persaingan industri otomotif yang makin menuntut produk hadir lebih cepat ke pasar.
Yang membuat langkah ini menonjol bukan hanya target waktunya, tetapi juga sumber pembelajarannya. Nissan secara terbuka menjadikan China sebagai acuan untuk teknologi, efisiensi biaya, dan kecepatan pengembangan kendaraan.
Presiden Nissan Ivan Espinosa menyebut percepatan itu didukung pemanfaatan kecerdasan buatan atau AI. Menurut dia, China kini menjadi standar industri dalam teknologi, biaya, dan waktu pengembangan, sehingga pengetahuan dari sana akan dipelajari lalu dibawa ke pasar lain.
Strategi baru tersebut akan diterapkan pada generasi terbaru Skyline yang dijadwalkan meluncur pada musim dingin tahun ini. Model itu menjadi salah satu wujud awal dari pendekatan pengembangan yang lebih ringkas di tubuh Nissan.
China Jadi Patokan Baru
Selama bertahun-tahun, Jepang dan Jerman dikenal sebagai rujukan utama industri otomotif dunia. Kualitas produk, kematangan teknologi, dan daya tahan menjadi modal utama yang mengangkat pabrikan dari dua negara itu di pasar global.
Namun peta itu kini mulai berubah. China yang dulu lebih sering dipandang sebagai basis produksi dan pasar penerima teknologi, kini justru menjadi contoh baru dalam kecepatan kerja industri otomotif.
Pabrikan China disebut mampu mengembangkan model baru dalam waktu sekitar dua tahun. Kecepatan itu membuat mereka bisa membawa produk ke pasar jauh lebih cepat dibanding pola pengembangan tradisional.
Sebaliknya, banyak produsen otomotif mapan di Jepang dan Barat masih membutuhkan sekitar 48 sampai 60 bulan untuk satu siklus pengembangan kendaraan. Selisih waktu itu menjadi tekanan besar bagi pemain lama yang harus menjaga daya saing.
Perubahan ritme ini tidak hanya dilihat oleh Nissan. Pimpinan Mercedes-Benz sebelumnya juga pernah menyebut bahwa kecepatan pengembangan di China mulai menjadi ritme baru industri otomotif dunia.
Mengapa Nissan Bergerak Cepat
Pemangkasan waktu dari 55 bulan ke 26 bulan menunjukkan Nissan ingin keluar dari pola lama yang dianggap terlalu lambat. Di tengah perubahan teknologi kendaraan dan persaingan yang ketat, jeda peluncuran yang terlalu panjang bisa membuat produk tertinggal saat tiba di pasar.
AI menjadi salah satu alat utama untuk mendukung percepatan itu. Nissan menempatkan teknologi tersebut sebagai bagian penting dalam mengubah proses pengembangan agar lebih efisien.
Langkah ini juga memperlihatkan bahwa persaingan otomotif kini tidak hanya soal kualitas produk akhir. Kecepatan membaca tren, merancang kendaraan, dan mengeksekusinya ke pasar menjadi faktor yang sama pentingnya.
Bagi Nissan, belajar dari China berarti mengadopsi pola kerja yang lebih cepat dan lebih responsif. Pendekatan ini sekaligus menunjukkan bahwa sumber inovasi industri otomotif global tidak lagi terpusat pada negara-negara tradisional.
Industri Global Sedang Bergeser
Perubahan yang dilakukan Nissan muncul di tengah pergeseran yang lebih luas di industri otomotif dunia. Banyak produsen mulai berupaya mempersingkat waktu pengembangan agar tetap relevan dalam persaingan yang bergerak cepat.
Honda juga merasakan hal serupa saat melihat langsung kemampuan pemasok lokal di China. Perusahaan itu menilai pemasok setempat dapat memproduksi berbagai komponen dalam jumlah besar dalam waktu singkat.
Pengalaman itu memperlihatkan bahwa kekuatan China tidak hanya berada di sisi merek kendaraan, tetapi juga pada ekosistem industrinya. Rantai pasok yang cepat dan fleksibel ikut mendukung lahirnya produk baru dalam tempo lebih singkat.
Kondisi tersebut membuat pola kerja lama semakin sulit dipertahankan tanpa penyesuaian. Produsen yang masih mengandalkan siklus pengembangan panjang berisiko tertinggal oleh pemain yang lebih cepat merespons pasar.
Data ekspor juga menunjukkan besarnya skala industri otomotif China. Negara itu mengekspor sekitar tujuh juta unit mobil per tahun, dan hampir setengahnya merupakan kendaraan listrik.
Besarnya volume itu memperkuat posisi China sebagai pusat pertumbuhan baru industri otomotif. Bagi Nissan, keputusan untuk belajar dari China bukan sekadar langkah internal, melainkan respons terhadap perubahan arah persaingan global yang kini bergerak dengan tempo berbeda.
Source: otomotif.kompas.com






