Ambisi menjadikan truk listrik sebagai tulang punggung logistik Indonesia masih jauh dari realistis dalam waktu dekat. Di atas kertas, elektrifikasi kendaraan niaga memang menjanjikan, tetapi kondisi lapangan di Indonesia belum mendukung adopsi massal seperti yang mulai didorong China.
Pengamat otomotif Yannes Martinus Pasaribu menilai target itu baru masuk akal jika diterapkan terbatas pada area operasi tertentu. Untuk logistik nasional yang bergantung pada perjalanan jarak jauh, ia melihat belum ada ekosistem yang cukup kuat untuk menopang truk listrik secara luas.
China Punya Modal yang Belum Dimiliki Indonesia
Reuters melaporkan pemerintah China menargetkan kendaraan listrik mencapai 40 persen penjualan truk berat baru pada 2030 dan sekitar 20 persen dari total armada nasional. Target itu didorong kebijakan besar untuk menekan konsumsi bahan bakar fosil dan mempercepat transisi energi di sektor transportasi.
Yannes mengatakan keberhasilan China ditopang ekosistem yang sudah dibangun lama. Negara itu memiliki kapasitas produksi kendaraan listrik terbesar di dunia, insentif pemerintah yang besar, jaringan pengisian daya yang luas, dan rantai pasok baterai yang matang.
Menurut dia, kondisi Indonesia masih tertinggal jauh pada semua aspek tersebut. Pembangunan infrastruktur pendukung kendaraan niaga berat masih berada pada tahap awal, sementara fokus elektrifikasi di Indonesia selama ini lebih banyak menyasar kendaraan penumpang.
Biaya Masih Menjadi Penghalang Utama
Hambatan terbesar bukan cuma soal kesiapan teknologi, tetapi juga hitungan bisnis harian. Truk listrik membutuhkan baterai berkapasitas besar untuk menopang jarak tempuh yang jauh, dan itu membuat harga kendaraan jauh lebih mahal dibanding truk diesel konvensional.
Bobot baterai yang besar juga menjadi persoalan tersendiri. Beban tambahan itu berpotensi mengurangi payload atau kapasitas muatan, sehingga efisiensi angkutan barang ikut tertekan.
Yannes menyebut harga truk listrik yang mahal, bobot baterai yang memangkas payload, dan belum tersedianya charging berdaya tinggi sebagai tiga kendala utama. Ia juga menyoroti bahwa solar dan biosolar masih menjadi penopang biaya logistik nasional sehingga kendaraan diesel tetap kompetitif.
Infrastruktur Pengisian Belum Siap untuk Truk Berat
Kendaraan penumpang dan truk berat membutuhkan kebutuhan pengisian daya yang sangat berbeda. Truk listrik memerlukan fasilitas charging berkapasitas tinggi agar operasionalnya tidak terganggu, namun infrastruktur seperti itu masih sangat terbatas di Indonesia.
Kondisi ini membuat penerapan di jalur logistik lintas provinsi menjadi sulit. Jarak tempuh yang panjang membutuhkan jaringan pengisian cepat yang luas dan andal, sementara ekosistem fast charging untuk truk listrik masih langka di berbagai jalur distribusi utama.
Karena itu, penggunaan truk listrik di sektor logistik nasional belum punya fondasi operasional yang memadai. Selama biaya operasional truk diesel masih ditopang solar dan biosolar bersubsidi, kendaraan berbasis baterai belum bisa bersaing secara luas.
Peluang Masih Ada di Sektor Tertentu
Meski belum cocok untuk angkutan jarak jauh, truk listrik tetap punya ruang tumbuh di beberapa sektor yang lebih terukur. Yannes menilai penerapan paling realistis ada di tambang, pelabuhan, kawasan industri, distribusi jarak pendek, dan captive fleet.
Area-area itu dinilai cocok karena kendaraan beroperasi dalam rute yang tetap dan jarak tempuh terbatas. Infrastruktur pengisian daya juga bisa dipusatkan di satu lokasi, sehingga operator lebih mudah mengelola biaya investasi dan penggunaan armada.
Tambang dan pelabuhan menjadi kandidat awal yang paling logis karena pola operasinya terkontrol. Dalam lingkungan seperti itu, elektrifikasi bisa berjalan lebih cepat sebelum masuk ke jaringan logistik nasional yang lebih luas.
Untuk saat ini, kendaraan diesel masih diperkirakan mendominasi angkutan barang lintas wilayah. Transisi ke truk listrik di Indonesia kemungkinan akan bergerak bertahap, mengikuti seberapa cepat ekosistem pendukungnya bisa mengejar kebutuhan industri.







