Masalah Baterai Volvo EX30 Menjalar Ke China, Recall Baru Kembali Menghantui Pemilik

Volvo kembali menghadapi tekanan pada EX30 setelah otoritas China memerintahkan penarikan 2.501 unit SUV listrik yang dibuat di China. Penarikan ini terkait risiko thermal runaway pada baterai dan memperluas krisis keselamatan baterai yang sudah membayangi model tersebut secara global.

Administrasi Regulasi Pasar Negara China atau SAMR menyebut penarikan itu berlaku segera dan diajukan oleh Zhejiang Haoqing Automobile Manufacturing Co Ltd, mitra produksi Volvo di China. Mobil yang terdampak diproduksi antara 12 April dan 27 Desember 2024.

Risiko ada pada sel baterai

SAMR menjelaskan bahwa penyimpangan produksi dapat memicu pertumbuhan litium di dalam sel baterai. Kondisi itu bisa menyebabkan korsleting internal dan membuat baterai berpotensi mengalami panas berlebih.

Dalam skenario terburuk, dasbor dapat menampilkan peringatan bahwa baterai tegangan tinggi terlalu panas. Baterai juga bisa mengeluarkan asap, dan risiko thermal runaway muncul jika situasinya memburuk.

Zhejiang Haoqing akan meminta diler resmi Volvo menjalankan proses penarikan ini. Langkah perbaikannya mencakup inspeksi dan penggantian modul baterai yang berpotensi cacat untuk menghilangkan bahaya keselamatan.

Selama perbaikan belum selesai, Volvo menyarankan pemilik untuk membatasi pengisian daya hingga maksimal 70%. Saran itu diberikan untuk menekan risiko sambil menunggu penanganan resmi di bengkel.

Masalah EX30 melebar ke pasar lain

Penarikan terbaru ini menambah daftar panjang persoalan baterai pada EX30. Pada Februari, Volvo juga mengumumkan penarikan global lebih dari 40.000 unit EX30 karena masalah serupa pada modul baterai.

Reuters saat itu memperkirakan satu putaran penarikan tersebut dapat menimbulkan kerugian sekitar $195 juta. Volvo kemudian memangkas jumlah kendaraan terdampak secara global menjadi 37.802 unit dari 40.323 unit.

Baterai yang dipermasalahkan diyakini dibuat oleh Sunwoda, perusahaan yang tercatat di bursa Shenzhen. Volvo sebelumnya menyatakan masalah itu telah diselesaikan dan Sunwoda akan memasok sel baru.

Namun, persoalan terkait rantai pasok baterai belum mereda. Pada Desember 2025, Sunwoda mengatakan anak usahanya, Sunwoda Electric Vehicle Battery Co Ltd, digugat oleh Vremt, unit Geely, dengan tuntutan ganti rugi 2,31 miliar yuan atau sekitar $342 juta.

Pada Februari tahun ini, Sunwoda EVB mencapai penyelesaian dengan Vremt atas sengketa kualitas baterai itu. Geely Holding adalah pemegang saham pengendali Volvo.

Tekanan reputasi di luar China

Masalah EX30 juga sudah memicu dampak di Thailand. Pada Mei, pengawas konsumen Thailand, Office of Consumer Protection Board, mengajukan gugatan perdata terhadap unit Volvo di negara itu terkait dua insiden kebakaran EX30.

Volvo sebelumnya menyebut insiden kebakaran seperti itu jarang terjadi dan memengaruhi jauh di bawah 0,1% kendaraan. Perusahaan juga sempat memberi rekomendasi sementara kepada pemilik di Thailand untuk membatasi pengisian daya hingga 70%.

EX30 sendiri menjadi model paling terjangkau dalam strategi elektrifikasi Volvo. Versi penyegaran model itu mulai dijual di China pada Maret dengan harga awal terbatas 159.800 yuan.

Source: cnevpost.com

Terkait