Pemilik Tesla di China menemukan cara yang tak biasa untuk mengelabui sistem pemantauan pengemudi. Mereka memakai kepala boneka kecil yang ditempel pada suction cup, lalu meletakkannya di depan kamera kabin agar mobil mengira pengemudi terus memperhatikan jalan.
Trik ini menarik perhatian karena bukan sekadar akal-akalan ringan. Pada mobil Tesla, fitur Autopilot dan Full Self-Driving sama-sama masuk kategori sistem bantuan berkendara Level 2, sehingga tetap menuntut pengemudi memantau jalan.
Kepala boneka sebagai “penumpang” palsu
Wired melaporkan bahwa situs e-commerce di China mulai menjual “travel companions” yang dipasarkan khusus untuk pemilik Tesla. Wujudnya ternyata hanya kepala boneka seukuran bola pingpong, dan beberapa di antaranya bahkan dibuat menyerupai selebritas seperti Dwayne “The Rock” Johnson.
Gagasan utamanya sederhana, yakni menempelkan benda itu tepat di depan kamera yang menghadap ke kabin. Dengan posisi yang pas, Tesla membaca arah kepala dan mata seolah-olah pengemudi sedang menatap lurus ke depan.
Tesla menggunakan pantauan kepala dan mata untuk menilai perhatian pengemudi. Jika sistem mendeteksi pengemudi tampak melihat ponsel, penumpang, atau layar infotainment, mobil akan memberi peringatan agar pengemudi kembali fokus.
Dari peringatan yang terus muncul ke celah yang dieksploitasi
Kepala boneka itu dipakai untuk mematikan efek peringatan yang biasanya muncul dari sistem pemantauan. Dalam praktiknya, cara ini membuat mobil yakin ada pengemudi yang waspada di balik kemudi, padahal yang terlihat hanyalah replika plastik.
Salah satu pengemudi yang diwawancarai Wired mengaku memakai metode kepala boneka itu untuk 250 mil dari perjalanan sejauh 400 mil. Ia mengatakan bisa melewati 30 menit tanpa gangguan sambil makan biji bunga matahari dengan satu tangan dan merekam interaksi itu dengan tangan lainnya.
Penggunaan seperti ini menegaskan bahwa sistem pemantauan pengemudi bisa dibuat salah baca jika sensor visual tertipu. Masalahnya, ketika sistem terlalu mudah dikelabui, fungsi keselamatan yang seharusnya menjaga perhatian pengemudi justru kehilangan daya paksa.
Bagian dari permainan kucing-kucingan yang sudah berlangsung lama
Upaya mengakali Full Self-Driving bukan hal baru. Saat pemantauan berbasis kamera mulai diterapkan, sebagian pengemudi lebih dulu mencoba menggunakan foto untuk menipu sistem.
Sebelum Tesla memakai pemantauan berbasis kamera, perusahaan menilai perhatian pengemudi lewat torsi pada setir. Pada masa itu, sebagian pengemudi memasang beban khusus di salah satu sisi setir agar mobil mengira tangan mereka tetap berada di kemudi.
Wired juga menyebut ada pengemudi yang memakai lenticular print dan layar kecil untuk tujuan serupa. Artinya, setiap kali Tesla menutup satu celah, sebagian pengguna justru mencari celah lain untuk mempertahankan kebiasaan berkendara tanpa benar-benar memperhatikan jalan.
Tantangan besar bagi sistem bantuan berkendara
Kasus ini memperlihatkan dilema besar dalam teknologi pemantauan pengemudi. Jika sistem terlalu sensitif, pengguna akan terganggu oleh peringatan palsu, tetapi jika terlalu longgar, sistem justru mudah ditipu.
Di sisi lain, ketika celah ditutup lewat pembaruan, pengemudi yang memang ingin menghindari pengawasan cenderung mencari cara baru. Situasi itu menjadi masalah serius jika mereka lalu menggunakan mobil sambil menonton video atau bermain ponsel, padahal mereka masih mengendalikan kendaraan berbobot sekitar 4.000 pon.
Tesla pada akhirnya ingin menghilangkan kebutuhan pemantauan pengemudi sama sekali dengan membuat mobil benar-benar bisa mengemudi sendiri. Namun untuk saat ini, perusahaan masih harus menghadapi kenyataan bahwa yang duduk di belakang kemudi tetap manusia, atau dalam kasus ini, tiruan plastiknya.







