Penjualan Mobil Listrik Dunia Meledak, Akhir 2026 Diprediksi Tembus 23 Juta Unit

Author: Qoo Media

Penjualan mobil listrik global melaju jauh lebih cepat dari perkiraan dan kini masuk fase yang sulit diabaikan industri otomotif. Menjelang akhir 2026, Badan Energi Internasional atau IEA memproyeksikan penjualan mobil listrik dunia mencapai 23 juta unit dan mendekati 30 persen dari seluruh penjualan mobil baru.

Lonjakan itu menunjukkan perubahan besar dalam pasar kendaraan global. Dalam enam tahun terakhir, volume penjualan mobil listrik naik hingga sepuluh kali lipat, sementara pangsa pasarnya melonjak dari 1 persen pada 2019 menjadi 25 persen pada 2025.

Cina jadi pusat percepatan

Cina tetap menjadi penggerak utama dalam adopsi mobil listrik. Negara ini telah berinvestasi lama pada energi surya, angin, dan teknologi baterai, lalu memperkuat ekosistemnya lewat produksi massal dan jaringan pengisian daya yang luas.

Hasilnya terlihat jelas pada harga. Harga baterai mobil listrik kini hanya seperempat dari level satu dekade lalu, dan sejak 2024 mobil listrik di Cina sudah lebih murah daripada mobil berbahan bakar diesel atau bensin.

Pangsa pasar di Cina juga melonjak sangat cepat. Pada 2015, mobil listrik baru hanya memegang sekitar 1 persen pasar, tetapi pada Mei 2026 angkanya naik menjadi 63 persen.

Pasar dunia ikut terdorong

Secara global, sekitar 21 juta unit mobil listrik telah terjual pada 2025. Dari total sekitar 1,4 miliar mobil yang beroperasi di seluruh dunia, sekitar 85 juta unit sudah menggunakan tenaga listrik.

IEA menilai tren itu akan terus menguat. Penurunan biaya baterai dan ketegangan geopolitik yang mendorong naiknya harga minyak disebut menjadi faktor yang ikut mempercepat peralihan ke kendaraan listrik.

Eropa melaju, AS tertahan

Uni Eropa juga mencatat pertumbuhan kuat. Pangsa pasar mobil listrik baru di kawasan itu naik dari 1 persen pada 2018 menjadi hampir sepertiga dari total registrasi baru pada April 2026.

Eropa Utara tampil paling agresif. Norwegia mencapai 99 persen mobil baru bertenaga listrik, disusul Denmark 82 persen dan Swedia 65 persen.

Di Inggris, pangsa pasar mobil baru bertenaga listrik mencapai 40 persen pada Mei 2026. Jerman berada di 37 persen dan Prancis 34 persen, dengan penjualan di ketiganya tumbuh sekitar 30 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Berbeda dengan itu, Amerika Serikat justru stagnan. Antara 2023 dan 2025, pangsa pasar mobil listrik di negara itu tertahan di angka 10 persen, lalu turun di bawah 6 persen pada April 2026 setelah insentif pajak pembelian mobil listrik baru berakhir.

Meski begitu, Tesla Model Y dan Model 3 tetap menjadi mobil listrik terlaris di dunia. Di belakangnya, produk-produk dari pabrikan Cina terus mengejar, sementara produksi mobil listrik global masih didominasi Cina dengan porsi 71 persen, diikuti Eropa 17 persen dan AS 5 persen.

Adopsi meluas ke banyak negara

Di luar pasar utama, adopsi mobil listrik juga bergerak cepat di beberapa negara lain. Nepal mencatat 68 persen mobil listrik pada 2025, Singapura 63 persen, Vietnam 41 persen, dan Thailand 23 persen.

Afrika juga mulai menunjukkan perubahan. Etiopia menjadi sorotan setelah melarang impor mobil bermesin pembakaran internal sejak 2024 dan mendorong jumlah kendaraan listriknya naik empat kali lipat hingga melampaui 100.000 unit.

Teknologi dan efisiensi jadi alasan utama

Pertumbuhan ini juga ditopang oleh beragam teknologi penggerak. Battery Electric Vehicles atau BEV mencakup sekitar dua pertiga dari total mobil listrik dunia, sedangkan Plug-in Hybrid atau PHEV menyumbang sekitar sepertiga.

Ada pula Extended Range Electric Vehicles atau EREV. Pada tipe ini, roda digerakkan sepenuhnya oleh motor listrik, sementara mesin pembakaran internal hanya berfungsi sebagai generator saat baterai melemah.

Dari sisi efisiensi, motor listrik unggul jauh dibanding mesin konvensional. Motor listrik dapat mengubah 80 persen energi listrik langsung menjadi energi kinetik, sedangkan mesin bensin justru membuang sekitar 80 persen energi sebagai panas sisa.

Meskipun harga mobil listrik di sejumlah wilayah di luar Cina masih relatif lebih tinggi daripada mobil berbahan bakar fosil, tekanan biaya terus turun dan adopsi terus melebar. Dengan dukungan infrastruktur, harga baterai yang makin murah, dan pasar yang makin besar, penjualan mobil listrik global tampak siap menutup 2026 dengan rekor baru.

Terbaru