Nissan mulai menempuh arah baru dalam pengembangan mobil. Pabrikan asal Jepang itu ingin memangkas waktu kerja dari 55 bulan menjadi 26 bulan, atau sekitar dua tahun, dengan meniru cara kerja produsen China yang dinilai lebih cepat dan efisien.
Langkah ini muncul saat persaingan global berubah cepat. Jika dulu Jepang dan Jerman menjadi rujukan utama industri otomotif, kini Nissan menilai China sudah menjadi acuan dalam teknologi, biaya, dan kecepatan pengembangan mobil.
China jadi tolok ukur baru
Nissan melihat banyak merek China mampu menyiapkan mobil dalam waktu kurang dari empat tahun, bahkan lebih singkat lagi. Kecepatan itu didukung teknologi perakitan yang lebih maju, termasuk penggunaan AI di sebagian proses.
Perubahan ini membuat produsen Jepang itu harus beradaptasi. Bukan hanya agar tidak tertinggal dalam pengembangan produk, tetapi juga supaya bisa lebih cepat merespons pasar yang kini bergerak semakin agresif.
Pergeseran acuan ini juga disebut berlaku untuk produsen lain. Honda dan Mercedes-Benz disebut ikut menyadari bahwa merek-merek China kini bergerak jauh lebih cepat dalam menghadirkan mobil baru.
Skyline jadi model awal
Waktu pengembangan yang dipersingkat itu mulai diterapkan pada All New Skyline. Model tersebut dijadwalkan meluncur pada musim dingin tahun ini, sehingga menjadi ajang awal bagi Nissan untuk menguji pola kerja baru.
Setelah Skyline, belum ada kepastian model lain yang akan mengikuti jalur pengembangan 26 bulan. Namun, perubahan ini sudah memangkas waktu tunggu yang sebelumnya bisa membuat sebuah mobil baru baru siap diproduksi massal setelah lebih dari empat tahun.
Nissan juga masih aktif menyegarkan lini produknya. Salah satu contoh terbarunya adalah Sakura Facelift di pasar domestik Jepang, yang tampil lebih modern untuk menghadapi kompetitor dari China.
Dorongan dari tekanan pasar
Dorongan untuk bergerak lebih cepat juga datang dari sisi penjualan. Di Indonesia, penjualan Nissan sepanjang tahun ini baru mencapai 144 unit, angka yang jauh lebih kecil dari perkiraan.
Situasi serupa tampak dalam skala yang lebih luas saat merek-merek China terus menekan pasar global. Kondisi itu membuat Nissan harus mempercepat pengembangan produk agar tidak makin tertinggal dari kompetitor yang penjualannya lebih kuat.
Di Indonesia, Nissan sendiri belum banyak merilis model baru. X-Trail e-Power menjadi model terbaru yang dibawa ke pasar, disusul Serena e-Power yang masih diandalkan di segmen MPV sliding door.
Fokus ke model yang masih relevan
Serena e-Power masuk karena segmen MPV pintu geser masih punya peluang besar. Di pasar itu, belum banyak model serupa yang tersedia, sehingga Nissan masih melihat ruang untuk bertahan lewat produk keluarga tersebut.
Sementara itu, Livina sudah tidak sekuat dulu dalam urusan penjualan. Meski begitu, Nissan masih memiliki model seperti X-Trail yang tetap menarik di segmennya, walau popularitasnya kini tidak sebesar sebelumnya.
Dari arah strategi yang terlihat sejauh ini, Nissan tampaknya tidak lagi terlalu fokus pada segmen entry level. Perusahaan kini lebih sibuk menjaga daya saing lewat produk yang lebih relevan, sambil mempercepat ritme pengembangan agar bisa mengikuti langkah industri yang sudah berubah.
