Koruptor kerap tidak menaruh nama sendiri pada mobil atau motor mewah yang mereka kuasai. Modus itu dipakai agar harta terlihat tidak ada di atas kertas, padahal kendali atas aset tetap berada di tangan pemilik sebenarnya.
Komisi Pemberantasan Korupsi mengungkap praktik tersebut saat memamerkan barang rampasan dari perkara pemerasan dan gratifikasi pengurusan sertifikat keselamatan dan kesehatan kerja di Kemnaker. Kasus itu melibatkan mantan Wamenaker Immanuel Ebenezer atau Noel sebagai salah satu terpidana.
Direktur Pelacakan Aset, Pengelolaan Barang Bukti, dan Eksekusi KPK, Mungki Hadipratikto, menyebut pola meminjam identitas orang lain untuk menyembunyikan harta sudah sering ditemui. Menurut dia, pelaku tindak pidana korupsi hampir jarang membeli aset dengan memakai nama sendiri.
Mungki menjelaskan, cara kerja modus itu sejalan dengan prinsip beneficiary ownership. Seseorang terlihat seperti tidak memiliki apa-apa, tetapi sebenarnya mengendalikan seluruh aset melalui nama orang-orang yang berkaitan dengannya.
Praktik itu membuat penelusuran kepemilikan kendaraan mewah menjadi lebih rumit. Nama di STNK atau BPKB belum tentu mencerminkan pihak yang sesungguhnya menikmati dan menguasai aset tersebut.
Aset mewah yang dipamerkan
Di Rumah Penyimpanan Benda Sitaan dan Barang Rampasan KPK, deretan kendaraan hasil rampasan dipamerkan kepada publik. Jumlahnya mencapai 19 mobil dan 6 motor.
Selain kendaraan roda empat dan roda dua, KPK juga memperlihatkan sejumlah barang terkait otomotif. Di antaranya ada velg Porsche, knalpot motor, jaket, dan helm.
Barang-barang itu berasal dari perkara yang sama dan akan dijual untuk umum melalui sistem lelang pada Desember mendatang. Pameran aset itu sekaligus menunjukkan bahwa hasil korupsi kerap diwujudkan dalam bentuk barang mewah yang mudah dipakai, namun tidak selalu mudah dibuktikan kepemilikannya.
Fenomena ini menjelaskan mengapa garasi mewah tidak selalu identik dengan nama pemilik yang tercantum di dokumen resmi. Dalam banyak kasus, identitas formal justru dipakai sebagai lapisan penyamaran.
Cara KPK memburu harta tersembunyi
KPK menempuh dua jalur untuk menemukan aset yang disembunyikan. Jalur pertama adalah tindakan langsung di lapangan, termasuk lewat penggeledahan yang dilakukan secara sinergi oleh tim penyidik, penyelidik, dan Labuksi.
Dari jalur ini, barang-barang yang selama ini dikuasai pelaku atau orang-orang di sekitarnya bisa ditemukan secara fisik. Kehadiran aset di lokasi tertentu kemudian menjadi pintu awal untuk menelusuri siapa pengendali sebenarnya.
Jalur kedua adalah operasi pelacakan aset. Dalam tahap ini, tim Labuksi bekerja sama dengan berbagai lembaga negara dan pihak swasta untuk merangkai jejak kepemilikan serta aliran transaksi.
Untuk properti, KPK bekerja sama dengan BPN. Untuk kendaraan, KPK menggandeng ATPM-ATPM, serta berkoordinasi dengan PPATK dan LHKPN.
Kolaborasi itu penting karena kepemilikan semu biasanya tersebar di banyak dokumen dan institusi. Satu data saja tidak cukup untuk membuktikan bahwa sebuah kendaraan atau properti sebenarnya berasal dari hasil korupsi.
Mungki mengakui mekanisme membongkar pemilik asli kendaraan mewah memang tidak sederhana. Tim pelacakan aset harus turun ke lapangan lalu menghubungkan kepemilikan formal dengan bukti-bukti transaksi.
Dari situlah potongan-potongan informasi disusun menjadi satu rangkaian yang utuh. KPK kemudian mencocokkan aset yang ditemukan dengan uang yang diterima pelaku, meski pembelian dilakukan atas nama pihak lain.
Nama pinjaman, kendali tetap di tangan pelaku
Pola ini membuat pelaku tampak bersih dalam administrasi. Namun di dunia nyata, kendaraan tetap dipakai, disimpan, atau dikuasai oleh lingkaran yang terhubung dengan pelaku.
Karena itu, penanganan aset hasil korupsi tidak berhenti pada siapa nama yang tertulis di dokumen. Penyidik perlu membuktikan hubungan antara penerimaan uang, pembelian aset, pemakaian barang, dan pihak yang mengendalikan semuanya.
Pameran barang rampasan di Rupbasan KPK memberi gambaran konkret tentang bagaimana hasil korupsi disamarkan. Deretan mobil, motor, dan aksesori otomotif yang tampak mewah itu menunjukkan bahwa penyembunyian harta bisa dilakukan dengan cara yang rapi, tetapi tetap bisa dilacak melalui kombinasi penggeledahan, pelacakan aset, dan pembuktian transaksi.
