BRI terus mendorong UMKM naik kelas lewat penguatan kapasitas usaha dan perluasan pasar. Salah satu contoh yang menonjol datang dari Cinta Batik Semarang, perajin batik asal Kota Semarang yang kini menjangkau pelanggan dari berbagai daerah di Indonesia hingga mancanegara.
Usaha yang berjalan sejak 2006 itu berkembang dari proses belajar yang jauh dari mudah. Dari modal sekitar Rp50 ribu dan peralatan sederhana, pemilik Cinta Batik Semarang, Iin Windhi Indah Tjahjani, membangun usaha dengan pengetahuan yang terbatas dan banyak kegagalan di awal.
Dari pelatihan membatik hingga produk ramah lingkungan
Cinta Batik Semarang berawal dari pelatihan membatik yang digelar Dekranasda Kota Semarang dalam rangka revitalisasi batik Semarang. Dari proses itu, Iin kemudian mengembangkan produk yang dikenal lewat batik tulis warna alam sebagai andalan.
Pemilihan pewarna alami membuat produk tersebut lebih ramah lingkungan. Meski mengusung konsep yang lebih berkelanjutan, harga batiknya tetap dijaga agar terjangkau bagi konsumen.
Perjalanan membangun usaha itu juga diwarnai keterbatasan akses untuk belajar teknik membatik. Karena minim tempat berkonsultasi, Iin aktif mendatangi berbagai pameran untuk mencari inspirasi sekaligus meningkatkan kualitas produk.
LinkUMKM jadi ruang belajar dan pengembangan usaha
Perubahan besar datang setelah Iin mengenal LinkUMKM dari Rumah BUMN BRI. Ia menyebut salah satu alasan bergabung adalah karena banyak kegiatan yang bermanfaat untuk kemajuan usaha.
LinkUMKM menjadi sarana pendampingan usaha daring bagi pelaku UMKM, mulai dari peningkatan kapasitas, perluasan pasar, hingga percepatan naik kelas. Hingga akhir Maret 2026, lebih dari 15,57 juta UMKM telah memanfaatkannya.
Platform itu menghadirkan enam fitur utama yang saling terintegrasi, yaitu UMKM Smart, Rumah BUMN, Media, Komunitas, Etalase Digital, Coaching Clinic, dan layanan lainnya termasuk registrasi NIB. Dukungan lebih dari 840 modul pembelajaran juga disiapkan untuk memperkuat soft skill dan hard skill pelaku usaha.
Pasar meluas lewat berbagai kanal penjualan
Dalam operasional sehari-hari, Cinta Batik Semarang juga memanfaatkan QRIS dan tabungan BRI. Produk-produknya dipasarkan lewat penjualan offline, marketplace, pameran, dan kerja sama business-to-business atau B2B.
Jangkauan pelanggan yang semakin luas membuat batik produksi Cinta Batik Semarang dikenal di banyak daerah hingga luar negeri. Koleksi yang diproduksi dalam jumlah terbatas itu juga memberi nilai eksklusif bagi konsumen.
Dorongan untuk produk lokal yang kompetitif
Corporate Secretary BRI Dhanny menilai perjalanan Cinta Batik Semarang menunjukkan bahwa usaha yang dimulai dari keterbatasan tetap bisa berkembang jika dikelola secara konsisten. Menurut dia, ketekunan menjaga kualitas produk dan kemampuan beradaptasi menjadi faktor penting dalam keberlanjutan usaha.
Ia juga menekankan bahwa produk berbasis kearifan lokal dapat memiliki daya saing kuat ketika dikelola secara inovatif. Upaya menghadirkan batik ramah lingkungan sekaligus melestarikan warisan budaya, kata dia, memperlihatkan bagaimana UMKM dapat menciptakan nilai ekonomi yang berkelanjutan.
BRI menyebut akan terus memperkuat peran LinkUMKM sebagai ekosistem pembelajaran dan pengembangan usaha. Harapannya, semakin banyak UMKM yang mampu meningkatkan daya saing secara berkelanjutan, seperti yang ditunjukkan Cinta Batik Semarang.







