Regulasi baru China justru memberi angin segar bagi hilirisasi nikel Indonesia. Aturan itu menunjukkan peralihan ke baterai solid-state tidak akan berlangsung secepat harapan sebagian pasar, sehingga kebutuhan terhadap baterai konvensional dan bahan bakunya masih akan bertahan lebih lama.
Mulai 1 Juli 2026, China akan memberlakukan standar nasional GB/T 43568-2026 yang memperjelas klasifikasi baterai solid-state dan baterai hibrida. Baterai yang masih mengandung elektrolit cair 5-20 persen akan masuk kategori semi-solid-state, sementara baterai solid-state murni harus menurunkan kandungan elektrolit cair di bawah 5 persen dan memenuhi syarat teknis lain terkait stabilitas termal.
Aturan itu menjadi sinyal penting bagi industri karena transisi ke solid-state penuh tampak lebih bertahap. Artinya, baterai hibrida masih bisa menjadi jembatan teknologi sebelum produksi massal solid-state benar-benar siap.
Pabrik Lama Masih Relevan
Salah satu dampak paling besar dari regulasi baru ini adalah masih kuatnya peran fasilitas produksi baterai yang sudah ada. Evaluasi industri menunjukkan lini produksi lithium-ion yang digunakan luas saat ini masih kompatibel dengan baterai semi-solid-state generasi awal.
Bahkan, modifikasi peralatan yang dibutuhkan untuk memproduksi baterai hibrida itu diperkirakan kurang dari 10 persen. Kondisi ini membuat aset manufaktur milik CATL, BYD, Gotion High-tech, CALB, dan Eve Energy belum terancam usang dalam waktu dekat.
Situasi tersebut juga menekan asumsi pasar yang sebelumnya memperkirakan akan terjadi gelombang investasi besar-besaran saat solid-state muncul. Produsen kini punya ruang untuk terus memaksimalkan fasilitas yang sudah ada sambil menunggu teknologi baru benar-benar matang.
Belanja Modal Masih Tinggi
Pengembangan lini produksi khusus solid-state tetap membutuhkan biaya besar. Estimasi industri menyebut pembangunan fasilitas produksi solid-state memerlukan belanja modal sekitar 400 juta yuan hingga 500 juta yuan per GWh.
Biaya itu memang diproyeksikan turun menjadi sekitar 200 juta yuan per GWh pada 2030. Namun, angka tersebut masih jauh lebih mahal dibanding optimalisasi fasilitas baterai konvensional yang sudah tersedia.
Karena itu, banyak produsen memilih jalur transisi bertahap lewat baterai semi-solid-state. Strategi ini memberi ruang bagi perusahaan untuk menjaga efisiensi investasi sekaligus mengurangi risiko teknologi yang masih berkembang.
Hambatan Teknis Belum Hilang
Meski narasi tentang solid-state terus menguat, hambatan teknisnya belum selesai. CATL sebelumnya menyebut teknologi itu masih menghadapi sejumlah kendala rekayasa sebelum dapat diproduksi secara luas.
Penelitian Akademi Ilmu Pengetahuan China juga menilai sistem antarmuka baterai solid-state masih memerlukan pengujian siklus jangka panjang sebelum naik ke skala industri. Karena itu, proyek yang berjalan di sejumlah perusahaan masih lebih banyak berfungsi sebagai fasilitas demonstrasi teknologi.
Contohnya antara lain proyek baterai 60 Ah milik Eve Energy dan fasilitas percontohan berkapasitas 2 GWh yang dikembangkan Gotion High-tech. Langkah-langkah ini menunjukkan bahwa industri masih bergerak hati-hati, bukan melompat langsung ke produksi massal.
Dominasi Baterai Cair Belum Tergeser
Data instalasi baterai kendaraan listrik di China memperlihatkan teknologi baterai cair masih menjadi tulang punggung pasar. CATL memimpin dengan kapasitas pemasangan 33,08 GWh atau 46,7 persen pangsa pasar.
BYD berada di posisi kedua dengan 11,87 GWh atau sekitar 16,8 persen, disusul Gotion High-tech sebesar 4,44 GWh. CALB mencatat 4,3 GWh, sedangkan Eve Energy berada di 3,23 GWh.
Skala itu menegaskan industri kendaraan listrik global masih sangat bergantung pada baterai yang diproduksi massal saat ini. Selama dominasi tersebut bertahan, perubahan teknologi ke solid-state penuh juga akan berlangsung dalam ritme yang lebih panjang.
Bagi Indonesia, kondisi ini memberi waktu tambahan untuk memperkuat rantai pasok baterai yang sedang dibangun. Jika transisi solid-state bergerak lebih lambat, permintaan bahan baku utama baterai konvensional seperti nikel masih berpeluang bertahan dalam jangka menengah.







