Registrasi EV China Anjlok 9 Persen, Pengamat Ungkap Konsumen Masih Menunggu Insentif

Author: Qoo Media

Registrasi kendaraan listrik di China yang turun sekitar 9 persen pada Mei 2026 setelah berakhirnya program trade-in dan insentif pajak memunculkan pertanyaan besar tentang ketahanan pasar EV di negara itu. Namun, pengamat otomotif Yannes Martinus Pasaribu menilai pelemahan itu tidak otomatis membuktikan pasar kendaraan listrik China dibangun semata-mata oleh subsidi.

Menurut Yannes, penurunan tersebut justru menunjukkan bahwa konsumen masih sangat peka terhadap harga, insentif, dan dukungan fiskal sebelum membeli mobil listrik. Ia melihat respons pasar itu lebih sebagai penyesuaian perilaku belanja ketimbang tanda bahwa minat terhadap EV hilang.

Data yang dikutip Reuters pada 18 Juni 2026 menunjukkan registrasi EV di China turun sekitar 9 persen pada Mei 2026 setelah sejumlah program dukungan pemerintah berakhir pada awal tahun. Situasi ini terjadi di pasar yang selama beberapa tahun terakhir menjadi yang terbesar di dunia untuk kendaraan listrik dan pusat pengembangan teknologi baterai serta manufaktur EV global.

Ekosistem yang Sudah Lebih Matang

Yannes menekankan bahwa China sudah membangun ekosistem EV yang jauh lebih matang dibanding banyak negara lain. Ia menyoroti perkembangan teknologi baterai yang makin aman, jarak tempuh yang lebih jauh, biaya yang semakin murah, pilihan model yang beragam, jaringan pengisian daya, dan basis konsumen yang besar.

Kondisi itu membuat kendaraan listrik tetap punya daya tarik kuat meski insentif berkurang. Karena itu, penurunan registrasi lebih tepat dibaca sebagai respons pasar terhadap perubahan harga, bukan hilangnya minat terhadap kendaraan listrik secara permanen.

Ia juga menilai banyak konsumen memilih menunda pembelian sambil menunggu promosi baru atau penyesuaian harga dari produsen. Menurut dia, sikap itu menunjukkan konsumen tetap rasional ketika menghadapi perubahan insentif.

“Jadi yang lebih menguat adalah konsumen tetap rasional. Ketika insentif dicabut, mereka menunda pembelian, menunggu diskon, atau berpindah ke alternatif lain,” ujar Yannes kepada KabarBursa.com, Jumat, 19 Juni 2026.

Pola seperti itu menurutnya juga umum terjadi di berbagai industri saat dukungan fiskal dihentikan. Konsumen biasanya menghitung ulang biaya kepemilikan kendaraan dan mencari waktu beli yang paling menguntungkan bagi mereka.

Subsidi Masih Punya Peran Penting

Meski bukan satu-satunya penggerak, Yannes menilai subsidi dan insentif tetap penting untuk mempercepat adopsi kendaraan listrik. Dampaknya paling terasa pada pembeli yang sensitif terhadap harga dan konsumen di segmen menengah.

“Artinya, subsidi/insentif bukan satu-satunya penggerak, tetapi tetap menjadi akselerator penting, terutama bagi pembeli marginal dan segmen harga menengah,” katanya.

Pandangan itu juga relevan bagi negara lain yang ingin memperluas pasar EV, termasuk Indonesia. Keberhasilan tidak hanya bergantung pada besarnya subsidi, tetapi juga pada kekuatan ekosistem, mulai dari teknologi, infrastruktur pengisian daya, hingga ketersediaan produk yang sesuai kebutuhan konsumen.

Dalam konteks China, penurunan registrasi EV setelah insentif berakhir menunjukkan bahwa dukungan pemerintah memang berperan besar dalam mendorong penjualan. Di saat yang sama, data itu juga memperlihatkan bahwa pasar EV terbesar di dunia tetap digerakkan oleh konsumen yang berhitung secara rasional.

Terbaru