BBM Naik, Permintaan Motor Listrik Alva Ikut Terdorong Saat Konsumen Mulai Hitung Hematnya

Author: Qoo Media

Kenaikan harga BBM nonsubsidi mulai mengubah cara konsumen melihat kendaraan harian. Di tengah biaya operasional yang makin diperhitungkan, minat terhadap motor listrik Alva disebut ikut meningkat sejak awal Januari hingga menjelang kuartal dua.

Alva menangkap munculnya pertanyaan baru dari calon pembeli, bukan lagi sekadar soal teknologi dan keamanan. Kini, banyak konsumen mulai menanyakan apakah motor listrik benar-benar lebih hemat untuk dipakai sehari-hari saat harga BBM naik.

Chief Marketing Officer Alva, Putu Swaditya Yudha, mengatakan peningkatan pertanyaan terhadap motor listrik sudah terasa pada kuartal pertama. Menurut dia, lonjakan harga BBM memantik rasa penasaran konsumen yang mulai mempertimbangkan alternatif dengan biaya operasional lebih efisien.

Meski minat naik, pola pertanyaan dasar dari calon konsumen belum banyak berubah. Mereka masih menyoroti lokasi pengisian daya, keamanan saat hujan, garansi baterai, jarak tempuh, kemampuan menanjak, dan performa saat digunakan berboncengan.

Di sisi lain, Alva menilai perubahan besar justru terjadi pada cara konsumen menghitung pengeluaran. Kenaikan biaya BBM nonsubsidi membuat masyarakat lebih aktif membandingkan ongkos harian antara motor konvensional dan motor listrik.

Bagi Alva, situasi ini menjadi momentum penting karena pasar tidak lagi hanya digerakkan oleh rasa ingin tahu. Pertimbangan ekonomis mulai menjadi alasan yang lebih nyata saat orang memilih kendaraan utama untuk mobilitas sehari-hari.

Permintaan naik di tengah absennya subsidi

Alva mencatat pertumbuhan penjualan sebesar 52,9% pada 2025 dibandingkan tahun sebelumnya. Dalam penjelasan perusahaan, penjualan naik dari sekitar 3.000 unit menjadi 4.500 unit.

Kinerja itu dinilai menarik karena terjadi saat motor listrik tidak mendapatkan subsidi pada 2025. Menurut Putu, kondisi tersebut menunjukkan permintaan tetap terbentuk selama edukasi konsisten, produk sesuai kebutuhan, dan jaringan purnajual tersedia.

Ia menyebut pengalaman tahun lalu menjadi pelajaran penting bagi perusahaan. Tanpa insentif pun, pasar tetap bisa bergerak ketika konsumen memahami manfaat produk dan merasa lebih yakin dengan dukungan ekosistemnya.

Memasuki pertengahan 2026, Alva memproyeksikan tren permintaan akan lebih tinggi dibanding pencapaian tahun sebelumnya. Putu bahkan memberi sinyal bahwa kenaikan permintaan pada 2026 berpotensi melampaui angka 2025.

Proyeksi itu muncul seiring perubahan perilaku calon konsumen yang semakin sensitif terhadap pengeluaran rutin. Saat harga BBM naik, efisiensi operasional menjadi topik yang lebih sering muncul dalam proses pertimbangan pembelian.

Tantangan lama masih ada

Meski pasar bergerak, tantangan adopsi motor listrik belum sepenuhnya hilang. Kekhawatiran soal pengisian daya dan daya tahan pemakaian tetap menjadi hambatan psikologis yang paling sering ditemui di lapangan.

Pertanyaan seperti “ngecas di mana” masih menjadi yang paling umum. Selain itu, calon pembeli juga ingin memastikan motor tetap aman saat terkena hujan dan tidak menimbulkan risiko kelistrikan.

Konsumen juga masih mempertimbangkan aspek fungsional sebelum membeli. Jarak tempuh, kemampuan membawa dua penumpang, serta performa saat menanjak tetap menjadi bahan evaluasi utama sebelum mereka memutuskan beralih dari motor berbahan bakar minyak.

Bagi Alva, jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu tidak cukup hanya lewat promosi produk. Perusahaan menilai penguatan ekosistem menjadi faktor penting agar calon konsumen merasa lebih aman saat beralih ke motor listrik.

Ekspansi jaringan pengisian jadi penopang

Pengembangan infrastruktur menjadi salah satu fokus utama Alva sepanjang 2026. Pada akhir 2025, perusahaan memiliki 180 konektor di 150 lokasi.

Dalam waktu enam bulan hingga Juni 2026, jumlah itu naik menjadi 355 konektor di 170 lokasi. Alva menyebut rata-rata pemasangan mencapai satu konektor baru setiap hari selama 2026.

Secara geografis, jaringan pengisian daya Alva diklaim menjadi yang terbesar untuk roda dua di Indonesia. Koridor utama Jawa-Bali juga disebut sudah terhubung penuh.

Beberapa rute yang telah terlayani antara lain Jakarta-Bandung via Puncak, jalur lingkar Jawa Tengah dari Semarang, Salatiga, Solo, hingga Yogyakarta, serta kawasan Surabaya, Gresik, dan Malang. Jaringan ini disiapkan untuk menjawab kekhawatiran pengguna terhadap akses pengisian saat bepergian.

Ekspansi tidak berhenti di Pulau Jawa. Alva juga sudah merambah Medan, Palembang, dan Kalimantan Timur, serta menyebut Makassar sebagai wilayah berikutnya yang akan disasar dalam waktu dekat.

Efek pengalaman pengguna

Alva juga membaca adanya efek promosi organik dari pengguna lama. Konsumen yang sudah membeli dan merasakan manfaat motor listrik disebut mulai merekomendasikannya kepada orang di sekitar mereka.

Pola ini memperlihatkan bahwa keputusan beralih ke motor listrik tidak hanya dipengaruhi iklan atau insentif. Pengalaman penggunaan sehari-hari dan rasa hemat yang dirasakan langsung ikut membentuk permintaan baru di pasar.

Di tengah kenaikan harga BBM nonsubsidi, perubahan itu menjadi sinyal penting bagi industri. Saat konsumen mulai menimbang biaya harian secara lebih cermat, motor listrik seperti Alva mendapat ruang lebih besar untuk dipertimbangkan sebagai kendaraan utama.

Source: oto.detik.com
Terbaru