Pasar kendaraan listrik bekas di Indonesia mulai menghadapi ancaman yang tidak hanya soal harga, tetapi juga soal kepercayaan. Masalah utamanya ada pada baterai, komponen yang paling menentukan nilai sebuah EV setelah dipakai beberapa tahun.
Kekhawatiran itu menguat setelah sebuah penelitian terhadap 1.114 kendaraan listrik dari lima produsen menemukan bahwa indikator State of Health atau SOH bawaan pabrikan kerap tidak mencerminkan kondisi baterai yang sebenarnya. Jika kondisi baterai sulit diverifikasi secara akurat, pasar EV bekas berisiko masuk ke fase ketika pembeli meragukan hampir semua unit yang dijual.
Transparansi Baterai Jadi Titik Kritis
Pengamat otomotif Yannes Martinus Pasaribu menilai masalah transparansi baterai dapat menjadi tantangan serius jika tidak segera diantisipasi. Ia menyebut pembeli tidak bisa memastikan kondisi baterai yang sebenarnya bila indikator SOH bawaan pabrikan tidak akurat.
Menurut Yannes, hal itu membuat konsumen kesulitan menilai kualitas kendaraan yang akan dibeli. Berbeda dengan mobil bermesin pembakaran internal, kondisi kendaraan listrik sangat bergantung pada kesehatan baterai yang tidak selalu mudah diukur oleh konsumen umum.
Kondisi ini menjadi lebih sensitif karena pasar mobil listrik bekas di Indonesia masih berada pada tahap awal perkembangan. Pada fase seperti ini, ketidakpastian kecil bisa langsung memengaruhi kepercayaan pasar secara luas.
Resale Value Jadi Kekhawatiran Utama
Yannes menegaskan bahwa konsumen Indonesia umumnya sangat memperhatikan nilai jual kembali atau resale value sebelum membeli kendaraan baru. Karena itu, ketidakpastian kondisi baterai berpotensi menciptakan persepsi negatif terhadap seluruh pasar kendaraan listrik bekas.
Ia menyebut EV bekas bisa terkena diskon risiko besar meski baterainya masih sehat, karena pembeli tidak memiliki data yang dipercaya. Dalam situasi seperti itu, pembeli cenderung meminta potongan harga lebih besar untuk menutup kekhawatiran atas potensi kerusakan baterai di masa depan.
Dampaknya, kendaraan yang sebenarnya masih layak pakai bisa dihargai jauh di bawah nilai wajarnya. Yannes menilai keadaan ini dapat membuat kendaraan listrik bekas kehilangan nilai lebih cepat dibanding kondisi yang seharusnya.
Risiko Menular ke Pasar EV Baru
Masalahnya tidak berhenti di pasar mobil bekas. Yannes, yang merupakan akademisi dari Institut Teknologi Bandung, mengingatkan bahwa kekhawatiran terhadap nilai jual kembali juga dapat memengaruhi keputusan membeli kendaraan listrik baru.
Ia mengatakan risiko depresiasi yang terlalu dalam pada resale value bisa memperlambat adopsi EV baru. Konsumen yang ragu pada nilai jual kembali kendaraan mereka berpotensi menunda pembelian atau tetap memilih kendaraan konvensional yang pasar bekasnya lebih matang.
Dalam pandangannya, jika konsumen tidak memiliki alat atau standar yang bisa dipercaya untuk menilai kondisi baterai, seluruh kendaraan listrik bekas berisiko dipersepsikan punya risiko yang sama. Ia menilai pasar bisa berubah menjadi pasar yang menghukum semua unit EV karena pembeli tidak mampu membedakan unit yang baik dan buruk.
Tekanan seperti itu juga membuat harga kendaraan listrik bekas berpotensi tertekan lebih besar dibanding kendaraan konvensional. Pada akhirnya, pertumbuhan pasar mobil listrik bekas bisa tertahan dan ikut menghambat percepatan adopsi kendaraan listrik secara keseluruhan.
Belajar dari Pasar yang Lebih Matang
Di negara dengan pasar EV yang lebih matang, sejumlah produsen dan lembaga independen mulai mengembangkan sertifikasi kesehatan baterai. Langkah itu bertujuan memberi gambaran yang lebih akurat kepada calon pembeli agar penilaian terhadap kendaraan bekas tidak hanya bergantung pada klaim pabrikan.
Bagi pasar Indonesia, transparansi kondisi baterai dinilai akan menjadi faktor penting untuk menjaga kepercayaan konsumen. Tanpa standar pengukuran yang dapat dipercaya, EV bekas berisiko terus dipandang sebagai aset dengan ketidakpastian tinggi, meski sebagian unit sebenarnya masih berada dalam kondisi sehat.







