Pasar sedan di Indonesia memang tidak lagi seramai dulu, tetapi angka penjualan terbaru menunjukkan model ini belum sepenuhnya kehilangan peminat. Hingga periode Januari-Mei 2026, sedan masih terjual 1.440 unit, meski angka itu turun dari 2.270 unit pada periode yang sama tahun lalu.
Di tengah dominasi SUV dan MPV, sedan kini bergerak di ceruk yang jauh lebih kecil. Data penjualan juga menunjukkan penurunan tajam setelah sempat naik dalam beberapa tahun sebelumnya, sehingga pertanyaannya bukan lagi apakah sedan laku, melainkan seberapa kuat sisa pasarnya bertahan.
Pasar yang menyusut cepat
Tren penurunan sedan terlihat jelas dalam beberapa tahun terakhir. Penjualannya tercatat 5.359 unit pada 2021, lalu naik menjadi 8.206 unit pada 2022, 8.944 unit pada 2023, dan 10.340 unit pada 2024.
Namun setelah itu, pasar sedan langsung jatuh menjadi 4.944 unit. Periode Januari-Mei 2026 belum memberi sinyal pemulihan karena baru menyentuh 1.440 unit, lebih rendah dibanding pencapaian periode yang sama setahun sebelumnya.
SUV dan MPV masih jadi magnet utama
Kondisi ini tidak lepas dari pergeseran selera konsumen ke SUV dan MPV. Kedua jenis mobil itu dianggap lebih praktis karena bisa dipakai di berbagai kondisi jalan dan menawarkan kabin yang lebih lega untuk penumpang maupun barang.
Tren tersebut juga terlihat jelas di Indonesia, terutama pada model entry level yang banyak diburu. Di sisi lain, sedan justru sering dipandang kurang fleksibel karena ground clearance lebih rendah dan lebih cocok untuk jalan yang rata.
Sedan kian identik dengan segmen mewah
Harga juga ikut membentuk persepsi pasar terhadap sedan. Jika banderolnya terlalu tinggi dan ruang kabinnya tidak cukup luas, konsumen cenderung mengalihkan pilihan ke model lain yang dianggap lebih fungsional.
Akibatnya, sedan kini makin identik dengan mobil mewah. Banyak merek yang masih bermain di segmen ini, mulai dari Mercedes-Benz, BMW, Toyota-Lexus, Hyundai, Volvo, hingga Mazda.
Pabrikan tetap mempertahankan lini sedan
Meski penjualannya tidak setinggi SUV, pabrikan belum meninggalkan sedan sepenuhnya. Mereka tetap menyediakan pilihan bagi konsumen yang mencari mobil pribadi, ingin koleksi berbeda, atau mengincar model dengan karakter tertentu.
Sebagian merek juga masih menawarkan sedan ramah lingkungan dan sedan berperforma tinggi. Model seperti ini umumnya dijual dalam jumlah terbatas, sehingga posisinya lebih sebagai produk citra dan pelengkap portofolio ketimbang andalan volume.
BMW dan Mercedes-Benz menjadi contoh paling jelas. Keduanya tahu SUV mereka lebih diminati, tetapi tetap mempertahankan sedan, termasuk model anyar BMW di lini M-Series yang dibanderol mahal karena mengusung performa tinggi.
BYD dan merek China lain pilih fokus berbeda
Di kubu merek China, BYD baru menjual satu sedan di Indonesia, yakni Seal. Namun performa Seal disebut belum sekuat Atto 1 maupun M6, dan Atto 1 yang lebih kecil justru masih bisa terjual ribuan unit hingga bulan lalu.
Perbedaan harga tampaknya ikut memengaruhi minat pasar, karena Atto 1 dibanderol lebih terjangkau daripada Seal. Dengan catatan penjualan yang belum menonjol, BYD disebut belum akan merakit lokal Seal untuk saat ini.
Sementara itu, merek China lain seperti Geely, Chery, dan XPeng masih memilih fokus berjualan SUV. Pilihan itu mempertegas arah pasar saat ini, ketika sedan tetap hadir, tetapi ruang geraknya semakin sempit dibandingkan model yang lebih tinggi dan serbaguna.
