Truk Listrik Makin Masuk Akal, Kalista Catat Hemat Biaya Hingga 40 Persen

Author: Qoo Media

Bisnis truk listrik mulai menunjukkan daya tarik yang lebih nyata di sektor logistik karena efisiensi biaya operasionalnya tidak lagi sebatas soal hemat bahan bakar. Kalista menyebut salah satu pelanggannya sudah merasakan penghematan total biaya kepemilikan atau total cost of ownership hingga 40 persen dari penggunaan truk listrik.

Penghematan itu muncul dari pola operasional yang sudah disesuaikan dengan kebutuhan rute harian. Armada yang digunakan adalah tujuh unit truk listrik ringan untuk distribusi harian, dan masing-masing mampu menempuh jarak hingga 500 kilometer per hari.

Chief of Business Development Kalista, Yoga Adiwinarto, menjelaskan bahwa pelanggan tersebut memakai truk kategori city delivery duty dengan kapasitas angkut sekitar 3 hingga 5 ton. Ia menyebut penggunaan armada itu sudah masuk hitungan ekonomis karena efisiensinya bukan lagi di level fuel saving, melainkan TCO saving.

Skema sewa mengubah beban modal

Kalista menerapkan model bisnis fleet as a service atau penyewaan armada. Skema ini membuat perusahaan pelanggan tidak perlu mengeluarkan investasi awal besar untuk membeli truk listrik.

Melalui model tersebut, biaya yang semula masuk kategori capital expenditure atau CapEx dapat dialihkan menjadi operational expenditure atau OpEx yang dibayar berkala. Menurut Yoga, pendekatan ini menjadi salah satu alasan truk listrik mulai menarik bagi pelaku usaha yang ingin menjaga arus kas tetap fleksibel.

Ia juga menegaskan bahwa penghematan tetap tercapai meski biaya sewa truk listrik relatif tinggi dibandingkan kendaraan konvensional atau pembiayaan melalui lembaga leasing. Bahkan, pelanggan yang sudah mencoba layanan itu disebut berencana menambah armada karena merasakan langsung dampak efisiensinya.

Operasi jarak menengah sudah berjalan

Kalista memberi contoh operasi armada dari Balaraja, Banten menuju kawasan industri di Bandung, Jawa Barat. Untuk rute pulang-pergi sekitar 500 kilometer, kendaraan mengandalkan kombinasi pengisian daya di fasilitas pelanggan dan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum atau SPKLU di KM 88 Tol Cipularang.

Sebanyak 65 persen kebutuhan energi armada dipenuhi melalui SPKLU dengan tarif sekitar Rp2.400 per kWh. Sisanya dipenuhi dari pengisian daya di lokasi pelanggan, sehingga operasional harian tetap berjalan sesuai kebutuhan distribusi.

Yoga menilai skema itu membuktikan bahwa truk listrik untuk jarak menengah sudah bisa dioperasikan secara rutin. Kuncinya ada pada kesiapan jaringan pengisian daya yang memadai dan penyesuaian rute dengan pola kerja armada.

Tantangan terbesar ada di truk berat

Meski peluangnya makin terlihat, adopsi truk listrik belum merata di semua segmen. Tantangan terbesar masih muncul pada truk heavy duty karena Indonesia belum memiliki infrastruktur pengisian daya yang memang dirancang khusus untuk kendaraan berat.

Yoga menilai kebutuhan itu semakin mendesak jika elektrifikasi sektor logistik ingin dipercepat. Selain kapasitas daya yang besar, fasilitas pengisian untuk truk berat juga harus mampu menampung dimensi kendaraan dan kebutuhan operasionalnya.

Ia mencontohkan perlunya pengembangan heavy duty charging station seperti yang sudah ada di Jerman atau Belanda. Menurut dia, keberadaan fasilitas semacam itu akan menjadi faktor kunci untuk memperluas penggunaan truk listrik di logistik nasional.

Prospek bisnis yang mulai berubah

Pengalaman pelanggan Kalista memberi sinyal bahwa bisnis truk listrik tidak lagi hanya berbicara soal teknologi, tetapi juga soal hitung-hitungan usaha. Selama infrastruktur pengisian tersedia dan pola operasi cocok, penghematan TCO bisa menjadi alasan kuat bagi perusahaan untuk beralih.

Kalista menilai model sewa armada membantu mempercepat adopsi karena pelaku usaha bisa langsung memakai truk listrik tanpa terbebani investasi awal yang besar. Dengan dukungan ekosistem pengisian yang lebih luas, terutama untuk truk berat, pasar kendaraan niaga listrik dinilai punya ruang tumbuh yang semakin menarik.

Terbaru