Honda Giorno+ masih absen dari Indonesia bukan karena kurang menarik, melainkan karena pertimbangan bisnis yang sangat kuat. Di pasar yang sudah ramai oleh skutik retro milik Honda sendiri, kehadiran model ini justru berpotensi memicu tumpang tindih penjualan.
Itu sebabnya PT Astra Honda Motor (AHM) belum menunjukkan tanda-tanda akan memboyong Giorno+ ke Tanah Air. Padahal, skutik retro modern ini sudah lebih dulu dipasarkan di Thailand dan mendapat respons positif di sana.
Pasar retro Honda di Indonesia sudah penuh
Daya tarik Giorno+ memang sulit diabaikan. Desainnya membulat dengan nuansa klasik modern, lalu dipadukan dengan fitur praktis yang membuatnya terlihat berbeda dari banyak motor matic lain.
Motor ini dibekali bagasi sekitar 30 liter, tangki bahan bakar dengan pengisian di bagian depan, lampu LED, Smart Key System, panel instrumen digital-modern, serta mesin 125 cc berpendingin cairan. Kombinasi itu membuat banyak penggemar roda dua di Indonesia penasaran, tetapi pasar lokal sudah memiliki banyak pilihan sekelasnya.
AHM saat ini punya Honda Genio, Honda Scoopy, dan Honda Stylo 160 di segmen tersebut. Masing-masing model sudah punya posisi pasar yang jelas, mulai dari konsumen pemula, pecinta skutik retro, hingga pembeli yang menginginkan performa lebih tinggi.
Jika Giorno+ masuk, risiko terbesar adalah kanibalisme produk. Artinya, motor baru itu bisa merebut calon pembeli dari produk Honda lain yang sudah lebih dulu dijual di Indonesia.
Stylo 160 lebih sesuai dengan arah pasar
Salah satu alasan lain ada pada strategi produk Honda di Indonesia. Dalam beberapa tahun terakhir, pasar domestik terlihat lebih menyukai motor dengan kapasitas mesin yang lebih besar.
Karena itu, Honda memilih menghadirkan Stylo 160 sebagai pemain retro premium, bukan Giorno+ yang masih memakai mesin 125 cc. Keputusan ini dianggap lebih sejalan dengan selera konsumen Indonesia yang sering menjadikan tenaga mesin sebagai pertimbangan utama sebelum membeli.
Stylo 160 juga punya modal performa yang lebih kuat untuk pemakaian harian maupun perjalanan jarak jauh. Dengan mesin eSP+ 160 cc, model ini dinilai lebih mampu menjawab kebutuhan pengguna Indonesia dibanding Giorno+.
Selera konsumen Indonesia dan Thailand tidak sama
Perbedaan karakter pasar juga ikut menentukan. Di Thailand, skutik retro bermesin 125 cc masih sangat diminati karena konsumen lebih menekankan desain, efisiensi bahan bakar, dan kemudahan penggunaan.
Di Indonesia, pertimbangannya cenderung lebih kompleks. Banyak pembeli ingin motor yang menarik secara visual sekaligus bertenaga, apalagi dengan kondisi jalan yang beragam, tanjakan di sejumlah wilayah, dan kebutuhan membawa penumpang.
Dalam situasi seperti itu, Stylo 160 dinilai lebih cocok untuk ekspektasi pasar lokal. Giorno+ memang punya karakter yang menarik, tetapi kebutuhan pengguna Indonesia membuat opsi bermesin lebih besar terasa lebih masuk akal bagi Honda.
Faktor produksi juga ikut menahan langkah
Alasan lain yang jarang dibahas ada pada efisiensi produksi. Giorno+ memakai platform dan konstruksi yang berbeda dari sebagian besar skutik Honda yang diproduksi di Indonesia.
AHM sudah menanam investasi besar pada lini produksi dengan rangka eSAF untuk model seperti Scoopy dan Genio. Jika Giorno+ diproduksi lokal, Honda harus menyesuaikan jalur produksi lagi, dan itu membutuhkan biaya tambahan.
Dari sisi bisnis, penyesuaian tersebut belum tentu sepadan jika potensi penjualannya belum cukup besar. Karena itu, membawa Giorno+ ke Indonesia bukan keputusan yang sederhana meski motor ini punya daya tarik visual yang kuat.
Belum lebih unggul dari jajaran yang sudah ada
Secara fitur, Giorno+ memang menawarkan beberapa kelebihan yang praktis untuk pemakaian sehari-hari. Namun spesifikasinya belum tentu lebih unggul dibanding produk Honda yang sudah dijual di Indonesia.
Stylo 160, misalnya, sudah menawarkan mesin 160 cc eSP+, ABS pada varian tertinggi, rem cakram depan dan belakang, Honda Smart Key, serta traction control pada beberapa model Honda premium. Dengan bekal itu, Honda punya alasan kuat untuk tetap menjadikan Stylo sebagai ujung tombak di segmen retro premium.
Masih ada peluang, tetapi jalurnya berat
Peluang Giorno+ masuk Indonesia tetap terbuka, terutama jika tren motor retro terus berkembang. Namun hingga sekarang belum ada indikasi resmi dari AHM soal rencana menghadirkan model ini.
Jika pun masuk, jalurnya kemungkinan melalui CBU atau importir umum. Konsekuensinya, harga akan jauh lebih tinggi karena pajak impor, biaya pengiriman, dan proses homologasi.
Pada akhirnya, absennya Honda Giorno+ di Indonesia lebih dipicu oleh strategi pasar, efisiensi produksi, dan posisi produk yang sudah dipenuhi model lain. Bagi penggemar skutik retro bergaya Eropa, Giorno+ tetap jadi salah satu motor yang paling diharapkan hadir resmi di pasar Indonesia.
