Anggapan bahwa Peugeot lawas gampang overheat masih cukup kuat, terutama untuk model keluaran 1990-an. Namun bengkel spesialis Peugeot menilai masalah itu tidak sesederhana menyebut mesin Peugeot mudah panas.
Hadi Taruna, pemilik bengkel spesialis Peugeot EngineBlock Autoworks di Bintaro, Tangerang Selatan, menjelaskan sumber persoalannya justru banyak terkait sistem pendingin. Menurut dia, karakter pendingin Peugeot berbeda dari mobil Jepang yang lebih umum dikenal pemilik kendaraan di Indonesia.
Perbedaan ini membuat banyak pengguna salah membaca gejala kerja suhu mesin. Pada Peugeot, suhu kerja mesin memang relatif tinggi, yakni sekitar 90 derajat Celsius, sehingga tidak otomatis menunjukkan adanya gangguan.
Hadi mengatakan cooling sensor pada sistem itu baru ikut mengaktifkan kipas saat temperatur sudah sekitar 105 derajat Celsius. Karena itu, kenaikan suhu yang terlihat belum tentu berarti mesin sedang mengalami overheat.
Sistem kipas dua tingkat
Peugeot menggunakan sistem kipas dua tingkat, yaitu low speed dan high speed. Saat AC dinyalakan, kipas tidak langsung bekerja maksimal karena sistem lebih dulu mengaktifkan putaran rendah.
Skema ini berbeda dengan mobil Jepang yang umumnya mengandalkan cooling sensor untuk kipas pendingin. Pada mobil Jepang, saat AC menyala, kipas AC akan terus bekerja, sementara kipas mesin mengikuti temperatur mesin.
Menurut Hadi, pada Peugeot performa pendinginan sangat dipengaruhi kondisi freon. Ketika tekanan freon tidak mencukupi, kipas kecepatan tinggi tidak akan aktif meski suhu mesin terus meningkat.
Kondisi itu menjadi salah satu sumber kesan bahwa Peugeot lawas mudah mengalami panas berlebih. Padahal masalahnya bukan semata pada mesin, melainkan pada cara sistem pendingin bekerja dan syarat aktivasi kipas high speed.
Jika tekanan freon kurang, tekanan yang dibutuhkan tidak tercapai sehingga kipas high speed tidak menyala. Akibatnya, suhu mesin bisa cepat naik dan pengguna menganggap mobil memang punya bawaan mudah overheat.
Iklim tropis bikin beban lebih berat
Hadi menilai iklim tropis seperti di Indonesia ikut memperberat kerja sistem pendingin Peugeot lawas. Cuaca panas membuat AC lebih sering aktif, sehingga kipas dan komponen kelistrikannya bekerja lebih keras.
Saat kompresor AC lebih sering bekerja, tekanan freon ikut tinggi dan kipas high speed lebih sering menyala. Beban yang lebih besar ini berbeda dengan kondisi di negara bersuhu lebih dingin.
Efek lanjutannya muncul pada komponen pendukung, terutama relay dan sekring. Komponen ini disebut lebih cepat aus, bahkan bisa meleleh ketika beban kerja terus tinggi.
Menurut Hadi, justru di titik inilah masalah yang sering dianggap overheat sering terjadi. Ketika relay gosong atau sekring putus, kipas tidak bekerja dan suhu mesin langsung naik.
Karena itu, isu Peugeot lawas gampang panas lebih tepat dilihat sebagai persoalan komponen pendukung kipas. Mesin bukan disebut memiliki desain yang mudah overheat, melainkan sistem pendukungnya bekerja lebih berat dan umur pakainya lebih cepat habis.
Poin yang perlu diperiksa saat servis
Pemeriksaan rutin relay dan sistem kipas menjadi langkah pencegahan yang disarankan. Hadi menyebut pemilik yang masih mempertahankan sistem standar sebaiknya memeriksa kondisi relay secara berkala.
Pemeriksaan itu bisa dilakukan setiap servis 10.000 sampai 20.000 kilometer. Langkah ini dinilai penting untuk mencegah kipas gagal bekerja saat dibutuhkan.
Selain itu, ada juga pemilik yang menambah trigger terpisah untuk mengaktifkan kipas high speed berdasarkan suhu. Dengan cara ini, aktivasi kipas tidak hanya bergantung pada tekanan freon.
Meski begitu, Hadi menegaskan relay tetap menjadi titik perhatian utama. Sebab ketika relay rusak, kipas tetap tidak akan bekerja meskipun ada upaya modifikasi pada pemicu sistem.
Penjelasan ini menunjukkan bahwa stigma Peugeot lawas gampang overheat tidak bisa dilepaskan dari karakter teknis mobil tersebut. Sistem pendinginnya memang berbeda, suhu kerjanya cenderung lebih tinggi, dan kondisi pemakaian di Indonesia membuat komponen kipas bekerja lebih berat.
Selama relay, sekring, tekanan freon, dan sistem kipas dijaga dalam kondisi baik, sumber masalah yang kerap memicu anggapan overheat dapat ditekan. Dengan begitu, isu panas berlebih pada Peugeot lawas lebih banyak berkaitan dengan perawatan sistem pendingin daripada kelemahan dasar pada mesinnya.
