Bukan Mobil Utuh, Isi Kontainer BYD di Tanjung Priok Ternyata Komponen dan Spare Parts

Author: Qoo Media

Kontainer BYD yang sempat dikaitkan dengan penumpukan di Pelabuhan Tanjung Priok ternyata bukan berisi mobil utuh impor dari China. PT BYD Motor Indonesia menegaskan muatan di dalamnya adalah komponen untuk proses perakitan dan suku cadang.

Penjelasan ini muncul setelah ramainya sorotan terhadap kontainer yang menumpuk di pelabuhan. Bagi BYD, pelurusan ini penting karena barang yang tertahan disebut bukan unit kendaraan yang siap dijual ke konsumen.

Head of Marketing PR and Government Relations PT BYD Motor Indonesia, Luther Panjaitan, mengatakan perusahaan telah memeriksa data secara menyeluruh di lapangan. Hasil pengecekan itu menunjukkan jumlah kontainer milik BYD hanya sebagian kecil dari total volume kontainer yang menjadi perhatian.

Menurut Luther, informasi yang beredar perlu diluruskan agar tidak menimbulkan kesan keliru soal isi muatan. Ia menyebut kontainer tersebut berisi komponen perakitan dan spare parts, bukan mobil.

Penjelasan BYD soal penumpukan

BYD menyatakan penumpukan terjadi karena hambatan operasional dan logistik yang melibatkan banyak pihak. Faktor yang disebut meliputi tingginya volume kedatangan barang mingguan, hari libur nasional, kepadatan lalu lintas, serta penyesuaian kapasitas angkut dari penyedia jasa logistik setelah kenaikan harga BBM.

Perusahaan juga membantah ada unsur kesengajaan dalam memperlambat pengeluaran barang dari pelabuhan. Menurut Luther, secara operasional justru tidak masuk akal bila perusahaan sengaja menahan kontainer karena ada biaya penyimpanan dan penalti harian yang harus dibayar.

Ia menegaskan biaya penyimpanan di pelabuhan dan tambahan penalti harian lebih besar dibandingkan biaya logistik serta penyimpanan di fasilitas milik sendiri atau tempat sementara. Karena itu, BYD menyebut tidak ada upaya untuk sengaja memperlambat proses pengeluaran barang.

Sejak awal Juni, BYD mengklaim sudah menjalankan langkah percepatan untuk mengurai antrean. Upaya itu dilakukan dengan menambah armada truk logistik perusahaan dan menyiapkan lokasi penyimpanan sementara di sekitar area pelabuhan.

Langkah tersebut ditujukan untuk mempercepat pengosongan kontainer. Dengan pengosongan lebih cepat, arus distribusi komponen dan suku cadang diharapkan kembali berjalan lebih lancar.

Sorotan dari Bea Cukai

Sebelumnya, Direktur Jenderal Bea dan Cukai Djaka Budhi Utama menyebut sekitar 10 ribu kontainer sempat menumpuk di Tanjung Priok. Ia mengatakan ada perusahaan yang memanfaatkan fasilitas pelabuhan dengan tidak segera mengeluarkan barang impor meski administrasi kepabeanan sudah selesai.

Djaka mencontohkan BYD dan Wuling sebagai pihak yang masih memanfaatkan waktu tiga hari setelah Surat Persetujuan Pengeluaran Barang atau SPPB keluar. Bahkan, menurut dia, ada barang yang belum diangkut keluar dari pelabuhan hingga lebih dari dua minggu.

Dari sisi Bea Cukai, masalah utamanya bukan lagi pada proses administrasi kepabeanan. Administrasi disebut sudah selesai, tetapi pengeluaran fisik barang dari area pelabuhan belum segera dilakukan sehingga mengganggu dwelling time.

Karena itu, DJBC menyatakan telah melakukan pemaksaan kepada perusahaan importir agar segera mengeluarkan barang dari area pelabuhan. Tujuannya agar kontainer tidak terlalu lama berada di kawasan pelabuhan dan tidak menambah kepadatan.

Djaka juga menilai salah satu alasan barang dibiarkan lebih lama di pelabuhan adalah pertimbangan biaya. Menurut dia, biaya di pelabuhan dinilai lebih murah dibandingkan penyimpanan di luar, terutama ketika perusahaan mengalami kesulitan mencari tempat di luar area pelabuhan.

Ia mengatakan ke depan pemerintah akan mendorong pengalihan barang ke lini dua atau lokasi di luar pelabuhan. Langkah itu dipandang perlu untuk mengurangi penumpukan di kawasan utama pelabuhan.

Dampak pada persepsi publik

Dalam konteks itulah, penjelasan BYD menjadi penting karena menyasar dua hal sekaligus. Pertama, perusahaan menekankan bahwa kontainer yang tertahan bukan mobil utuh, dan kedua, jumlah kontainernya disebut hanya sebagian kecil dari total yang ramai dibicarakan.

Penjelasan ini juga memberi gambaran bahwa penumpukan tidak bisa dilihat semata dari satu perusahaan atau satu jenis barang. Ada kombinasi faktor operasional, kapasitas logistik, lalu lintas, momentum libur nasional, dan tekanan biaya yang ikut memengaruhi arus keluar masuk kontainer.

Bagi industri otomotif, isi kontainer juga menentukan cara publik membaca persoalan. Komponen perakitan dan spare parts memiliki fungsi berbeda dari mobil utuh karena terkait dengan kelanjutan proses produksi dan layanan purnajual, bukan langsung dengan stok kendaraan siap kirim ke konsumen.

Sementara itu, otoritas kepabeanan tetap menyoroti urgensi percepatan pengeluaran barang dari pelabuhan. Selama arus distribusi belum bergerak cepat, risiko kepadatan di Tanjung Priok akan tetap menjadi perhatian, termasuk untuk kontainer yang berisi komponen industri seperti milik BYD.

Source: oto.detik.com
Terbaru